OASE
2018-08-01 10:44:00

Menit Kemarahan dan Ego

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Ada sedikit catatan dari perhelatan besar Piala Dunia 2018 lalu. Tim Nasional Kroasia datang ke Piala Dunia hanya membawa dua striker. Mario Mandzukic yang mencetak goal kemenangan atas inggris dan Nikola Kalinic yang dijadikan cadangan.

Lima menit terakhir ketika Kroasia melawan Nigeria, pelatih Zlatco Dalic memerintahkan Kalinic untuk warming up dan bersiap menggantikan pemain lainnya di lapangan.

Kalinic dengan marah menolak untuk bermain, sebagai bentuk protes karena terlalu lama di bangku cadangan.

Kalinic melihat dirinya sebagai pemain top. Dia merasa terpilih di timnas bukan untuk bermain hanya 5 menit. Akhirnya pelatih beralih ke pemain lain untuk menggantikan Pjaca.

Setelah pertandingan, Kalinic menolak untuk meminta maaf, meskipun ada seruan dari staf pelatih lainnya.

Pelatih kemudian memecatnya dari tim, dan mengirimnya pulang dari Rusia. Kalinic kemudian berlibur, bahkan memposting foto dirinya menikmati liburannya di tempat lain.

Dia tampaknya membayangkan Kroasia tidak akan berhasil jauh ke babak selanjutnya di turnamen.

Tapi apa yang terjadi hari ini? Kroasia telah mencapai prestasi sepakbola terbesar mereka dalam sejarah, yaitu mencapai final Piala Dunia yang dengan kata lain punya kesempatan besar menjadi Juara Dunia!

22 pemain lainnya adalah pahlawan nasional. Nama mereka akan tertulis di setiap hati generasi ke generasi.

Kalinic seharusnya menjadi bagian di dalamnya tapi akhirnya tidak. Semua karena menit kemarahan. Menit kebanggaan dan ego yang membengkak.

Dia mungkin menyesal sekarang. Dia mungkin menyadari omong kosongnya. Tetapi sudah terlambat. Beberapa media dalam dan luar negeri mencatat mungkin inilah penyesalan terbesar Kalinic seumur hidupnya.

Sahabat Saliha, siapapun kita, tentu pernah merasakan marah, bahkan mungkin tidak jarang kita merasakan kemarahan dan emosi yang sangat.

Memang sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan enggan untuk diselisihi keinginannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah”.

Bersamaan dengan itu, sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya

Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”.

Inilah kekuatan yang terpuji dan mendapat keutamaan dari Allah Ta’ala, yang ini sangat sedikit dimiliki oleh kebanyakan manusia.

Imam al-Munawi berkata,“Makna hadits ini: orang kuat (yang sebenarnya) adalah orang yang (mampu) menahan emosinya ketika kemarahannya sedang bergejolak dan dia (mampu) melawan dan menundukkan nafsunya (ketika itu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini membawa makna kekuatan yang lahir kepada kekuatan batin. Dan barangsiapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika itu maka sungguh dia telah (mampu) mengalahkan musuhnya yang paling kuat dan paling berbahaya (hawa nafsunya)”.

Inilah makna kekuatan yang dicintai oleh Allah Ta’ala yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah”.

Beberapa hadis lain sebagaimana dikutip oleh  Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA dalam muslim.or.id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan tegas mengatakan “Janganlah engkau marah” . Ini berarti perintah untuk melakukan sebab (menahan kemarahan) yang akan melahirkan akhlak yang baik, yaitu: sifat lemah lembut, dermawan, malu, merendahkan diri, sabar, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, ramah dan sifat-sifat baik lainnya yang akan muncul ketika seseorang berusaha menahan kemarahannya pada saat timbul sebab-sebab yang memancing kemarahannya.

Jelaslah kini bahwa kita diharapkan agar terus berlatih menahan diri, mengontrol kemarahan dan meminimalisir ego. Agar tidak terjebak pada penyesalan sebagaimana dialami Nikola Kalinic.

RECOMMENDED FOR YOU