OASE
2018-03-13 13:47:00

Genggam Harta Dengan Tangan, Bukan Dengan Hati

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Suatu hari, ayah saya pernah berpesan, “Nak, harta itu cukup digenggam oleh tangan, jangan oleh hati.”

Saya yang saat itu belum mengerti maksudnya, reflek bertanya kenapa. Ayah pun melanjutkan,”Maksudnya, harta dipegang oleh tangan itu, agar kamu mudah memberikannya pada orang lain, mudah berbagi. Dan mudah merelakan kalau harta itu diambil sama yang punya, yaitu Allah. Kalau kamu mencintai harta dengan hati, berat, Nak. Kamu akan menjadi orang yang gila harta bahkan bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.” Saya ber-oh sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Sahabat Saliha, harta merupakan salah satu hal yang bisa menunjukkan berkuasanya seseorang. Dengan harta dan kekayaan, kita bisa membeli apa saja yang diinginkan dan pergi ke mana saja yang kita mau. Kebanyakan orang berpikir bahwa dengan harta, dijamin dia dapat hidup bahagia.

Tak pelak jika mayoritas orang berlomba-lomba mengumpulkan harta. Bekerja banting tulang siang dan malam agar bisa hidup mewah. Menentukan kriteria pasanganpun harus yang sudah mapan. Punya rumah sendiri, mobil pribadi, dan deposit di mana-mana.

Sudah terlihat jelas di era milenial ini, bahwa harta adalah kebutuhan nomor satu. Maka tak mengherankan, bila keserakahan terhadap harta dapat membuat seseorang lupa diri. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, tak peduli walaupun itu merugikan orang lain. Sikut sana sikut sini, tipu sana tipu sini, bahkan banyak sekali terjadi kasus pembunuhan yang terjadi antar saudara lantaran berebut harta warisan. Naudzubillah.

Dalam Islam, kita semua memang dianjurkan untuk memiliki harta yang berlebih. Gunanya tak lain adalah untuk membantu sesama muslim yang masih kekurangan. Dengan harta yang cukup, kita dapat menyejahterakan keluarga. Di luar itu, kita juga bisa dengan mudah mengulurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Menyantuni anak-anak yatim, orang-orang miskin, membangun rumah tahfidz, dan hal-hal positif lainnya.

Contoh seperti ini dapat kita pelajari dari para sahabat Nabi yang berkelebihan harta. Sebut saja, Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah seorang saudagar yang kaya raya. Kafilah dagangnya berjumlah ratusan, jangkauannya bahkan sampai ke kota-kota di luar Makkah.

Semenjak memeluk Islam dan diturunkan perintah zakat, beliau tak tanggung-tanggung menzakatkan separuh dari harta kekayaannya. Bahkan saat Rasulullah dan pengikutnya hendak berhijrah ke Madinah, beliau menyerahkan seluruh hartanya untuk kepentingan itu, sehingga ia sendiri tiba di Madinah dalam keadaan miskin papa. Namun, baginya tidak ada yang lebih penting selain ridho Allah, hingga tak ada ketakutan sedikitpun kehilangan harta untuk dibelanjakan di jalanNya.

Selain itu, ada Abu Bakar. Pria yang dijuluki As-Shidiq ini adalah sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah. Beliau juga merupakan saudagar dagang yang kaya raya. Sama seperti Abdurrahman bin Auf, ia juga tak tanggung-tanggung dalam menyedekahkan hartanya. Dalam setiap peperangan, di situ ada andil Abu Bakar yang menyokong seluruh keperluan perang. Mulai dari tunggangan hingga baju besi.

Pun sama dengan Khadijah RA. Sosok wanita luar biasa ini adalah pendukung Rasulullah yang pertama. Beliau adalah janda kaya raya yang menikah dengan Rasulullah. Setelah datangnya Islam, tanpa ada keraguan sedikitpun, semua hartanya ia serahkan kepada suaminya itu untuk kepentingan dakwah.

Sahabat Saliha, sungguh indah bukan, apabila kita dapat berlaku sedemikian dermawan dengan harta yang kita miliki? Pun jika tak mampu sehebat para sahabat, setidaknya sisihkan 2,5 % setiap bulan dari gaji kita untuk memenuhi hak-hak mereka yang membutuhkan. Dan jika diberi kecukupan yang lebih, alangkah baiknya kita mengeluarkan zakat mall.

Harta yang kita belanjakan di jalan Allah akan membawa keberkahan tersendiri. Tidak ada orang yang akan jatuh miskin lantaran ia rajin bersedekah. Justru Allah akan melipat gandakannya nanti di akhirat. Seperti firmanNya dalam surat Al-Baqoroh ayat 261 berikut ini :

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Allah sendiri yang telah menjanjikan bahwa harta yang disedekahkan akan dilipat gandakan. Jadi, apalagi yang harus ditakutkan? Orang-orang beriman yang yakin terhadap janji Allah tentu akan melaksanakan perintahNya. Menggenggam harta hanya di tangan mereka, sehingga amat ringan berbagi dengan sesama.

Berbeda dengan mereka yang menggenggam harta di hati, tentu sulit untuk merelakan karena teramat mencintai harta tersebut. Alhasil, timbul penyakit hati seperti rasa tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, serta kikir. Terkait hal ini, Rasulullah bersabda :

Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)

Adalah sifat manusia, tidak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki. Namun jangan sampai rasa itu menjadi berlebihan sehingga menimbulkan keserakahan dan kebatilan. Merampas yang menjadi hak orang lain, tidak menyedekahkan apa yang seharusnya disedekahkan adalah dampak dari rasa serakah terhadap harta.

Rasulullah bahkan menyebutkan bahwa yang mampu memenuhi perut manusia hanyalah tanah. Artinya, selagi masih hidup manusia akan terus mencari harta lebih dan lebih tanpa ada rasa puas hingga ia mati berkalang tanah. Astaghfirullah.

Sahabat Saliha, semoga kita semua termasuk manusia yang terhindar dari fitnah harta. Yang mengusahakan harta dengan jalan yang benar, serta membelanjakannya di jalan yang Dia ridhoi. Bukan termasuk orang-orang yang tidak pernah merasa puas dan lupa bersyukur, hingga hidupnya hanya terobsesi untuk menumpuk harta dan kekayaan hingga melupakan kewajibannya, yaitu berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Ayu Fitri Septina, Batang, Jawa Tengah. Dari kecil suka membaca buku dan menulis diary, bermimpi kelak bisa menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Menjadi salah satu kontributor dari antologi Dear Mantan dan Selamat Tinggal Desember. Penulis membulatkan niat untuk menekuni dunia kepenulisan, meski latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan. Penulis bisa dihubungi melalui facebook Ayu Fitri Septina, email : septiwijay19@gmail.com, atau di blog pribadinya www.kisahdisuatusenja.blogspot.com.

 

 

 

 

 

RECOMMENDED FOR YOU