LOVE
2018-03-09 15:58:00

Inilah Alasan Mengapa Perempuan Enggan Keluar dari KDRT

BY DEE

SALIHA.ID – Maya, bukan nama sesungguhnya, merasa geram saat melihat kedatangan Ana (nama samaran) dengan wajah suram. Dengan cepat, Maya dapat menduga apa yang menimpa sahabatnya. Tak perlu profesor untuk  menebak apa yang terjadi. Suami Ana kembali memukulinya, entah apa lagi alasannya kali ini.

Maya kembali mendorong Ana agar berani meninggalkan suaminya. Bahkan Maya berjanji untuk mencarikan pekerjaan dan menyediakan rumah agar Ana tetap dapat hidup bersama anak-anaknya. Namun lagi-lagi Ana menggeleng. Ia lebih memilih bersabar dan mendoakan suaminya agar suaminya bisa sadar.

Mendengar jawaban ini, Maya merasa kesal. Ia tidak mengerti mengapa Ana tetap bertahan di dalam hubungan yang tidak sehat sementara ia sebagai teman sudah berusaha setengah mati untuk membantu.

Kita mungkin pernah berada di dalam posisi Maya. Kita menghadapi teman, saudara atau tetangga yang mengalami KDRT. Kita ingin mendukungnya dan membantunya keluar dari masalah. Namun teman tersebut, dengan berbagai alasan, enggan keluar dari KDRT. Kita tidak mengerti mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan KDRT. Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran mereka?

Psikolog Finandita Utari yang pernah bekerja di Divisi Rujukan untuk KDRT menuturkan bahwa dalam rata-rata kasus yang ia temui, ada dua faktor yang memengaruhi korban sehingga enggan untuk keluar lingkaran kekerasan. Dua faktor tersebut adalah:

Faktor ekonomi

Tidak semua perempuan mampu menghidupi diri mereka sendiri secara mandiri. Beberapa perempuan menggantungkan hidup mereka secara ekonomi kepada suami. Akibatnya, jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga, ia tidak berani meninggalkan rumah karena tidak tahu bagaimana menghadapi masa depan.

“Istri yang memiliki ketergantungan secara ekonomi terhadap pasangan biasanya cenderung untuk mempertahankan rumah tangganya karena ia berpikir bahwa, ‘jika saya berpisah, maka siapa yang akan menghidupi saya dan anak-anak?” tutur Finandita.

Faktor psikologis

Selain faktor ekonomi, ada juga perempuan yang secara psikologi memang tidak mau keluar dari kondisi tersebut. Ia lebih rela menjadi korban dari situasi KDRT. Menurut Finandita, ada dua jenis istri yang bertahan dalam hubungan tidak sehat, yaitu istri yang takut kehilangan atau takut dibilang gagal dan istri yang tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan hanya berharap suaminya berubah.

Istri tipe pertama, menurut psikolog dari Primadita Consulting ini, adalah perempuan yang sebenarnya bertahan atas nama cinta. Ia takut meninggalkan pasangan karena dianggap gagal membina rumah tangga atau mempertahankan biduk rumah tangga.

Selain itu ada juga tipe kedua, yaitu jenis perempuan yang cenderung tidak dapat menyelesaikan masalah.

BACA JUGA:

Cara mendukung perempuan agar berani keluar dari KDRT

“Perempuan ini berharap pasangannya akan berubah dan tidak memukul lagi,” jelas Finandita. Padahal, menurutnya, tidak seharusnya perempuan memberikan ruang gerak bagi pelaku.

“Sekali pelaku diberi ‘ruang’ untuk melakukan kekerasan, maka ia akan melakukan lagi di kemudian hari dan seterusnya.”

Karena itu Finandita menyarankan agar korban berhenti untuk merelakan dirinya sebagai korban.

“Kalau kita tidak mau menjadi korban, maka kita harus keluar dan lari cari pertolongan. Jangan bertahan! Lari, pergi dan tinggalkan!” katanya tegas.

RECOMMENDED FOR YOU