OASE
2018-01-12 09:00:00

Tuhan Tak Mungkin Keliru

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Bertahun-tahun sudah saya berharap diterima bekerja di salah satu perusahaan multinasional yang aktif memproduksi otomotif itu. Saya mengincar posisi HRD karena sedikit banyak ada sangkut pautnya dengan latar belakang pendidikan saya terdahulu. Setiap buka lowongan, saya hampir tak pernah luput melayangkan surat lamaran. Namun sekian kali mencoba, sebanyak itu pula saya harus menelan kecewa. Jangankan lolos, panggilan tes pun tak pernah saya terima.

Ternyata untuk bisa bekerja di sana memang benar-benar tidak semudah yang saya sangka. Entah di mana pangkal kesalahan saya, sampai-sampai surat lamaran beserta CV, ijazah, dan transkrip nilai yang sangat memuaskan itu tidak dilirik personalia. Hebatnya, meski sudah berulang kali kecewa tapi saya tidak pernah berpikir akan menyerah. Terus saya ulangi usaha yang sama tiap kali ada penjaringan.

Sampai suatu hari ….

Telepon genggam saya berdering. Suara di seberang sana mengundang saya hadir esok pagi untuk mengikuti serangkaian psikotes. Alamak … baru diundang saja bahagianya tak terbilang. Jelas takkan mungkin saya menyiakan kesempatan itu. Selama menunggu pagi esok tiba, saya tidak bisa tenang. Tidur hanya beberapa jam saja. Dini hari bangun untuk mempelajari soal-soal psikotes hasil pencarian di internet. Sebetulnya, ini bukan pengalaman pertama mengikuti psikotes. Di perusahan-perusahaan lain saya sudah pernah mengikutinya dan Alhamdulillah selalu masuk top five. Namun entah mengapa, pada pengalaman kali ini rasanya lebih deg-degan, seperti sesuatu yang tak pernah saya lakukan sama sekali.

BACA JUGA:
Jangan remehkan kebaikan kecil 

Pagi harinya saya datang ke kantor tersebut dalam keadaan sangat siap dan penuh rasa percaya diri. Saya kemas tubuh dengan outfit terbaik yang saya miliki. Di dalam sebuah aula kantor, para pelamar dikumpul. Soal demi soal dibagikan dan berakhir beberapa jam kemudian. Semua lembar jawaban, selesai atau tidak, ya tetap harus diserahkan ke meja panitia dan semua peserta diminta menunggu hasil di luar ruangan.

Tibalah saat pengumuman hasil psikotes. Segala puji bagi Allah, nilai saya berada di peringkat teratas dari 39 pelamar. Bersama 4 orang di urutan setelah saya, kami berhak melaju ke tahap berikutnya: wawancara. Sampai tahap ini pun saya tak menemukan masalah berarti. Allah benar-benar memudahkan segalanya.

Singkat cerita, beberapa hari kemudian kabar gembira sampai di telinga saya lewat telepon. Pihak personalia menyatakan saya diterima bekerja sesuai posisi yang saya inginkan. Mereka meminta saya datang esok hari untuk membicarakan kontrak kerja dan gaji. Saya pun memenuhi undangan tersebut dengan riang hati. Dalam kontrak kerja disebutkan bahwa saya akan bertugas di Palembang untuk beberapa tahun dan selanjutnya berpindah ke provinsi-provinsi lain. Atas semua itu, perusahaan memberikan gaji di atas 5 juta serta fasilitas tambahan berupa mess, asuransi kesehatan, kendaraan operasional, dan sebagainya. Semuanya menggiurkan dan tanpa pikir panjang saya menandatangani kontrak.

Tapi … begitu sampai di rumah dan mengabarkan pada Ibu, ternyata rasa bahagia itu sama sekali tidak menular ke beliau. Malah terang-terangan beliau menyatakan keberatan.

“Kita di Pekanbaru ini merantau, Nak. Kalau kamu pun pergi, tinggal mamak sama bapak di rumah. Kalau bapakmu tugas ke luar kota, lalu mamak sama siapa?” kata Ibu dengan raut wajah tanpa semangat sama sekali. Rentetan keluhan disampaikannya panjang lebar.

“Tapi ini kesempatan emas, Mak. Sayanglah ditolak. Mak kan tahu, udah lama aku ingin kerja di perusahaan itu,” balasku.

“Tapi mamak nggak tahu kalau ternyata kerjanya di luar kota. Coba yang lain sajalah, Nak. Berat hati mamak melepasmu pergi.”

Percekcokan pun tak terhindarkan. Saya bersikeras ingin tetap bekerja di sana, sementara Ibu dengan berderai-derai air mata tetap tak memberikan izin. Saya marah pada Ibu. Saya bentak beliau bagai bukan seorang ibu kandung. Gara-gara beliau, saya terpaksa melapor ke personalia untuk membatalkan kontrak, lengkap dengan alasan yang dibuat-buat. Pihak perusahaan menilai saya tidak profesional dan mereka mengganjar tak boleh lagi melamar pekerjaan di perusahaan itu lagi lain waktu.

BACA JUGA:

Jangan bersedih, ini 8 tips untuk memotivasi agar bangkit dari keterpurukan

Kesal hati membuat saya enggan bertegur sapa dengan Ibu. Bahkan sempat terlintas ingin kabur dari rumah dan memikirkan cara bunuh diri paling efektif tanpa menimbulkan rasa sakit. Ibadah saya pun kacau karena merasa Allah seperti tak berpihak ke saya. Baik Ibu, Bapak, dan Tuhan, sama-sama tak memperhitungkan usaha keras saya.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai bisa menerima keadaan. Mau apa lagi? Toh, sudah terjadi. Kesempatannya sudah berlalu. Pelan-pelan hubungan saya dengan Ibu pun mulai mencair. Namun beberapa bulan kemudian, ujian lain menghampiri. Bapak jatuh sakit dan menjadi langganan rumah sakit karena bolak-balik opname.

Puncaknya, Bapak divonis kanker paru stadium 4. Saat dokter mengatakannya, saya merasakan bumi ini seperti bergoyang. Belum lagi Bapak tiada, saya sudah membayangkan perihnya menjadi seorang yatim. Siapa pun tahu derajat sakit Bapak bukan main-main. Harapan hidupnya tipis. Laki-laki gagah itu kini menghabiskan banyak waktu di tempat tidur dengan selang oksigen yang hampir setiap waktu terpasang di hidungnya.  

Di masa-masa mengurus Bapak, bersama ibu, saya merasakan ikatan emosional kami bertiga jadi bertambah kuat. Kami saling menguatkan satu sama lain. Meski Bapak yang sakit, tapi Ibu yang tampak paling tak berdaya. Saban hari saya melihat mata beliau sembab karena banyak menangis, terutama sehabis salat.

Kadang-kadang dia memeluk saya lama sambil berkata, “Nggak terbayang kalau mamak menghadapi ujian ini sendirian.” Sungguh teriris hati saya mendengarnya.

Kadang-kadang dia memeluk saya lama sambil berkata, “Nggak terbayang kalau mamak menghadapi ujian ini sendirian.”

Setelah berjuang lebih kurang dua bulan, Bapak menghadap Yang Kuasa. Kami semua terpukul, terutama Ibu. Kedatangan saudara-saudara dan jiran memang agak menghibur kami yang tengah berduka. Tapi begitu mereka pulang dan rumah kembali sepi, kabut kesedihan itu kembali menebal. Rumah kami yang luas jadi terasa seperti museum yang jarang dikunjungi. Hampa.

Saat Ibu tidur, saya terpekur seorang diri di ruang tengah. Di sinilah saya kembali mengingat percecokan dengan ibu waktu itu. Kalaulah beliau mengizinkan saya merantau jauh, dengan siapa beliau mengurus Bapak? Sementara usia Ibu sudah lebih dari setengah abad serta diiringi beberapa keluhan penyakit. Beliau tidak menguasai kendaraan jenis apapun. Tidak paham mengurus administrasi rawat inap, tidak terlalu cakap bernegoisasi dengan distributor obat agar bisa dapat potongan harga obat kemoterapi, dan mulai banyak lupa.

Jika saya menerima penawaran kerja waktu itu, saya juga pasti akan kehilangan kesempatan merawat dan mencurahkan perhatian pada Bapak di akhir-akhir hayatnya. Pun, apa jadinya setelah Bapak tiada sementara saya harus kembali bekerja di luar kota? Meninggalkan Ibu yang tua seorang diri tentu bukan keputusan bijaksana dari seorang anak. Pekerjaan lain masih dapat dicari, sementara kesempatan merawat Ibu Bapak takkan bisa terulang saat mereka tiada.

Saya tersadar dengan segenap rasa malu. Kejadian waktu itu pasti bukan suatu kebetulan. Pasti Tuhan telah menggariskannya jauh sebelum saya mengetahuinya. Hanya saja, sifat pembangkang ini yang sempat membuat saya berani memusuhi Ibu dan berpikir tidak-tidak. Padahal sesuatu yang sangat saya kehendaki, belum tentu mendatangkan manfaat pada diri sendiri dan orang-orang sekitar.

Ah, Tuhan memang tak pernah keliru dalam mengatur kehidupan makhluknya dan kita sebagai insan yang berpikir memang tak sepatutnya meragukan keputusan-Nya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak.”

(Al-Baqarah 216)

Tulisan ini merupakan kontribusi dari Ade Wulan. Pelalap buku-buku Chicken Soup. Sangat mencintai kota kelahirannya, Pekanbaru, meski rawan berasap jika musim kemarau tiba.

Silakan mampir di rumah maya Ade Wulan:  IG: @dhewoelan dan FB: https://www.facebook.com/ade.wulan.14

RECOMMENDED FOR YOU