OASE
2018-03-31 15:00:00

Ini Lo Caranya Memuliakan Tamu Dalam Islam

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Sahabat Saliha, memuliakan tamu adalah kewajiban sebagai bentuk ketaatan kita pada Allah dan Rasul-Nya. Menjamu tamu dengan baik juga sebagai bukti rasa syukur kita atas rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk dihidangkan dengan hidangan terbaik kepada tamu-tamu yang datang.

Kita belajar dari Rasulullah saw dalam melayani tamu. Kewajiban kita dalam melayani tamu telah Beliau teladankan seperti dalam hadis berikut. "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamu. "Hak tamu ialah sehari semalam. Kewajiban melayani tamu adalah tiga hari, lebih dari itu merupakan sedekah. Seorang tamu tidaklah boleh berlama-lama sehingga memberatkan tuan rumah." (HR. Bukhari)

Ketika rumah kita kedatangan tamu, sambutlah dengan senyuman. Berikanlah pelayan terbaik sesuai kemampuan, dan jamulah dengan hidangan dengan penuh keridhoan. Buatlah tamu merasa nyaman dan senang dengan pelayanan yang kita berikan. Janganlah berniat riya' dan bermegah-megahan dalam hidangan.

Kita pun tidak boleh memilih-milih tamu seperti mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadis lain Rasullulah bersabda: "Orang-orang miskin akan masuk surga lebih awal empat puluh tahun daripada orang-orang kaya. Wahai Aisyah! Jangan pernah menolak orang miskin meski engkau hanya bisa memberinya separuh biji kurma. Wahai Aisyah! Cintailah orang miskin dan dekatkanlah mereka kepadamu agar Allah juga mendekatkanmu kepada-Nya dihari kiamat nanti.

Sebagai tuan rumah hendaklah kita mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.

Bagi tuan rumah, sebaiknya mengucapkan, "Silakan dimakan" kepada tamunya sampai beberapa kali. Jika engkau dimuliakan oleh pihak yang mengundang untuk terlebih dahulu mengambil makanan yang ia sodorkan, maka terimalah penghormatan itu.

Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya juga sangat dianjurkan, sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam, “Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)

Anas bin Malik dan Tsabit al-Bannani Radliyallhu anhu pernah bertemu, di mana Anas menyodorkan makanan kepada Tsabit, akan tetapi Tsabit menolak.

Maka Anas berkata kepadanya, "Jika saudaramu menghormatimu, maka jangan engkau tolak penghormatan darinya. Jangan mengecewakannya, karena sesungguhnya ia tengah menghormati ciptaan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.

Termasuk kebaikan apabila tuan rumah menuangkan air di atas tangan-tangan mereka dan bejana itu diedarkan ke kanan. Janganlah melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh tamu seperti memandang mereka diwaktu makan dan mengibaskan tangan di dalam mangkuk serta jangan berhenti sebelum mereka selesai, untuk menampakkan bahwa ia makan sedikit.

Ja'far bin Muhammad berkata: Apabila kalian duduk bersama saudara-saudaramu di hadapan hidangan, maka duduklah yang lama, karena ia adalah saat yang tidak dihitung dari umurnya.

Sebagaimana Nabi Saallaallahu alaihi wasalam bersabda: "Para Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kamu selama hidangannya masih di hadapannya hingga diangkat." (HR. Al Mundziri).

Hasan Al Basri mengatakan bahwa seluruh nafkah yang dikeluarkan oleh seseorang bagi dirinya, kedua orang tuanya, dan orang-orang yang berada di bawah mereka kelak di kemudian hari akan dimintai pertanggung jawabannya, kecuali nafkah seseorang bagi saudara-saudaranya untuk makan. Karena sesungguhnya hal ini akan menjadi hijab baginya dari neraka.

Ali Radliyallahu anhu telah mengatakan: "Sesungguhnya bila aku mengumpulkan teman-temanku untuk makan dari senampan makanan itu lebih aku sukai dari pada aku memerdekakan seorang budak.”

Sebagai tuan rumah, kita diperbolehkan untuk menanyakan, “Hidangan apa yang engkau inginkan untuk aku hidangkan?” Karena tindakan ini berbuah pahala yang melimpah.

Diriwayatkan oleh Jabir Radliyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa memberi kenikmatan kepada saudaranya dengan memakan yang disukainya, maka Allah menetapkan baginya satu juta kebaikan dan menghapus darinya satu juta kesalahan serta mengangkat satu juta derajat dan Allah Ta'ala memberinya makanan dari tiga surga yaitu surga Firdaus, surga Adn, dan surga Khuldi."

Begitu juga sebaliknya ketika kita menjadi tamu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak membebani tuan rumah seperti hendaklah bertamu dengan membawa hadiah untuk tuan rumah,  karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

Jika diundang untuk makan bersama, maka sebaiknya bersabar sampai orang yang paling tua usianya mengambil makanan terlebih dahulu, kecuali orang yang menjadi pemimpin mereka.

Di dalam perjamuan sebaiknya membicarakan hal-hal yang baik, bersikap ramah kepada sesama dan tidak menjadikan apa yang dihidangkan sebagai sarana untuk saling menghina.

Al Hasan bin Ali Radliyallahu anhu pernah mengatakan, "Cermin dari kehinaan diri bagi siapa saja yang menjadikan hidangan dalam suatu perjamuan sebagai bahan ejekan.”

Tidak sepatutnya seseorang menghadiri jamuan makan apabila ia tidak diundang. Disebutkan dalam sebuah hadis. "Sesungguhnya orang yang mendatangi jamuan makan padahal ia tidak diundang, berarti ia datang sebagai orang fasik dan memakan makanan yang haram.”

Kecuali jika ia meyakini, bahwa tuan rumah justru merasa gembira dengan kedatangannya. Sebagaimana pada suatu hari Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam bersama Abu Bakar dan Umar Radliyallhu anhu tanpa diundang sengaja datang ke rumah Abi Ayyub al-Anshari, dengan tujuan mendapatkan makanan, karena kebetulan waktu itu mereka lapar. Pada saat mereka sampai di depan rumah yang dituju, ternyata tuan rumah dimaksud tidak ada. Namun, setelah menunggu beberapa saat dan tuan rumah mengetahui kedatangan mereka, dengan senang hati segera menghidangkan untuk mereka makan.

Semoga Allah memudahkan diri kita dalam memuliakan tamu dengan sebaik-baiknya dan ketika menjadi tamu, berusaha menjadi tamu yang menyenangkan dan tidak merepotkan. Hendaklah bertamu seperlunya saja dan berusaha tidak membebani tuan rumah.

 

Tulisan ini merupakan kiriman Heny Sulistiyani, Magelang. Pemburu buku dan mencintai tulisan sebagai tarian pena untuk terapi diri dan mengingatkan diri sendiri lewat dunia literasi. Berusaha menjadi sebaik baik manusia, yaitu manusia yang bermanfaat untuk sesama, salah satunya lewat tulisan.