DUNIA MAYA
2017-10-05 14:41:00

Babak Baru dalam Menjaga Amanah Allah

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Jetlag belum habis di malam kedua kami di mesir. Entah jam berapa saya ketiduran setelah waktu Isya di sini, tapi ketika saya tidur anak-anak masih asik bermain dan ngobrol. Mereka masih kangen...

Ketika tubuh saya diguncangkan dan ternyata itu si bungsu yang minta diantar ke toilet, saya lihat semua sudah tertidur (Kami ditempatkan di flat 3 kamar, tapi kami berkumpul di 1 kamar dgn 4 tempat tidur). Saat itu jam 10 malam waktu Mesir dan lampu kamar masih menyala.

Ketika si bungsu sudah naik kembali ke atas ranjangnya, saya yang sudah puas tidur malah tak bisa lagi memejamkan mata. Setelah mematikan lampu, saya putuskan untuk tidur di kasur yang sama dengan si nomer dua. Saya pandang-pandangi wajahnya yang kini sangat tirus. Tadi sore, bersama mereka saya lihat-lihat lagi video youtube yang kami buat tahun lalu ketika mengantar mereka pertama kali ke sini. Pipi yang masih gembil, suara yang masih khas anak-anak... Ya, mereka sudah baligh sekarang...

Terus terang saya sebenarnya terkejut mendapati mereka sudah baligh di usia ini. Setau saya, anak laki-laki lebih lambat baligh daripada perempuan. Dan karena ini pengalaman pertama saya mempunyai anak baligh, terlebih proses mereka baligh tanpa ada saya di sisi mereka, terus terang saya masih meraba-raba bagaimana memperlakukan mereka. Sifat anak-anak mereka tentu masih ada, tapi ada kedewasaan yang juga sudah banyak terlihat. Tentu saja saya tak bisa memperlakukan mereka sebagaimana dulu lagi.

Ya, sebulan ke depan insyaallah saya punya waktu untuk mendalami dan memahami segala perubahan pada diri mereka. Karena, seumur hidup mereka akan jadi tanggung jawab bagi kami orangtuanya. Maka saya harus paham benar terhadap amanah Allah ini, agar tak ada dari kami yang akan saling menyeret masuk ke dalam neraka kelak.

BACA JUGA:

Luka di hati anak kita 

Bakat anak kita yang berharga 

Satu yang saya syukuri, mereka melewati proses menuju baligh dalam lingkungan dan situasi yang baik. Mereka bergaul dengan orang-orang yang berinteraksi dengan al-Qur'an, mereka melewati hari-hari dalam iklim jihad menuntut ilmu dan kesederhanaan. Sungguh baik Allah mentarbiyah mereka. Benar-benar Allah menjawab kepasrahan saya ketika meninggalkan mereka setahun lalu.

Dan kini, saya kembali berharap agar Allah meneguhkan kebaikan ini dalam dada anak-anak kami. Bahwa iman itu naik turun, itu sunnatullaah. Tapi semoga mereka tidak pernah berada di luar jalur saat iman mereka sedang mengendur.

Sambil membelai rambut si nomer dua dan sesekali melempar pandang pada si sulung di kasur sebelah, saya mendesah pelan. "Aah, berat memang amanah ini. Kalau bukan atas pertolongan Allah, mungkin tak akan selamat kami dari hisab nanti."

Semoga kita semua sebagai orangtua, benar-benar menjaga anak sebagai titipan Allah. Karena bagaimana wajah dunia dan agama di masa depan, adalah sebagaimana kita mendidik anak2 kita saat ini. Dan seperti apa nasib kita di akhirat nantinya, salah satunya adalah dalam kondisi apa kita meninggalkan anak-anak kita di dunia kelak.

Beri kami kekuatan yaa Robb...

Omroniyah, Mesir, 4 Oktober 2017.

Maya Hayati. Lahir di Jakarta 35 tahun silam dan menamatkan pendidikan terakhirnya sebagai sarjana hukum dari Universitas Diponegoro. Alih-alih meneruskan cita-citanya menjadi lawyer, ia malah memutuskan mendedikasikan sepenuh waktunya untuk mendidik anak-anaknya homeschooling dan mengembangkan dakwah Alquran bersama suaminya. Kini hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan dunia tulis menulis. Kenal lebih dekat dengan Maya di sini

RECOMMENDED FOR YOU