LOVE
2018-03-09 14:22:00

Sebelum Menikah, Sebaiknya Diskusikan Hal Penting Ini

BY MEDIA SARI

SALIHA.ID - Selain bikin deg-degan, mempersiapkan pernikahan juga menyita banyak perhatian. Tapi sayangnya banyak pasangan hanya fokus mengurusi hal-hal yang bersifat material saja seperti gedung, katering, dekorasi, baju dan makeup. Hal-hal penting yang menyangkut kehidupan setelah menikah justru sering terlupakan. 

Padahal menurut Ayoe Sutomo, M.Psi., CGA, honeymoon stage dalam pernikahan itu hanya sekitar 6 bulan sampai 1 tahun. Setelah itu, tahap selanjutnya merupakan masa dimana kedua pasangan mulai melihat realitas dalam kehidupannya. Jika tidak mampu menerima realitas tersebut dengan baik, maka ini bisa memicu konflik berkepanjangan. 

"Jika kedua pasangan tidak memiliki komitmen pernikahan yang kuat, konflik yang dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan perceraian," sahut psikolog dari Primadita Consulting tersebut.

Untuk itu, ia menyarankan sebelum menikah sebaiknya pasangan mendiskusikan beberapa hal. Pertama yaitu mengenai tujuan pernikahan mereka.

Dalam Islam tujuan menikah antara lain menyempurnakan separuh agama, menjalankan sunnah rasul, menjauhi maksiat dan zina, memiliki keturunan dan membangun keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah.

Bicarakan pula mengenai pembagian tugas dalam rumah tangga. Misalnya siapa yang bertanggungjawab mencari nafkah dan siapa yang mengurusi pekerjaan rumah tangga. Ini sangat penting karena akan berpengaruh pada prioritas kegiatan dan pembagian waktu masing-masing individu.

Baca Juga :

Menikah di Usia Muda, Rawan Bercerai?

Menikah itu Untuk Memupuk Senang, Bukan Untuk Menumpuk Hutang

Tak ada salahnya juga lo, membuat perjanjian pra-nikah atau Prenuptial Agreement (pre-nup) sebelum melangsungkan pernikahan. Perjanjian ini berisi kejelasan tentang harta, hak dan kewajiban pasangan suami-istri, serta tentang hak asuh anak jika keduanya bercerai di kemudian hari. Meski tidak familiar di Indonesia tapi perjanjian ini secara hukum diatur dalam Pasal 29 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

"Hukum di Indonesia menganggap harta setelah menikah adalah milik bersama, termasuk hutang. Jadi kalau suami berhutang dan tidak mampu membayar karena mengalami kebangkrutan, maka harta istri juga bisa diambil untuk melunasi hutang tersebut. Tapi jika sebelumnya ada perjanjian pra nikah, biasanya kaitannya dengan pisah harta, maka harta istri tidak bisa diambil. Jadi istri bisa menggunakan harta tersebut untuk menghidupi diri dan anak-anaknya. Jadi harta yang akan diambil oleh bank hanya harta milik suami," paparnya memberi contoh kasus.

Lebih lanjut psikolog yang mengenakan hijab tersebut menambahkan bahwa perjanjian pra nikah tidak diharuskan pembuatannya. Tetapi perjanjian ini lebih disarankan dibuat, untuk melindungi kedua belah pihak.

"Kalau kita melihat dari sudut pandang positif, perjanjian pra nikah sesungguhnya melindungi kedua belah pihak. Tapi itu balik lagi ke kenyamanan masing-masing individu. Tentunya pada saat membicarakan hal ini, cara mengkomunikasikannya juga harus tepat. Kalau tidak tepat, ya jatuhnya jadi isu kepercayaan. Kok jadi nggak percaya sama saya, padahal kan kita akan hidup bersama," jelasnya menutup pembicaraan.

Bagaimana sahabat Saliha, sudah siap mendiskusikan hal ini dengan calon pasangan? 

RECOMMENDED FOR YOU