DUNIA MAYA
2017-12-02 15:00:00

PR (Yang Seharusnya) Untuk Anakku

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Sore itu saya merasa bosan sekali. Seharian, saya hanya keluar rumah sejam saja di pagi hari untuk olahraga bersama suami dan Azka di taman. Taman yang sepi tanpa satu orang lain pun yang saya lihat dan bisa saya sapa. Lalu selebihnya, setelah suami pergi beraktivitas, saya dan Azka berdua saja di rumah untuk belajar dan melakukan rutinitas lainnya.

"Dek, ke bawah yuk," kata saya sambil melipat mukena setelah sholat Ashar.

"Ke mall?" Rumah saya ada di atas mall. 

Saya mengangguk.

"Umi mau belanja?"

"Nggak, duduk-duduk aja di lobby. Seharian ini umi belum lihat orang lain kecuali kamu dan abi. Kamu juga sama..." kata saya sambil nyengir.

"Beli es krim boleh ya?" 

"Iya deh..."

BACA JUGA: Babak baru dalam menjaga amanah Allah 

Maka setelah melapisi baju rumah dengan sweater dan rok serta memakai jilbab, saya dan Azka pun ke luar rumah. Receptionis jadi orang pertama yang kami liat seharian ini. Senyum dan sapa pun saling terucap. Begitu pintu akses terbuka, segera hiruk pikuk mall terdengar.

Saya menghela napas.

"Berasa hidup di bumi," batin saya ketika mendengar suara celotehan manusia lain. Lalu kami berdua segera mencari tempat duduk yang kosong di lobby utama.

"Mana Mi uangnya? Sini Azka aja yang beli," tagih Azka tak lupa pada janji saya membelikannya es krim.

Bukan es krim mahal yang saya izinkan untuk dia beli. Hanya es krim yang freezer nya ada di minimarket dan supermarket pada umumnya. Uang 10.000 rupiah pun sudah cukup untuk membeli dua batang es krim. Maka ia segera berlari ke supermarket untuk membeli eskrim untuknya dan untuk saya.

"Hati-hati dek!" teriak saya melihat larinya yang terlalu cepat.

Saya sengaja tak membawa HP. Saya ingin mata ini melihat sekeliling saja setelah seharian di rumah. Tak perlu lama untuk mata ini segera menangkap sebuah pemandangan yang sebenarnya lumrah terjadi  sekelompok anak berseragam SMP duduk-duduk di gerai donat terpopuler di negri ini. Posisinya yang persis di sebelah pintu masuk, tentu saja mudah saya lihat.

Sebenarnya sering saya melihat pemandangan semacam itu, tapi entah mengapa sore ini saya iseng memperhatikan anak-anak itu sambil menghitung-hitung harga snack dan minuman yang tersaji di meja di hadapan mereka.

Sambil melihat-lihat gadget masing-masing -ada yang membawa laptop juga- yang saya yakin terkoneksi ke wifi gratis di gerai donat itu, mereka ada yang menggigit donat seharga upah dua kali angkut barang yang didapat si kuli angkut di pasar. Ada yang menyeruput minuman dingin seharga satu box susu bayi paling populer yang mampu dibeli ibu-ibu kelas ekonomi bawah. Ada yang menyendok yoghurt beraneka topping seharga budget masak sehari dari sebuah keluarga sederhana.

Dalam hati saya, berapa uang jajan anak-anak ini? Berapa sering mereka makan minum di tempat semacam itu sepulang sekolah? Mereka hanya menghabiskan sisa uang jajan hari ini atau perlu menabung sepekan untuk bisa nongkrong-nongkrong macam begitu?

Sedangkan, di kasir, saya lihat seorang laki-laki berjaket ojek online dengan wajah memerah karena terbakar matahari seharian, sedang membayar pesanan customernya. Saya yakin tak sepotong donat pun yang kini ditentengnya akan dicicipinya. Ia hanya mengharap upah dari customer atas pesanan donat mahal itu, lalu diberikan ke istrinya di rumah untuk masak esok hari.

"Mi, nih es krimnya," kata Azka mengagetkan saya.

Es krim seharga empat ribu perak segera saya terima. Dan saya bersyukur saya tadi tidak memberinya uang banyak-banyak untuk membeli e skrim yang 1 scoop nya bisa untuk makan siang dua orang cleaning service yang bekerja di mall ini.

"Ini kembaliannya." 

Maka setelah merobek kantung eksrim Azka dan merobek kantung es krim saya sendiri, kami berdua menikmati es krim masing-masing sambil duduk bersisian. Pikiran saya masih sibuk menghitung uang jajan si anak-anak berseragam.

BACA JUGA: Curhat pertamanya 

"Dek..."

"Hmmm?" Azka menjilat bibirnya yang belepotan.

"Azka kan jajannya suka banyak juga kadang-kadang..." saya membayangkan cemilan-cemilan yang suka dimintanya.

Azka memandangi saya sambil terus menjilati es krimnya.

"Maafin Umi ya nak. Umi kayaknya salah deh. Mulai sekarang jangan sering-sering ya nak."

"Kenapa emang Mi?"

"Kamu harus belajar hidup sederhana supaya peduli terhadap orang lain yang tak seberuntung kamu, nak. Jangankan jajan, banyak orang yang kadang untuk makan sekali sehari saja  susah." Saya tatap matanya berusaha mencari tahu apa ia paham atau tidak.

"Oke Mi..."

"Dan kamu nggak selamanya dibiayai umi abi terus, kan? Nanti kamu nggak tahu bahwa uang dan prestasi itu dicari juga dengan usaha dan perjuangan. Jadi sekarang, sedikit-sedikit belajar menahan keinginan untuk jajan dan juga untuk senang-senang, ya nak..." Saya ucapkan itu sambil mengingat bayangan beberapa orang  terkenal yang sukses di saat mereka dewasa, namun tumbuh dalam keprihatinan di saat kecil.

"Iya Mi..." ia menyahut dengan ringan. Saya tahu, ia pastilah belum paham sepenuhnya perkataan saya. Tapi tak apa, kalau saya konsisten insyaallah lama-lama juga ia mengerti. Dan kata konsisten itu saya garis bawahi dan tebalkan setebal-tebalnya karena saya juga tukang jajan.

Dan setelah es krim kami sama-sama habis dan ia membuang kantung eskrim kami berdua, Azka berkata pada saya, "Tenang Mi, kalau uang Umi nggak cukup, nanti Azka jajan atau beli mainan pakai uang celengan Azka aja."

Yaa Salaam, saya punya PR banyak kayaknya nih..haha.