DUNIA MAYA
2017-09-18 15:01:00

Pos Orangtua di Buku Tabungan Kita

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Seorang istri sibuk membuat perencanaan keuangan. Gajinya dan gaji suami dijumlahkan. Terbitlah angka yang lumayan. Sang istri bernafas lega.

"Ooh kelihatannya cukup untuk bayar segala kebutuhan dan sedikit tabungan masa depan."

Begitu selesai, diperlihatkanlah oleh sang istri pada suaminya. Harap-harap cemas, ia menanti tanggapan suami.

"Good..good," kata sang suami mengangguk-angguk.

Sang istri pun senang. Duduk mereka berdua menikmati angin semilir dari teras rumah mereka, ditemani teh yang mengepul, camilan penuh kalori, dan pemandangan indah: anak-anak yang sedang main anteng dengan mainan baru mereka.

Sementara....

Di sebuah rumah tua, rumah besar yang dulu pernah jaya, bagus dan rapi terurus, di bawah lampu temaram, sepasang lansia duduk di atas meja makan kusam. Sang perempuan tua menatap nanar pada kotak tabungan mereka, seraya berkata, "haruskah kutelpon cah lanang sekarang juga?"

Lama yang ditanya baru menjawab. Dengan helaan nafas ia berkata, "tak usah... Jangan merepotkan."

Maka sang istri hanya mengalirkan bulir-bulir air mata.

Sang istri ingat, dulu harus sering mencoret-coret buku keuangannya, karena tiba-tiba ada pengeluaran mendadak: beli obat anak, beli buku anak, study tour anak, kirim uang bulanan anak yang merantau nun jauh di sana. Tapi sekarang, apa yang mau dicoret-coret? Kolom pemasukan pun jarang terisi. Yang ada hanya kotak tua berisi tabungan, yang sesekali diisi bila sang anak datang dan menyelipkan selembar dua lembar uang biru atau merah ke tangan renta mereka.

Mungkin mereka pikir cukup...toh kami orangtua sudah sedikit makan, batin pasangan tua itu sedikit kesal namun buru-buru diralat dengan istighfar dan doa bagi kebaikan sang anak.

***

Duuh Robbi...
Ini hanya pikiran melantur saya. Tentang nasib orangtua di masa renta. Ketika sudah lagi tak sanggup mencari nafkah, ketika dipikirnya sudah lega karena anak sudah selesai sekolah, bekerja, dan berkeluarga. 

Tapi hidup, walau mereka sudah tua, tetap berbiaya. Makan mereka memang sedikit, tapi kan tetap harus beli. Mereka sudah tak ada keinginan jalan-jalan, tapi kan obat-obatan dan suplemen harus sedia, namanya juga sudah tua dan banyak penyakit mampir.

Tapi sang anak, bahkan tak ingat-ingat, untuk sekedar mencatat kata "mama dan papa" di kolom pengeluaran mereka. Boro-boro, saling berembuk beradik kakak, tentang bagaimana mereka yang para sarjana itu akan menanggung hidup orangtua mereka.

Ya, tapi itu hanya lamunan saya saja. Karena saya yakin, kita semua punya pos "orangtua" di buku keuangan kita, bukankah demikian?

RECOMMENDED FOR YOU