DUNIA MAYA
2017-09-04 14:30:00

Tiga Waktu Bening

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Di tahun-tahun awal kami menjadi orangtua, saya dan suami belum memiliki konsep yang utuh tentang homeschooling yang akan kami jalani.

Semua hanya mengalir begitu saja. Walau sekarang pun kami masih menjadikan 4 orang anak kami sebagai laboratorium atau tepatnya kelinci percobaan (ih maaf ya, nak) untuk pengembangan pesantren yang kami punya, 14 tahun lalu kami belum banyak memiliki referensi tentang homeschooling apalagi materi parenting. Kami cuma berbekal insting, pengalaman dan baca-baca shiroh dan kisah shalafush shalih, atau buku-buku psikologi populer.

Satu-satunya buku tentang homeschooling yang saya baca adalah buku berjudul "Ibuku Guruku". Saya ingat covernya merah, bergambar ilustrasi seorang ibu berambut pirang dan anak lelakinya, ditulis oleh seorang ibu praktisi homeschooling dari Amerika (kalau tidak salah) yang namanya pun saya lupa karena bukunya entah ke mana (inilah nasib sering berpindah rumah), dan ukurannya walau cukup tebal namun hanya seperti pocket book. Buku yang inspiratif di mana begitu sekali membacanya, saya memutuskan tak akan baca buku lain tentang homeschooling, karena khawatir pandangan saya tentang homeschooling yang akan saya jalani bergeser. Karena saya sudah sreg dengan pola yang diterapkan si penulis.

BACA JUGA: Bakat anak kita yang berharga 

Maka setelah jelas model homeschooling yang akan kami jalani, kami tinggal menemukan fokus apa yang ingin kami capai bersama anak-anak kami. Dan menghafal Alquran, baru Allah antarkan idenya menjelang putra sulung saya berusia 4 tahun, di mana saat itu saya sudah mengandung anak ketiga. Ibu saya yang menggedor kesadaran saya setelah beliau menyerah atas keputusan saya untuk tidak menyekolahkan anak.

"Yuk, kamu kan senang menghafal Alquran," di rumah saya dipanggil Ayuk, karena ayah saya orang Palembang. "Coba anak kamu sering-sering dibacakan Alquran. Siapa tahu bisa hafal."

Oh iya juga, ya. Sejauh ini anak pertama dan kedua saya baru saya biasakan utk gemar membaca. Buku anak-anak sudah banyak sekali yang kami beli dan kami bacakan. Selain itu juga, saya sediakan aneka games pelatih fokus, seperti puzzle, lego (lego zaman dulu ya, yang ukurannya besar-besar), dan si sulung juga mulai belajar membaca. Tapi untuk menghafal Alquran, kenapa saya belum mulai? Padahal hampir setiap hari saya menghafal Alquran.

Mulailah saya membacakan anak-anak kami ayat-ayat Alquran secara khusus. Tapi waktu itu masih serampangan saja. Sesempatnya dan tanpa program terencana sehingga hasilnya juga tak terlihat. Sampai suatu waktu, saya bertemu dengan seorang dosen ITB yang ternyata juga praktisi homeschooling.

Mendengarnya memaparkan homeschooling versinya, saya tak begitu tertarik. "Saya sudah punya konsep saya sendiri", kata saya dalam hati. Tapi saya begitu antusias dan bersyukur atas pemaparannya tentang hasil penelitian ilmuwan mengenai gelombang otak. Di sana saya pelajari kapan waktu-waktu anak dapat menyerap pelajaran lebih banyak dan lebih efektif.

Dan singkat cerita, saya menyimpulkan bahwa anak-anak akan lebih mudah diajak menghafal Alquran pada tiga waktu: sehabis subuh, sehabis maghrib dan sebelum tidur. Oleh suami saya, tiga waktu yang saya terapkan pada anak-anak kami dalam menghafal Alquran itu, diberi nama tiga waktu bening.

BACA JUGA: Tabungan akhiratku 

Apa yang saya lakukan di tiga waktu bening itu?

Pertama, saat itu suami saya belum menemukan metode menghafal Alquran semudah tersenyum. Saya hanya tahu, bahwa anak-anak dapat menyerap apapun dalam sekali dengar. Kalau diulang-ulang, hasilnya akan lebih cepat lagi. Maka di tiga waktu bening itu, secara tartil saya bacakan anak-anak kami ayat demi ayat mulai dari surat paling akhir dari Alquran, yaitu An-Naas.

Lima kali saja saya bacakan tanpa mereka perlu mengikuti. Malah seringnya, karena mereka masih kecil, mereka sambil bermain atau membaca. Saya hanya minta pada mereka agar tidak bersuara saja saat saya bacakan Alquran.

Kedua, ketika beberapa hari kelihatannya anak-anak kami sudah bisa mengikuti bacaan, saya meminta mereka untuk membacakan sendiri surat yang sudah saya bacakan beberapa hari sebelumnya. Dan subhanallah, benar saja, mereka sudah mampu membacanya persis seperti saya membaca. Cuma agak cadel saja, karena masih kecil.

Ketiga, karena sudah hafal surat yang sebelumnya, maka saya beralih ke surat berikutnya. Begitu terus setiap hari. Saat bertemu dengan surat yang panjang, saya membaginya dalam beberapa bagian.

Tanpa terasa, kurang dari 5 tahun, kedua anak tertua saya sudah hafal 3 juz. Sedikit memang, tapi hafalan mereka sangat lekat. Lagipula, mereka sama sekali belum bisa membaca Alquran.

BACA JUGA : Waktu Mujarab Ajari Anak Membaca Alquran  

Ketika akhirnya kami membuka sekolah tahfizh kami pertama kali, yaitu Kauny Quranic School, metode ini cukup berhasil diterapkan di keluarga awam sekalipun di mana anak-anaknya setiap hari juga masih bersekolah di sekolah umum. Dan qodarullaah, hafalan anak-anak kami dan juga para siswa Kauny Quranic School saat itu, semakin berkembang pesat ketika kami mengombinasikannya dengan metode hafalan Alquran yang Allah anugerahkan pada suami saya, yaitu metode Kauny Quantum Memory yang populer dengan tagline-nya: menghafal Alquran semudah tersenyum.

Alhamdulillah saat ini dua anak tertua kami sudah khatam menghafal 30 juz. Si sulung menyelesaikannya pada saat usianya hanya sebulan menjelang ulangtahunnya ke-13, dan anak kedua kami menyelesaikannya persis ketika usianya 12 tahun.

Kalau disimpulkan, kami hanya perlu mengantarkan mereka beberapa tahun saja untuk sampai dalam kondisi sekarang. Bahkan seingat saya, sampai sekarang saya belum pernah mengajarkan mereka membaca iqro' sampai tuntas. Dan kini saya masih perlu berjuang bersama dua anak terkecil kami. Si nomer 3, yang kini berusia 10 tahun juga sudah mulai belajar menghafal mandiri. Hanya si bungsu saja yang masih sepenuhnya harus dibantu. Kalau kelak mereka atas seizin Allah sudah khatam juga, tinggal saya berjuang untuk diri saya sendiri, insyaallah.

Itulah tiga waktu bening di mana dalam ketiga waktu itu masing-masing mungkin hanya perlu waktu 5 menit, 10 menit, 30 menit. Tapi begitu Allah menguatkan kami berdua untuk istiqomah, mengesampingkan sebentar saja segala kesibukan kami mencari nafkah, mengurus hal-hal domestik, sebentar saja, ternyata hal tersebut menjadi begitu besar artinya.

Dalam bayangan saya, kalau setiap orangtua sesibuk apapun bisa meluangkan waktu hanya sebanyak itu saja dalam sehari, maka bisa jadi akan ada penghafal Alquran di setiap rumah muslimin di Indonesia.

Ini impian saya, dan saya yakin impian banyak orangtua lainnya.

Maya Hayati. Lahir di Jakarta 35 tahun silam dan menamatkan pendidikan terakhirnya sebagai sarjana hukum dari Universitas Diponegoro. Alih-alih meneruskan cita-citanya menjadi lawyer, ia malah memutuskan mendedikasikan sepenuh waktunya untuk mendidik anak-anaknya homeschooling dan mengembangkan dakwah Alquran bersama suaminya. Kini hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan dunia tulis menulis. Kenal lebih dekat dengan Maya di sini

 

RECOMMENDED FOR YOU