DUNIA MAYA
2017-08-28 12:53:00

Bakat Anak Kita yang Berharga

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Saya masih ingat, sewaktu kecil bakat saya yang paling menonjol adalah memimpin dan menggambar. Memimpin, mungkin karena saya anak sulung di rumah. Dan untuk bakat itu, alhamdulillah tersalurkan dengan baik setidaknya dengan keikutsertaaan saya dalam organisasi-organisasi sekolah dan di kampus dulu.

Sedangkan menggambar, saya ingat dulu saya punya beberapa sketch book yang penuh terisi dengan gambar manga hasil goresan saya, karena kartun dan komik Jepang sedang booming. Tidak hanya menggambar manga, kadang saya juga membuat design rumah, persis seperti di brosur-brosur perumahan yang dibagikan di mall-mall. Makanya sempat dalam salah satu cita-cita saya yang berjibun dan selalu berganti dari kecil hingga dewasa, arsitek menjadi salah satunya.

Tapi sayangnya, bakat menggambar saya terhenti sampai SMP saja. Sewaktu SMA, saya sudah melupakan itu semua, karena saya sekolah di SMA yang full day school. Pergi pagi pulang sore, persis seperti orang kerja. Cuma bedanya tidak digaji saja.

Setelah dewasa begini, dan hal-hal tersebut teringat kembali, saya cukup menyayangkan kenapa bakat saya dulu tidak ditangkap dan dikembangkan oleh orangtua dan tidak terdekteksi oleh guru-guru di sekolah. Tentu saja saya tidak menyalahkan takdir, karena saya sudah sangat bersyukur dengan apa jadinya saya sekarang.

Tapi, saya benar-benar menyesali kenapa dulu hanya sibuk berkutat dengan kegiatan formal di sekolah dan tidak menjadikan bakat saya sebagai hal yang bisa menjadi  karya. Kenapa tidak ada orang dewasa yang mengarahkan?  Mungkin ya mungkin...andai bakat saya itu lalu digabungkan dengan anak-anak lain yang berbakat sama namun bernasib sama dengan saya, lalu sekolah atau pemerintah mengendusnya, lalu memoles dan mensupport bakat kami itu, barangkali sudah lahir animasi buatan anak negeri mendahului ketenaran Ipin Upin atau Boboi Boy buatan negeri jiran. Tapi nyatanya, sampai menjelang lulus kuliah saja, saya masih belum menghasilkan karya apa-apa. Dan bukan hanya saya, bahkan juga jutaan sarjana lainnya.

Sekarang saya sudah berumah tangga dan memiliki anak. Sejak awal, karena saya dan suami berkomitmen untuk mendidik anak kami sendiri, kami tidak ingin mengulang kisah lama kami. Kami belajar matematika 12 tahun di bangku sekolah, memecahkan rumus-rumus sulit sin cos tangen, tanpa sekarang berguna bagi kehidupan kami. Hanya tambah kurang kali bagi dan pengukuran-pengukuran sederhana lainnya saja yang kami pakai. Mungkin berguna bagi teman insinyur kami, tapi tidak bagi kami.

Sehingga kami berprinsip, kami tidak akan menjejali anak-anak kami dengan kerumitan yang saat ini mereka belum perlukan dalam kehidupan. Mereka akan belajar sesuatu di saat waktunya tepat dan saat mereka sudah mulai membutuhkan. Maka yang kami lakukan di saat usia dini mereka, adalah hanya mengajarkan baca tulis hitung (calistung) yang dasar saja yang berguna dalam kehidupan mereka sampai dewasa.

Bila mereka memiliki bakat dalam berhitung misalnya, atau dalam fisika, kimia, biologi, sejarah, kedokteran, sastra, olahraga, seni, barulah mereka akan belajar di satu bidang itu dengan dalam dan serius hingga mereka menjadi ahli dan berkarya, sembari mereka berjuang menyelesaikan hafalan al-Qur’an.

Empat tahun lalu kami mengkonsep bersama hal tersebut, dan kami menyebutnya, “program menjadikan anak sebagai pakar sejak dini.”

***

Adalah Muhammad al-Fatih, yang sejak kecil sudah fokus dididik sebagai seorang raja. Ia dibekali ketangkasan fisik sejak kecil; ahli memanah, berkuda dan bermain pedang dalam usianya yang masih belia.

Bakat sebagai seorang panglima perang, lalu menuntunnya untuk mendesain sendiri senjata-senjata yang akan dipergunakannya dalam upaya menaklukkan Konstantinopel. Maket senjata-senjata itu mencengangkan wazir yang ditunjuk untuk mendampinginya. Karena, saat itu, Muhammad al-Fatih bahkan belum berusia 17 tahun. Setiap hari, selain belajar al-Qur’an dan ilmu Islam, tak ada lain yang dikerjakannya kecuali menyiapkan dirinya sebagai raja dan pemimpin penaklukkan Konstantinopel.

Muhammad Ali, sang legendaris tinju dunia, berlatih sejak kecil ketika usianya baru masuk 12 tahun. Dan pada usia 22 tahun, ia sudah mendapat gelar juara dalam kejuaraan dunia.

Kemudian Lionel Messi. Kemampuannya dalam menggocek bola dan menggedor gawang lawan sudah diakui dunia. Ia berlatih sepakbola sejak usianya 5 tahun dan sudah menjadi nominator Ballon d’Or pada usia 21 tahun.

Bill Gates, orang yang sangat berpengaruh dalam pengembangan komputer di dunia, juga tertarik pada komputer sejak belia. Perkenalan pertamanya dengan komputer adalah saat usianya 13 tahun di sekolahnya. Sejak itu ia keranjingan mempelajari komputer dan pada saat ia berusia 17 tahun, bersama sahabatnya ia mendirikan Traf-O-Data yang fokus pada sistem penghitung lalu lintas yang berbasis prosesor Intel 8008.

Saya sebutkan nama orang-orang terkenal di dunia itu, hanya sebagai contoh kecil. Karena banyak lagi orang-orang seperti mereka, yang sudah memiliki prestasi dan sumbangsih besar berskala internasional, dan memulai semuanya sejak usia mereka masih sangat muda.

Saya yakin, di Indonesia pun banyak orang-orang sukses yang memulai segalanya di saat masih muda. Dan saat ini pun Indonesia menyimpan potensi dari generasi-generasi emas itu.

Karenanya, yang harus disiapkan adalah kejelian dari orangtua, sekolah dan pemerintah, untuk menangkap bibit-bibit berbakat dari anak-anak bangsa. Kenali, arahkan dan fasilitasi bakat-bakat pemberian Yang Maha Kuasa itu dengan baik. Saya teramat yakin, bila bakat-bakat tersembunyi ini kemudian diberi sentuhan dan motivasi, maka akan banyak karya tercipta untuk kemajuan negeri kita.

 

Maya Hayati. Lahir di Jakarta 35 tahun silam dan menamatkan pendidikan terakhirnya sebagai sarjana hukum dari Universitas Diponegoro. Alih-alih meneruskan cita-citanya menjadi lawyer, ia malah memutuskan mendedikasikan sepenuh waktunya untuk mendidik anak-anaknya homeschooling dan mengembangkan dakwah Alquran bersama suaminya. Kini hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan dunia tulis menulis. Kenal lebih dekat dengan Maya di sini

RECOMMENDED FOR YOU