LOVE
2018-01-09 13:53:00

Santai Tanpa Ribet Bikin Millennials Betah Bekerja

BY SYARIFAH AULIA

SALIHA.ID - Peran millennials seakan menjadi bumbu manis dalam era globalisasi saat ini. Perubahan dari zaman ke zaman yang serba cepat membuat para millennials mendapatkan tempat yang dianggap sebagai pioner dalam sebuah pekerjaan. Kreatif, berwawasan luas, mudah bergaul dan berpikiran terbuka, sangat lekat dengan karakter generasi millennials.

Generasi yang lahir dalam rentang tahun 1980-1999 ini, memberikan warna baru dalam dunia bisnis. Tumbuhnya Start Up yang menjanjikan sebuah terobosan mampu menarik minat untuk mengasah bakat yang dimiliki. Namun, tak jarang peran millennials justru menjadi bumerang dalam sebuah perusahaan. Kenapa?

Sebagai generasi yang memiliki rasa ingin tahu begitu besar, millennials terkesan minim loyalitas dalam bekerja serta cepat merasa bosan. Ada saja yang membuat millennials memutuskan untuk pindah dari kantor ke kantor lainnya. Mulai dari lingkungan yang kurang asyik, tuntutan pekerjaan yang berat, jarak tempuh yang tidak fleksibel sampai besaran gaji.

Kini bukan lagi hal mengejutkan, bila suatu Start Up dipimpin oleh millennials dengan usia 25-35 tahun. Pasalnya generasi ini mendapatkan pola pendidikan dan pengasuhan yang berbeda. Sehingga menumbuhkan sikap berkompetisi tinggi serta tujuan yang diimbangi motivasi besar dari berbagai pihak.

Kebanyakan millennials hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga tahun untuk bertahan dalam satu pekerjaan. Sebuah University asal Amerika tepatnya di Utah menjelaskan, sekitar 68 persen millennials menyukai pekerja yang menjadi passion hidup dan selalu ingin mengeksplore lebih banyak hal.

Tenang, millennials juga bisa bertahan dalam pekerjaannya kok. Tentunya dengan hal-hal yang membuat mereka merasa dihargai dan mendapatkan prospek yang jauh lebih baik. Interior kantor yang eye catching dengan dekorasi dan konsep open office lebih dilirik millennials dalam bekerja. Katanya sih, suasana kantor sangat memengaruhi mood saat bekerja. Konsep ini juga telah diterapkan Start Up dunia, sebut saja Apple, Google, Facebook, Unilever dan masih banyak lagi.

Para millennials juga enggan berurusan dengan peraturan kantor super 'ngerepotin' seperti jam kedatangan dan jam pulang. Bagi millennials menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu menjadi goals. Memang sih terdengar radikal, tapi sistem pekerjaan seperti inilah yang mampu membuat millennials betah. Bagi mereka, kini bukan lagi zamannya bad mood enggak karuan karena absen berantakan gara-gara macet saat menuju kantor.

Dan satu lagi nih, tanpa disadari millennials memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi lo. Generasi ini rela menghabiskan waktu dan memutar otak untuk membuat program guna menyejahterakan masyarakat. Mungkin terdengar klise, namun millennials sangat peduli akan hal-hal tersebut.

Bersikap suka-suka bukan berarti millennials susah diatur lo. Peran pemimpin yang supel dan seru lebih mendapatkan tempat di hati para millennials. Pemimpin yang mampu memberikan cerminan pengembangan diri serta keterampilan yang dibutuhkan akan lebih dihargai. Menurut survei yang dilakukan Cornerstone OnDemand, sekitar 38 persen millennials mengalami ”technology overload”, dan 41 persen mengalami ”information overload”.

Sebagian besar waktu dihabiskan untuk berdiam diri memantau perkembangan dunia internet, mulai dari aplikasi, sosial media seperti Youtube dan Start Up. Besar harapan millennials untuk memiliki kehidupan yang lebih maju dengan gayanya sendiri. Sehingga jika suatu saat generasi ini menjadi pemimpin, tak ada lagi sikap senioritas dan otoriter. Justu sikap saling memiliki, menjunjung tinggi etika dan tranparasi menjadi andalan.

So, kalau kamu millennials yang seperti apa nih?

RECOMMENDED FOR YOU