LOVE
2018-03-31 09:00:00

Ingin Memberi Kritik ke Orang Lain? Yuk Sampaikan Dengan Cara Lebih Baik

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang Sahabat Saliha harus memberikan kritik. Terlebih, kalau Sahabat Saliha merupakan pengajar atau pimpinan dari sebuah instansi. Tujuannya tentu satu: ingin mereka berubah menjadi lebih baik.

Sayangnya, situasi yang tidak melulu baik membuat sahabat kadang kehilangan kendali. Kesalahan seseorang kadang membawa masalah. Sementara mereka sendiri kadang enggan memperbaiki sikap. Akhirnya, sahabat pun menyampaikan kritik dengan penuh emosi. Nada suara sahabat meninggi. Kata-kata penuh ledakan keluar tanpa bisa ditahan. Tak jarang, kritikan pedas sahabat membuat putusnya sebuah tali silaturahmi dan mendatangkan kebencian. Gosip tak sedap pun berembus mengenai sahabat yang ‘konon’ kasar dan pemarah. Orang-orang pun takut bicara dengan sahabat karena takut kena semprot.

Pada dasarnya, kritik adalah ungkapan atau tanggapan yang disertai uraian dan pertimbangan baik buruknya suatu karya, tindakan, dan sebagainya. Hal ini tentu berbeda dengan hinaan yang cenderung merendahkan orang dan memburukkan nama baik hingga menyinggung perasaan orang.

Adanya bias antara dua pengertian inilah yang membuat orang sulit memilah kritikan yang baik dengan sebuah hinaan. Ada pula yang menganggap, pengkritik yang baik adalah pengkritik yang mampu menelanjangi keburukan orang hingga semua orang bisa mengetahuinya.

Di saat media sosial menjamur seperti saat ini, banyak sekali muncul pengkritik-pengkritik dadakan. Kebebasan berekspresi menjadi kebablasan, hingga kemudian muncul mindset baru bahwa apa yang menjadi viral itu adalah hal yang wajar. Ibu-ibu memaki polisi terpampang dalam sebuah video. Status menjelek-jelekkan orang terpampang di facebook, dari yang sekadar menyindir hingga yang lengkap menampilkan foto screen shoot percakapan, plus nama dan foto orangnya.

Kita pun akhirnya ikut-ikutan melakukan hal serupa. Jika mulanya sahabat masih menahan diri memberi kritik, sahabat akhirnya semakin blak-blakan dalam menyampaikan pendapat sahabat. Seakan-akan, bikin malu orang sudah menjadi hal wajar karena kita lebih baik dari dia.

Padahal, banyak akibat buruk yang bisa terjadi akibat perkataan sahabat. Selain putusnya tali silaturahmi dan digosipkan tadi, sahabat juga bisa mendatangkan keputus asaan pada orang yang dikritik. Terutama jika sahabat melakukannya secara rutin. Perkataan-perkataan negatif seperti, “Bodoh kamu!”, “Dasar nggak becus!”, “Gitu aja nggak bisa!” dan banyak kata negatif lain dapat mendatangkan pengaruh psikologis pada orang yang dikritik. Minimal, mendatangkan rasa sakit. Lalu lama kelamaan, kata-kata itu akan berulang dalam pikiran, dan menjadi sebuah program dalam alam bawah sadarnya, “Ah, saya kan memang bodoh. Saya memang nggak becus dan nggak bisa apa-apa.”

Kritik seharusnya bersifat membangun, bukan membinasakan.

Setelah itu, alih-alih pekerjaan mereka membaik, malah makin parah. Karena mereka sudah berpikir, “Toh aku pasti salah. Aku kan, bodoh.” Lalu sahabat pun makin emosi dan makin mencecarnya dengan kalimat-kalimat yang semakin menjatuhkan. Jika sudah demikian, ada dua peluang yang bisa terjadi: orang itu mendendam pada sahabat, atau orang itu memikirkan self destruction. Apalagi kalau bukan bunuh diri.

Tentu, Sahabat Saliha tidak ingin orang-orang di sekeliling sahabat menyimpan dendam pada sahabat, bukan? Apalagi, kalau orang itu jadi skeptis dan depresi. Sadar tidak sadar, kalau itu terjadi, itu artinya sahabat juga andil dalam menghancurkan hidup seseorang.

Karena itu, ada baiknya kita sama-sama mengingat: kritik itu pada dasarnya bersifat membangun, bukannya membinasakan. Dari sini, kita bisa memilah lagi kata-kata yang akan kita sampaikan. Kritikan yang disampaikan dengan santun akan jauh lebih baik daripada omelan berujung penghinaan.

Jika kita masih emosi, ada baiknya kita menenangkan diri dulu dan berdoa minta dikuatkan. Setelah siap, kita datangi orangnya. Lalu kita meminta maaf dulu. Bukan karena kita salah, tapi jaga-jaga kalau kita keceplosan mengatakan hal-hal yang menyerangnya. Setelah itu, kita bisa mengarahkan kritik itu ke arah saran:

“Maafkan kalau ini menyinggungmu, tapi saya rasa ada hal yang perlu diperbaiki dalam kinerja pekerjaanmu. Beberapa kali, staf HRD sudah mengeluhkan sikapmu. Saya harap, kamu mau mengerti kalau kantor ini tidak menoleransi keterlambatan …”

Memang karakter orang tidaklah sama. Ada yang bisa menerima kritik, ada juga yang langsung membantah. Jika sahabat berhadapan dengan tipe kedua, sahabat tidak perlu capek-capek mengomelinya panjang lebar. Hasilnya: adalah dia akan menentang hingga kalian akan bertengkar. Cukup katakan dengan elegan konsekuensi yang harus dia hadapi. Misalnya: “Baiklah, kalau begitu, saya terpaksa harus memotong gajimu bulan depan,” atau, “Maaf, mau tidak mau, saya harus mengatakan ini kepada bos.”

Walau memang menyebalkan, pada akhirnya, kita juga harus menerima fakta ini: baik kita maupun orang yang kita kritik sama-sama manusia biasa. Artinya: kita juga bisa salah. Karena itu, kita sebenarnya tidak berhak menghakimi orang lain. Apalagi sampai menghina dan menjatuhkannya.

Kalau pun kita terpaksa berada dalam kondisi harus mengkritik, ada baiknya kita koreksi diri dulu. Apakah kita sudah tidak melakukan hal yang kita kritik? Ataukah kita sebenarnya melakukan hal yang sama?

Menjadi contoh dan teladan juga cara untuk mengajari, lo. Ini bahkan lebih berdampak daripada omelan dan keluhan terus menerus. Sekali lagi, perlu kita ingat. Dalam sebuah kritik, kita sedang berusaha menanggapi pendapat, sikap, atau pekerjaan seseorang. Bukan sedang berusaha mempermalukannya.

Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Putu Felisia, Bali.

RECOMMENDED FOR YOU