DUNIA MAYA
2017-09-25 14:11:00

Luka di Hati Anak Kita

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Berjauhan begini dengan dua jagoan yang dulu tak pernah jauh dari saya, selalu menghadirkan rasa rindu. Selain chatting via WA yg kadang sepekan sekali, atau beberapa kali tergantung keadaan, saya juga suka melihat-lihat foto, baik yg di album foto, maupun gallery HP. Ada saja foto-foto mereka yg terabadikan dan mengobati kerinduan saya.

Suatu hari, adik saya, mengirim foto-foto via WA kepada saya. Begitu saya download, "wah, lucu banget..." rupanya foto-foto anak saya sewaktu masih amat kecil. Mungkin si sulung baru berusia 6 tahun. Yang artinya berturut-turut adiknya berusia 5, 3 dan bayi usia setahun. Masih imuuttt sekali. Saya senyum-senyum sendiri melihat ekspresi-ekspresi lucu mereka.

Menikmati lamunan memandang foto itu, tiba-tiba ada sebuah kenyataan yang mendadak muncul di benak saya.

"Hei!  Umur segini, rasanya si sulung sudah pernah saya marahi karena galak sama si mbak. Pernah saya bentak karena bicara kasar. Pernah saya cereweti karena malas belajar atau merapikan mainan. Pernah saya hukum karena terus-terusan menakali adiknya." Pernah ini, pernah itu... Dan daftarnya terus bertambah di kepala saya. Kelebatan memori aneka kemarahan saya padanya terbayang kembali. Dan kesadaran menghentak saya, "Ya Allah.. rupanya ketika saya melakukan itu, ia baru sekecil ini..."

Bukan menitik lagi air mata ini, tapi saya bahkan sudah tersedu sedan menyesalinya. Ketika mencoba mengingat-ingat bagaimana ekspresi takutnya saat saya lakukan itu padanya, rasa hancur menyesapi hati saya. Kenapa saya bisa menjadi monster untuk anak saya sendiri hanya karena tuntutan saya padanya terlalu besar? Kenapa oh kenapa dulu saya bisa sekeras itu pada seorang anak yang bahkan besarnya tak ada separuh tubuh saya? Yang pengetahuannya baru sebatas usianya hadir di dunia. Seakan keberadaan adik-adiknya serta merta menisbahkan dirinya sebagai "si dewasa yang sudah harus mengerti."

Puas menangisi dosa diri, saya buka-buka chat WA saya bersama si sulung dan adik nonmer duanya yg kini di Mesir. Chat yg selama setahun belakangan ini, tak pernah sekalipun saya hapus dari riwayat chat di HP ini. Dan saya amat bersyukur, karena kalimat-kalimat kami, sangat mesra satu sama lain. Tanda ia dan adiknya sangat sayang pada saya, ibu yang sudah pernah meninggalkan luka di hatinya.

Bersyukur saya masih Allah beri waktu untuk memperbaiki semua keadaan. Beruntung saya, Allah beri banyak kesempatan untuk belajar memperbaiki diri sebagai orangtua. Sehingga, lambat laun saya tahu bagaimana memperlakukan mereka dengan lebih bijaksana.

***

Ayah, bunda, entah luka sebesar apa yang pernah kita ciptakan dalam hati anak-anak kita tanpa disadari. Ketidaksabaran kita dalam menunggu proses anak-anak menuju kepahaman dan kepintaran, membuat kita seringkali tak mampu mengontrol emosi. Kita ingin melihat mereka segera sempurna, menyandingkan mereka dengan anak lain yang terasa melebihi anak kita. Maka berbagai teror mental, bahkan banyak kasus juga orangtua melakukan teror fisik, menjadi bentuk pelampiasan orangtua pada anaknya. Dan kesadaran bahwa yang kita lakukan adalah salah, seringkali terlambat datang dan hadir bersama sesal. Anak sudah terlanjur terluka dan menderita.

Tapi tak ada yang tak bisa terobati dan tak ada yang tak bisa kita ubah. Sebagai orangtua, bersama waktu pun kita akan banyak belajar. Belajar dari sekeliling kita, dari ilmu para guru yang tercatatkan dalam tulisan-tulisan sarat hikmah, bahkan belajar dari pengalaman dan belajar dari anak kita. Selama kita masih diberi waktu, masih ada kesempatan untuk mematangkan dan memperbaiki cara kita mendidik dan mengasuh mereka.

Jangan segan untuk sering meminta maaf pada anak-anak kita sebagaimana kita juga menghendaki mereka meminta maaf atas kesalahan yang mereka buat. Tanyakan pada mereka, dimana letak kesulitan mereka memahami keinginan-keinginan kita. Bantu ia untuk mewujudkan harapan kita dengan mendampinginya, bukan dengan memaksanya untuk paham tanpa menyediakan waktu untuk hadir selalu di sisinya.

Luka yang tak sadar telah kita buat itu mungkin masih membekas pada jiwa anak kita, tapi tak akan pernah menjadi terlalu dalam baginya, andai sekarang ia melihat kehadiran sosok kita dan cinta kasih di depan mata. Yakinlah, setelah luka itu hanya menjadi bumbu dalam kenangan masa kecilnya, kelak ia tetap akan berkata, "ayah ibuku orang paling baik sedunia."