DUNIA MAYA
2017-09-11 14:20:00

Curhat Pertamanya

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Dia perempuan paling ceria sepanjang dua pekan saya mengenalnya. Cara bicaranya lucu, tak pernah tersinggung dengan ledekan orang lain, percaya dirinya nomer wahid. Kelas tak seru tanpanya.

Ia masih gadis, walau usianya lebih tua dari saya. Maka tak jarang, godaan-godaan dari sesama teman lawan jenis yang sekelas mampir padanya. "Let's have dinner with me, Miss." disambut oleh gelakan teman sekelas, karena tentu saja ajakan itu tak serius, hanya sekedar lucu-lucuan memancing responnya yang lebih lucu lagi.

Perempuan tanpa beban, easy going, dan selalu terlihat senang. Itu yang saya tahu, sampai kelas sore itu, saya berpasangan dengannya dalam sesi conversation berdua-berdua.

Dengan tema dari Mister guru, "pengalaman hidup yang berkesan" dia benar-benar memonopoli percakapan. Tapi saya biarkan, karena dia lebih butuh banyak latihan bicara dalam bahasa Inggris daripada saya (bukannya saya sombong, ya). Dan lagipula, ketika lama kelamaan isi bicaranya adalah curhat. "Telinga konselor" saya langsung awas. Saya suka mendengar, itu mungkin yang dia tangkap.

Maka mengalirlah kisah hidupnya yang ternyata amat pedih. Serius, menyedihkan. Dan saya tak menyangka, dengan segala kepedihan itu dia bisa terlihat bahagia setiap hari. Membuat saya malu, yang bila lelah maka muka bete saya akan tampak. Tapi sungguh, saya tak pernah melihatnya sekedar cemberut. 

Maka, saya yang dasarnya cengeng, tak kuasa melihat air matanya menetes satu-satu. Ketika ia akhirnya mengeluarkan tissue dari tasnya, saya lepas saja air mata yang semula saya bendung sekuat tenaga. Sang Mister guru sampai terbengong-bengong melihat kami berdua, sementara pasangan-pasangan lain sibuk bicara sambil tertawa2. 

"Are you both okay?" tanya Mister guru.

"Yeah Mister...we're just too happy," sahut saya mencoba menjawab sambil tertawa. Begitu juga teman di hadapan saya yang bahkan matanya sudah bengkak.

Saat waktu diskusi selesai, semua kembali duduk di tempat masing-masing. Tak ada teman yang menyadari bahwa ada sepasang perempuan baru saja menangis. Dia yang baru saja curhat pun, sudah tertawa kembali. Saya hanya bisa menatapnya dengan pikiran dalam tentangnya.

Ia berkata, tadi, bahwa tak pernah punya teman dekat untuk berbagi. Tapi saat itu, ia merasa "inilah saatnya" untuk mengaku, mengeluarkan kesedihan yang selama ini ia telan sendiri. Karena selama ini ia berusaha tegar demi adik-adiknya, demi keinginannya membuktikan pada saudara-saudaranya yang tak peduli bahwa ia dan adiknya bisa sukses dan bahagia.

Saya bersyukur, telinga ini sudah menjadi tempat pelampiasan kesedihannya. Tanpa tahu seberapa lega hatinya sekarang, tapi mungkin air matanya itu sudah mengosongkan sedikit kelam dalam jiwanya.

Tak terbayang oleh saya, berapa banyak perempuan sepertinya. Tak punya tempat berbagi, bercerita, menumpahkan perasaan, yang walau tak butuh masukan, nasihat dan saran, namun bicara pada orang lain sudah mampu membuatnya merasa memiliki teman. Yang walau sejuta kata telah tertumpah dalam sujud di sepertiga malam, namun masih tetap butuh tangan yang menggenggam kuat seraya berkata, "aku bersama denganmu." Butuh peluk hangat yang berbisik, "sabar, jangan bersedih lagi." Butuh teman yang bisa menangis bersama dan berkata, "aku tahu perasaanmu."

Semoga ia punya teman dekat dan pasangan hidup nanti... Dan saya bahagia, saya punya sahabat-sahabat, selain suami yang juga senantiasa menyediakan pundaknya untuk saya.

Semua orang butuh didengarkan, semua jiwa butuh meluapkan. Maka engkau yang mempunyai sahabat dan pasangan, berikanlah sedikit waktumu untuk mendengar. Jauhkanlah gadgetmu untuk sekedar menilik raut muka sahabat atau pasanganmu. Barangkali, kau bisa lihat, dalam sosok yang dekat denganmu itu, ada perasaan yang ingin dicurahkan.

Di bawah pagi nan mendung di kota Jogja, 10 Sept 2017.