DUNIA MAYA
Betapa banyak pernikahan mewah yang saya hadiri, tapi bahkan detailnya pun sudah tak saya ingat lagi ketika kaki beranjak meninggalkan gedung resepsi. Namun acara pagi ini, tak mungkin saya lupa.
2017-08-14 11:55:00

Pernikahan Terindah

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Sebagai perempuan yang sudah menikah, saya selalu iri melihat baju-baju pengantin syari zaman sekarang yang begitu indah. Warna-warna pastel nan lembut dan bikin imut yang memakainya, riasan kepala yang simple tapi bikin manis mempelai wanita, membuat para pengantin muslimah sekarang seakan menjelma menjadi putri-putri dalam negeri dongeng. Kok dulu belum ada pas zaman saya, ya? 

Dekorasi pernikahannya juga lucu-lucu dan membuat saya yang melihatnya, serta merta menjadi histeris. "Sayang...itu..ya ampuuuun. Lucu bangeeettt." Dan setiap saat suami saya akan bertanya, "maksudnya lucu itu apa sih?" Dan saya menjawab dengan jawaban absurd (khas semua wanita), "lucu itu maksudnya bagus banget."

Belum lagi foto-foto pernikahan yang membuat baper setiap akhwat yang melihat (tidak hanya untuk para jomblo, tapi juga perempuan dengan empat anak seperti saya). Seingat saya, dulu pose kami standar saja. Tatap-tatapan, saling melingkarkan lengan di bahu, dan duduk bersebelahan. Itu saja. Tapi para pengarah gaya zaman sekarang, benar-benar ahli membuat foto pernikahan seromantis mungkin.

Pokoknya pernikahan zaman sekarang itu more romantic, more colourful, dan bikin iri perempuan-perempuan kebanyakan ngayal seperti saya ini.

Andai dulu acara pernikahan saya seperti itu... Ah, pasti lebih indah. Itu pikiran saya, sampai tadi pagi, saya menyadari kalau saya sudah membuat kesimpulan yang keliru.

Pagi yang dingin, saya sudah harus mandi dan bersiap untuk pergi ke pernikahan antara dua orang kader kami dalam mengajar Alquran. Yang perempuan adalah pengajar di salah satu rumah tahfizh kami, yang laki2 pun pegiat di setiap acara di mana kami mensyiarkan menghafal Alquran. Anak-anak kami bangunkan dan hanya sempat berwudu dan sikat gigi. Ya, kami pergi pagi-pagi buta karena sudah harus ada di tempat acara pada saat Subuh. Karena memang pernikahannya sendiri diadakan bada Subuh.

Kami mampir salat di masjid sebelum sampai lokasi acara. Selesai salat, kami bertemu mempelai lelaki yang masih berkaus. Rupanya dia salat di masjid itu juga karena lokasi acara sudah sangat dekat. Maka kami pun bersama dengan beberapa kader kami yang sama-sama membantu acara, pergi ke lokasi di mana akad akan dilangsungkan. Dan barulah saya tahu, bahwa lokasi akad adalah di rumah tahfizh di mana mempelai wanita mengajar setiap hari.

Sang mempelai pria masuk juga ke rumah itu. Rumah yang mungil, di mana begitu saya menjejakkan kaki ke dalamnya, saya bisa melihat mempelai wanita sedang sibuk menata makanan di atas lantai beralas karpet, dibantu beberapa akhwat lainnya. Di dapur, ada seorang wanita paruh baya yang rupanya adalah ibu mempelai wanita, sedang sibuk memasak.

"Umi, makasih mau datang,"  sang mempelai wanita memeluk saya. Ia bergamis, berjilbab dan bercadar serba pink. Sederhana, sebagaimana biasa dipakai oleh para akhwat sehari-hari. Para akhwat lain menyalami saya dan mempersilakan saya duduk di ruang tamu seluas 3 x 4 itu. Tak ada tirai pembatas yang memisahkan akhwat dan ikhwan karena mungilnya ruangan yang dipersiapkan untuk akad itu.

Saya masih belum connect karena keadaan ini di luar bayangan saya tentang pernikahan pada umumnya. Saya memandang makanan yang terhampar seadanya di hadapan saya. Menu sederhana, di wadah yang juga sederhana. Jangan bayangkan mereka memesannya dari katering karena sang mempelai wanita dan ibunya sendiri yang memasaknya.

Mempelai wanita masih sibuk mondar-mandir mengurus apa-apa yang belum siap. Sedangkan mempelai pria  duduk berbaur bersama ikhwan lainnya. Saya lihat ia sudah mengganti kaosnya dengan gamis berwarna kelabu. "Inikah baju pernikahan mereka?" bisik saya dalam hati seraya berharap mereka masih akan berganti pakaian sebelum akad dimulai. Pada kenyataannya, hingga akhir acara mereka tak kunjung berganti pakaian.

Tiba-tiba pengantin wanita membawa sebuah kardus bekas mie instan ke tengah ruangan, dan menutupinya dengan taplak warna pink yang ia lipat-lipat agar ukurannya sesuai dengan kardus yang ia bawa. "Ini anggap aja mejanya ya buat akad," katanya seakan menjelaskan keheranan saya. Sejak detik itu hati saya meleleh.

Maka setelah menunggu lebih dari setengah jam dan kami mengisinya dengan murajaah surat ar-Rohman (hampir semua yang di ruangan itu adalah penghafal Alquran), suami saya segera mengambil mikrofon dan membuka acara. Ia bertindak sebagai MC sekaligus pengganti penghulu (mereka baru akan mengurus surat-surat di KUA beberapa hari lagi. Mengundang penghulu lebih mahal daripada mendatanginya di KUA).

Setelah wali dan mempelai pria saling berlatih sebentar untuk pembacaan ijab kabul, dimulailah prosesi akad nikah. Suami saya membaca khotbah nikah, kemudian wali sang mempelai perempuan mengucapkan ijab, "Dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin titanium..." mendengar kalimat itu, segera buram mata saya karena air yang mulai mengembun. Apa? Cincin titanium? Jangankan emas, bahkan perak pun tidak.

Saya langsung ingat putri Rasulullah yang menikah dengan mas kawin sebuah baju zirah, hasil rampasan perang pula. Buru-buru saya ambil tisu agar tak deras air mata ini keluar. Saya terus mengeringkan mata sampai kedua mempelai saling menyematkan cincin. Tak ada fotografer profesional yang mengabadikan momen tersebut, hanya sebuah kamera pinjaman yang dioperasikan teman kedua mempelai, dan kamera-kamera dari HP kami yang menghadiri pernikahan mereka. Tak ada pengarah gaya yang bisa mengabadikan romantisme mereka. Kami para perempuan hanya berteriak lirih ketika si mempelai pria mendadak mencium kening istrinya. "Refleks", kata sang pria yang kami sambut dengan derai tawa.

Lalu kami semua mulai sarapan tanpa memindahkan badan sedikit pun. Makanan diedarkan dan saya tanpa sadar makan dengan lahap. Inikah awal dari keberkahan pernikahan mereka? Karena makanan sederhana ini dapat menggugah tak hanya selera saya, namun juga para tamu yang hadir.

Sebelum pulang, kami berfoto bersama pengantin selayaknya pernikahan pada umumnya. Tapi yang membedakan, tak ada dekorasi ruangan yang bertabur bunga dan penuh warna seperti terekam dalam kepala saya. Kami hanya berfoto di pinggir jalan dengan latar rumah yang kami pakai untuk akad. Pengantin dan keluarganya, teman-teman yang hadir, semua menunjukkan rona bahagia di wajah mereka.

Dan selama perjalanan kembali ke rumah, saya hanya bisa diam dan merenungi kebersahajaan pernikahan itu. Inilah pernikahan tersederhana yang pernah saya hadiri, namun juga pernikahan yang paling membuat saya kagum. Betapa banyak pernikahan mewah yang saya hadiri, tapi bahkan detailnya pun sudah tak saya ingat lagi ketika kaki beranjak meninggalkan gedung resepsi. Namun acara pagi ini, tak mungkin saya lupa.

Dan saya teringat bisikan lembut sang mempelai wanita saat saya memeluknya terakhir kali, "Umi, doakan saja agar kami jadi keluarga Qurani." Saya mengangguk seraya tersenyum, melihat lekat ke kedua matanya yang tak tertutup cadar, mata tanpa sentuhan riasan apa pun.  Membuat saya teringat dengan para selebgram bercadar yang memiliki alis dan mata indah dalam setiap fotonya, dan segera berkata dalam hati bahwa mata di hadapan saya itu tak kalah indahnya, karena saya bisa melihat rasa syukur yang terpancar di sana.

Barokahlah Santi dan Dhimas. Acara pernikahan kalian boleh sederhana, tapi cinta kalian berdua harus mewah terbingkai dalam amal ibadah kepada-Nya. Selamat.

 

Maya Hayati. Lahir di Jakarta 35 tahun silam dan menamatkan pendidikan terakhirnya sebagai sarjana hukum dari Universitas Diponegoro. Alih-alih meneruskan cita-citanya menjadi lawyer, ia malah memutuskan mendedikasikan sepenuh waktunya untuk mendidik anak-anaknya homeschooling dan mengembangkan dakwah Alquran bersama suaminya. Kini hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan dunia tulis menulis. Kenal lebih dekat dengan Maya di sini