CULINARY
Fakta di balik ketiadaannya label halal pada makanan luar negeri
2017-12-07 17:30:00

Ambigu, Ini Fakta Tidak Adanya Label Halal Pada Makanan Luar Negeri

BY DINA LATHIFA

SALIHA.ID - Halal adalah faktor penting yang tidak bisa dikesampingkan muslim dalam memilih produk konsumsi, seperti makeup, skincare, makanan, dan minuman. Hal ini kemudian menjadi perhatian para brand luar negeri yang ingin melebarkan segmentasi pasarnya ke masyarakat maupun negara dengan mayoritas agama Islam, salah satunya Indonesia.

Upaya dari berbagai lembaga masing-masing negara terus dilakukan untuk bisa mendapatkan label 'halal' oleh organisasi berwenang di negara sendiri maupun di negara tujuan ekspor, di Indonesia adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Namun, dibutuhkan proses panjang untuk mendapatkan cap penting itu. Karena bagi masyarakat muslim di Tanah Air, produk tanpa lambang resmi dari MUI akan menimbulkan keraguan untuk mengonsumsinya.

"Kami sangat menyadari pentingnya cap halal untuk masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah muslim. Sebagai lembaga kenegaraan, kami berusaha untuk membantu para perusahaan yang ingin memasukkan produk mereka ke Indonesia, dan tentunya untuk mendapat label halal dari MUI," ujar Ms. Choi Hyong Soon, Assistant Chef Representative dari aT (Korea Agro-Trade Center) saat ditemui beberapa waktu lalu.

Wanita muda ini menjelaskan sebelumnya kalau tidak semua produk Korea yang masuk ke Tanah Air dipasarkan untuk penduduk muslim sehingga tidak mendaftar ke MUI. Namun beberapa produk yang dikategorikan sebagai makanan dan minuman halal, sudah lebih dulu mendapatkan sertifikat serta persetujuan dari lembaga halal berwenang di negerinya sendiri, di Negeri Ginseng.

"Menurut informasi yang aT terima, perusahaan yang ingin memasarkan makanan dan minuman halal, memiliki pabrik terpisah khusus untuk memproduksi produk halal itu. Tentunya, di negara kami sendiri sudah lulus uji halal dari lembaga berwenang. Namun memang untuk mendapatkan label MUI itu yang membutuhkan proses panjang. Karena itu, ada beberapa produk yang terkesan ambigu," ujar Ms. Choi.

Sertifikat halal dari MUI untuk Samyang, dipajangkan pada pamera SIAL Interfood Jakarta November 2017

Mengenai adanya kabar beberapa mie instan yang terbukti tidak halal, pihaknya mengaku kalau memang ada yang diproduksi bukan untuk muslim. Namun, ia juga menjelaskan kalau isu ini muncul akibat ulah importir 'nakal'.

"Kami juga turut sedih karena konsumen kami yang muslim jadi tidak bisa menikmati beberapa produk dari Korea Selatan. Segera mungkin kami akan mengusutnya."

Salah satu brand yang terkena isu ini adalah Samyang. Ramen instan yang terkenal paling pedas di dunia ini memang sempat tersandung isu non-halal di Indonesia karena tidak ada label halal tertera di kemasannya.

Sertifikat halal MUI untuk produk Samyang varian original dan keju

Namun kini, keraguan itu sudah terjawab. Pada pameran SIAL Interfood Jakarta yang berlangsung pada tanggal 22-25 November 2017 lalu, Samyang yang didistribusikan PT Korinus sudah mendapatkan cap halal dari MUI. Sertifikat itu pun dipajang di dalam arena booth yang besar, di antara beragam varian rasa Samyang. Melalui sertifikat itu, diketahui kalau ramen Samyang yang dicap halal adalah rasa original dan keju.

"Satu brand bisa memiliki varian halal dan non-halal. Jadi bagi konsumen muslim, dapat melihat dari rasa mienya, bukan dari brand-nya. Lagi, makanan halal diproduksi secara terpisah karena memiliki pabrik sendiri," tutur Ms. Choi mengakhiri wawancara.  

RECOMMENDED FOR YOU