LOVE
2018-03-12 18:34:00

Yuk Ajari Anak Dengan Cinta

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Ada banyak kisah dalam pengalamanku menjadi guru privat. Setiap anak memiliki karakter dan keunikannya sendiri-sendiri. Dan sebagai guru, saya tidak bisa menyamaratakan cara pengajaran, justru sayalah yang harus bisa menyesuaikan diri dengan keunikan mereka.

Adalah Nisya, yang menjadi salah satu dari anak-anak itu. Sedari awal, sang ibu telah memberitahu saya mengenai anaknya yang hobi mengobrol di kelas, dan konon katanya sulit diatur. Prestasi akademiknya tak pernah memuaskan semenjak SMP, tak jarang Nisya harus mengikuti remedial untuk memperbaiki nilai ulangannya yang di bawah KKM.

Ketika saya bertemu pertama kali dengannya dan kami belajar bersama, saya tidak menangkap ada yang janggal dari seorang Nisya, tidak juga melihat ada kesulitan yang berarti darinya saat menyerap pelajaran yang saya coba jelaskan. Saya yakin remaja putri itu cerdas dan berbakat. Keyakinan yang sama yang saya miliki terhadap siswa lainnya.

Setelah beberapa kali pertemuan terungkap cerita lain, bahwa Nisya acapkali dipanggil ke ruang BK karena membuat kesalahan. Membuat gaduh dan melawan guru, seperti jadi rutinitasnya. Pernah juga ia bermasalah karena ketahuan kabur dari sekolah.

Saya pun sering kena batunya. Beberapa kali saya datang sesuai waktu yang telah disepakati, namun sesampainya di sana Nisya belum pulang ke rumah. Lebih dari satu jam menunggu ia tak juga datang. Saya pun memutuskan untuk pulang karena ada jadwal dengan murid lain. Belakangan saya ketahui, bahwa ia sengaja pergi bermain sepulang sekolah untuk menghindari kegiatan belajar, sebab ia tak suka.

Padahal berbagai motivasi yang biasa saya berikan ke anak lainnya, telah saya coba berikan padanya juga. Ia nampak menyimak dan mengerti saat saya bicara, namun belum juga kalimat-kalimat saya membekas padanya. Ia hanya mengiyakan di hari itu, dan seperti melupakan di hari berikutnya.

Upaya saya meyakinkan Nisya bahwa ia cerdas dan bisa mengerjakan banyak hal, belum juga berhasil. Terus terang, saya hampir saja menyerah, karena biasanya murid-murid mulai banyak kemajuan setidaknya dalam satu semester.

Sementara dengan Nisya, sudah hampir satu tahun saya mendampinginya belajar, tapi belum juga ada perubahan. Ada rasa kecewa pada diri saya sendiri, juga rasa tak enak pada orang tuanya yang sudah membayar saya mahal.

Akhirnya, saya mulai pasang strategi ekstra. Jika semula saya hanya mengajaknya mengobrol ringan saat belajar untuk membuatnya nyaman, maka saya mulai menggali isi hatinya untuk membuatnya merasa dipahami. Tak jarang, ia menangis saat kami sedang berbicara. Dan tak jarang pula, sesi belajar kami hanya dihabiskan untuk membicarakan isi hatinya. Sekilas memang yang kami lakukan terlihat membuang waktu. Tapi saya percaya ini akan berguna.

Dari tangisan dan keluh kesahnya pun terungkap, bahwa yang ia lakukan selama ini hanya mencari perhatian. Ia merasa diperlakukan dengan tidak adil, dan semua seperti menilainya sebelah mata. 

Tak ada yang berusaha mengerti. Pun, apa yang diperbuatnya di sekolah adalah upaya memberontak akan kesempatan yang selalu diberikam kepada murid yang itu-itu saja, seolah siswa lain termasuk dirinya tak layak. Padahal, Bahasa Inggrisnya cukup baik dan aktif, tapi tak pernah ia dipilih untuk dikirim ke perlombaan.

Imajinasinya luar biasa dalam mengarang, daya khayalnya tinggi, tapi lingkungan justru menganggapnya aneh dan “gila". Kemampuan bicaranya yang baik, juga tak terarah hingga hobi bicaranya sering digunakan di waktu yang tidak tepat. Ia juga tak suka dengan pengajaran satu arah di sekolah karena baginya itu membosankan.

Itu yang membuatnya memilih mengobrol di jam pelajaran hingga dihukum dan diberi point pelanggaran. Akhirnya saya katakan padanya ketika ia sudah merasa tenang, “Kesempatan tidak asal pilih orang,  kesempatan hanya datang pada orang yang siap. Karena itu buatlah kesempatan memilihmu.”

Mungkin hari itu ia tak setuju pada saya, tapi saya optimis ia akan terus mengingatnya hingga ia membuktikannya sendiri.

Kemudian saya pun mulai berunding dengan ibunya, dan bersepakat bahwa untuk mengubah Nisya kami pun harus berubah. Tidak ada tuntutan atau komplain saat nilainya jelek, melainkan kami harus menggantinya dengan sugesti dan motivasi agar ia mendapatkan hasil yang lebih baik. Kami sepakat pula untuk belajar mendengarkan sepenuh hati dan memahaminya. 

Menempatkan diri tak hanya sebagai orang tua, namun juga sosok yang bisa dipercaya. Dengan kata lain, jika kami menginginkan sesuatu yang terbaik dari Nisya, maka kami juga wajib memberikan hal-hal yang dibutuhkan Nisya secara tepat. Dan kebutuhan itu adalah ekistensinya sebagai sosok remaja yang sedang tumbuh dengan segala keunikannya. Alhamdulillah sang ibu menyetujuinya dan kami mulai bekerjasama.

Selain itu, saya juga bersepakat dengan Nisya untuk bekerja sama membuat suatu tonggak perubahan dalam hidupnya, membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa mencapai sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang akan membuat orang di sekitarnya menyadari bahwa anggapan mereka selama ini yang mengira Nisya hanya trouble maker dan tak bisa apa-apa adalah keliru. Kami sendiri belum tahu seperti apa bentuknya, tapi kami sama-sama berjanji untuk bekerjasama.

Setelah beberapa lama, perubahan mulai nampak. Motivasi yang saya coba tanamkan mulai ia terapkan. Semangat belajarnya jauh lebih baik, walau pun kami masih menghabiskan hampir separuh dari jam belajar untuk mendengarkan cerita dan keluh kesahnya di hari itu.

Masalah yang ia timbulkan jauh berkurang, walau belum seluruhnya hilang. Tak apa, karena sikapnya kini jadi begitu manis, sisi lain dari anak Itu mulai terlihat satu persatu. Tak semua orang bisa melihatnya, tapi saya sungguh bisa merasakannya.

Suatu ketika, Nisya menelepon saya dari sekolah. Dengan suara riang dan histeris ia menyampaikan bahwa dia akan dikirim mewakili sekolah ke lomba menulis cerpen. Dan ternyata, ia meraih gelar juara hingga tingkat provinsi. Prestasi itu menjadi titik balik maksimalnya. Sejak itu, ia terlihat lebih percaya diri. Matematika dan IPA bukan lagi masalah baginya, begitu pun dengan pelajaran lain.

Para guru di sekolah jadi lebih perhatian, akibatnya, Nisya pun jadi lebih menghormati mereka. Dan ketika kami belajar bersama, tak ada lagi keluhan, yang ada hanya rasa tertantang untuk menyelesaikan soal-soal. Tak pernah saya melihat ia begitu bergairah dalam belajar di waktu sebelumnya.

Belum lama ini, kabar baik datang lagi. Nisya mengikuti lomba pidato berbahasa Inggris di salah satu kampus negeri ternama di negeri ini. Itu adalah kali pertama ia mengikuti lomba pidato seumur hidupnya. Tema yang ia pilih adalah mengenai pendidikan di Indonesia, dan ia meraih juara pertama. Alhamdulillah, akhirnya hobi bicara Nisya tersalurkan dengan baik.

Demikianlah, bahwa seringkali permasalahan pendidikan hanya dianggap sebagai permasalahan kecerdasan saja. Sehingga kita jadi sering menuntut tanpa memberikan hak yang dibutuhkan anak. Padahal semua anak terlahir cerdas. Kitalah yang tidak memberikan kepercayaan dan dorongan dengan takaran yang pas.

Dan pada akhirnya sosok Nisya semakin menyakinkan saya, bahwa dalam mengajar butuh cinta. Cinta seorang guru, adalah terapi  yang membuat siswa mampu menemukan jati diri. Dan kasihnya adalah sugesti yang bisa membantu mereka mengembangkan diri secara optimal.

 

Tulisan ini adalah kiriman kontributor Elita Duatnofa, Depok. Beberapa buku motivasi & pengembangan diri telah ia tulis. Selain menulis, ia juga aktif mengajar dan terjun dalam dunia kerelawanan khususnya bidang lingkungan hidup. Ia bisa disapa lewat email elieta.duatnofa@gmail.com