FASHION
Lima Ksatria Mode Akhiri Jakarta Fashion Week 2018 dengan Tema Modernisme
2017-11-03 11:00:00

Lima Ksatria Mode Akhiri Jakarta Fashion Week 2018 dengan Tema Modernisme

BY DINA LATHIFA

SALIHA.ID - Jakarta Fashion Week 2018 mencapai puncaknya pada hari Jumat, 27 Oktober 2017 lalu. Sebagai penutup, lima 'ksatria' desainer yang tergabung dalam Dewi Fashion Knights 2017 menampilkan koleksi mereka yang mengusung tema "Modernisme".

Tema ini terinspirasi dari chaos-nya situasi yang terjadi saat ini, mulai dari globalisasi, pergeseran nilai, hingga ketegangan politik. Keadaan ini menuntut respon yang rasional dan kemampuan untuk melihat ketenangan dalam gejolak, yang kemudian ditunjukkan oleh para desainer terpilih melalui busananya masing-masing.

Bagi desainer Toton, modernisme adalah cara seseorang menyikapi situasi dan menawarkan solusi. Dalam koleksinya yang bertajuk "Bunga Papan", ia menggunakan limbah sisa studio dan memadukannya dengan denim bekas, menghasilkan busana keren dengan detail yang berkilau.

SALIHA.ID - Bunga Papan by Toton untuk DFK 2017 foto by Andra Ramadhan, sumber: @totonthelabel

Sementara desainer Peggy Hartanto terinspirasi dari ledakan nukir di Fukushima, Jepang, pada Maret 2011 silam. Bencana ledakan itu membuat perubahan cukup drastis pada lingkungan, termasuk pada makhluk hidup. Pada koleksinya yang bernama "Mutan II", ia menggambarkan sosok kukup-kupu abnormal yang terpapar akibat bencana itu melalui busana gaun dan coat, dengan detail unfinish stroke, penempatan secara distorsi, dan raw finishing. Tidak hanya itu, Peggy turut menggunakan wol asal negeri Sakura.

SALIHA.ID - Mutant II by Peggy Hartanto for DFK 2017 foto by JT Dapper Journal, sumber: @peggyhartanto

Label Major Minor yang didirikan oleh Ari saputra dan Inneke Margarethe langsung tertuju pada seniman era modernisme, Pablo Picasso dan Henri Matisse. Love-hate relationship antara keduanya menginspirasi label lokal ini melahirkan koleksi "Maha". Jiwa pelukis ini dituangkan dalam warna hitam, yang berarti goresan tangan keduanya, serta warna putih yang diibaratkan kanvas lukis. 

SALIHA.ID - MAHA by Major Minor for DFK 2017 sumber: @everydaymajorminor

Sedangkan di mata Rani Hatta, modernisasi adalah keadaan manusia memilih sesuatu yang lebih praktis dalam berbusana. Mengusung tren genderless fashion, perempuan hijabers ini melahirkan koleksi busana yang unisex atau dapat dikenakan oleh perempuan dan laki-laki. Masih bernuansa monokromatik khas Rani, ia menambahkan detail tali di sepanjang lengan busananya.

SALIHA.ID - Genderless fashion by Rani Hatta untuk DFK 2017

Hian Tjen sebagai desainer terakhir, menunjukkan koleksi bertajuk "Symmetrophilia" yang berangkat dari pertemuannya dengan orang-orang OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Potongan busananya simetris, dengan gaya terinspirasi dari era 1960 yang penuh kreativitas dan inovasi.

SALIHA.ID - Symmetrophilia by Hian Tjen for DFK 2017 photo by @erickdiavlo, sumber: @hiantjen

Setelah Hian Tjen, maka selesai sudah pagelaran busana terbesar Jakarta Fashion Week 2018 ini. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan perhelatan ini di tahun selanjutnya!

RECOMMENDED FOR YOU