DUNIA MAYA
2017-08-22 18:56:00

Tabungan Akhiratku

BY MAYA HAYATI

SALIHA.ID - Rata-rata santri yang dulu saya asuh di pesantren pertama kami, datang dengan kemampuan nol dalam menghafal Alquran. Hanya satu dua orang saja yang sudah punya hafalan. Jadi jangankan hafalan, baca Alquran pun masih terbata, pun belum paham makhroj dan tajwid.

Tapi karena masuk pesantren karena kemauan mereka sendiri, segala keletihan dalam menghafal plus adaptasi dengan lingkungan yang jauh dari orangtua, tidak membuat semangat mereka luntur. Dari tiga baris sehari hafalan mereka dan seringnya harus dibetulkan makhroj tajwidnya, lalu naik lagi menjadi lima baris sehari, setengah halaman, sekarang kemampuan menghafal mereka bahkan sudah ada yang tiga halaman sehari.

Kalau dikenang-kenang, saya bersyukur menjadi bagian dalam proses hidup mereka menjadi keluarga Allah. Setidaknya, saya punya tabungan akhirat selain dari anak-anak saya sendiri.

Saya selalu mengatakan pada mereka dulu, "Kalian memang tidak lahir dari rahim umi, tapi kalian lahir dari hati umi, jadi anggap umi seperti orangtua kalian sendiri."

Kalau saya sudah berkata seperti itu, rata-rata mereka ikut mellow sambil membayangkan orangtua mereka di rumah masing-masing.

BACA JUGA:

Pernikahan Terindah 

Dan saya bersyukur, rupanya kalimat itu terus dikenang juga oleh mereka. Karena walau saya sudah tidak mengasuh langsung lagi pesantren kami, tidak mengajar sendiri santri-santri kami, masih ada saja santri-santri yang bersilaturahmi menanyakan kabar, dan mereka pun berkirim kabar. Ada yang masih di pesantren kami, ada yang sudah lulus atau pindah ke tempat lain.

Ah senang betul rasanya mengetahui bahwa mereka tak melupakan saya, walau entah kapan bisa bertemu lagi. Maka kalau mereka kebetulan menyapa lewat telp, sms atau whatsapp, saya selalu berpesan pada mereka, "Nanti di akhirat kasih tahu Allah ya kalau umi dulu pernah ngajarin kamu ngaji..."

Walau tentu Allah tak perlu diberitahu, tapi rasa lega mendengar, "Iya, mi..." dari lisan mereka, menambah sedikit harapan untuk keselamatan kampung akhirat saya.

Segala puji bagi-Mu ya Allah. Walau sedikit amalanku, tapi Kau telah pilih aku menjadi seorang di antara orang-orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.

Note:

Rasulullah bersabda, "Sebaik-baiknya kalian adalah yang senantiasa belajar dan mengajarkan Alquran.”

Maya Hayati. Lahir di Jakarta 35 tahun silam dan menamatkan pendidikan terakhirnya sebagai sarjana hukum dari Universitas Diponegoro. Alih-alih meneruskan cita-citanya menjadi lawyer, ia malah memutuskan mendedikasikan sepenuh waktunya untuk mendidik anak-anaknya homeschooling dan mengembangkan dakwah Alquran bersama suaminya. Kini hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan dunia tulis menulis. Kenal lebih dekat dengan Maya di sini

RECOMMENDED FOR YOU