LOVE
2018-03-13 19:31:00

Kapan (Siap) Nikah?

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Setiap kali ada acara kumpul keluarga atau kondangan ke tempat teman, rasanya ada saja yang menanyakan hal klise seperti, “Sama siapa, nih?, “Pacarnya mana?” atau “Kapan nyusulnya?”

Umur yang kian beranjak, jodoh yang tak kunjung datang … akhirnya membuat kita gelisah sendiri. Pada akhirnya, alih-alih memikirkan rancangan masa depan kita, kita justru terjebak dalam pergumulan menemukan laki-laki untuk dinikahi secepatnya. 

Padahal, penting sekali untuk menyadari kapan, sih … sebetulnya kita mau menikah? Apakah saat ini kita sudah siap lahir dan batin?

Desakan dari kehidupan sosial mau tidak mau membuat kita berusaha mencoba memenuhi tuntutan masyarakat, alih-alih memikirkan kapankah sebetulnya kita siap berumah tangga. Ingat, lo … menikah itu bukan sekadar duduk di pelaminan sambil pakai pakaian pengantin mewah. 

Mengenai soal kapan baiknya seseorang menikah ini, banyak juga pro dan kontra yang beredar. Ada yang bilang, menikah itu makin cepat makin baik, ada yang bilang, menikah di usia muda itu kurang baik, ada pula yang menyatakan kalau sudah ada yang cocok, kenapa tidak langsung menikah saja. 

BACA JUGA:

Menikah di usia muda rawan bercerai 

Walau pemerintah juga sudah menetapkan batas umur minimum untuk menikah, kita sering bingung juga. Standarisasi kesiapan orang untuk menikah itu sangat simpang siur. Akhirnya, alih-alih memikirkan kesiapan mental dan emosi, kebanyakan orang mengalihkan kesiapan itu pada sesuatu yang bersifat kasat mata saja. Misalnya saja: umur yang sudah matang, pekerjaan yang sudah mantap, dan lain-lain. 

Bukannya hal itu salah. Akan tetapi, ada hal-hal lain yang patut dipikirkan sebelum Sahabat Saliha memutuskan untuk menjejaki jenjang pernikahan:

Komitmen kepada suami dan keluarga.

Kalau Sahabat Saliha menikah, artinya sudah siap untuk mendedikasikan diri untuk berumah tangga. Suami dan anak-anak semua perlu dilayani. Sebagai wanita, ada kewajiban untuk mengasuh dan mendidik anak-anak. Belum lagi, di rumah-rumah tangga yang tidak mampu membayar asisten rumah tangga, istri diwajibkan juga melaksanakan tugas-tugas domestik.

Jika Sahabat Saliha masih suka bersenang-senang bersama teman-teman, pergi ke mana pun tanpa ada yang melarang, Nah … perlu memikirkan lagi keputusan ini.

Penundukan diri kepada suami dan mertua.

Ada yang bilang, kalau wanita itu wani ditata (harus berani diatur-atur-bahasa Jawa). Walau penghasilan lebih besar dari suami, berasal dari keluarga yang lebih berpunya dari keluarga suami, pada akhirnya perempuan haruslah tunduk kepada suami dan bersedia menghormati mertua.

Kalau masih belum bisa menekan ego, ada baiknya introspeksi dulu. Apakah keputusan menikah ini sudah tepat atau belum.

Bersatu dengan keluarga besar suami

Pada dasarnya di Indonesia, pernikahan bukanlah urusan dua kepala semata. Ketika seorang wanita menjadi seorang istri, dia harus siap juga menghadapi keluarga besar suaminya. Walau pasti, dalam keluarga besar itu ada banyak karakter dan tidak semua orang memiliki sifat baik.

Pada pertemuan keluarga, seorang istri haruslah tampil mengesankan. Dengan begitu, seorang istri juga menjaga nama baik suaminya (ingat: kebiasaan hampir semua keluarga besar adalah bergosip). Tidak siap dengan perubahan aturan, kebiasaan dan kebudayaan juga bisa bikin stres, lo.

BACA JUGA:

Sebelum menikah sebaiknya diskusikan hal penting ini

Merawat anak dalam jangka panjang

Banyak perempuan yang menikah tanpa memiliki kesiapan memiliki anak. Kehamilan sangat memakan energi dan emosi. Setelahnya telah menanti tugas-tugas merawat dan mengasuh bayi baru. Ini tidak mudah. Namun, akan lebih ringan jika dilakukan dengan hati yang penuh kesiapan.

Bertumbuh bersama suami

Ini juga perlu diperhatikan. Kadangkala, kita mengharapkan suami berubah sementara kita tidak mau berubah. Hal ini akan terus menerus mendatangkan pertengkaran. Terlebih jika satu mulai membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain.

Karena itu, sebelum menikah ada baiknya masing-masing memegang prinsip saling mengisi kekurangan dan berusaha bertumbuh bersama.

Setia hingga maut memisahkan.

Ini juga sangat penting. Sebuah pernikahan tidak direncanakan untuk sebuah perceraian bukan? Menyiapkan hati dan pikiran untuk setia akan menjadi sebuah benteng yang kuat dari godaan-godaan di luar.

Demikian hal-hal yang baiknya dipikirkan sebelum Sahabat Saliha memutuskan menikah. Tentu hal-hal di atas juga harus dibarengi dengan doa dan iktiar.

Nah, bagaimana Sahabat Saliha? Apakah sahabat sudah siap menikah

Tulisan ini merupakan kontribusi Putu Felisia, Bali. Hanya seorang perempuan yang senang menulis dan berbagi pengalaman kehidupan.

 
RECOMMENDED FOR YOU