OASE
2018-04-11 19:07:00

Belajar Tawadhu dan Sabar dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khadir

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Sahabat Saliha pasti sudah mendengar tentang kisah yang satu ini, kan? Kisah tentang Musa dan Khadir ini menjadi salah satu yang tidak pernah usang dimakan zaman karena banyaknya pelajaran yang bisa kita ambil. 

Suatu waktu, Musa ditanya oleh Allah, apakah ada seseorang yang lebih berilmu dari dirinya. Serta merta Musa menjawab, tidak ada. Dia merasa dirinyalah yang paling berilmu di atas muka bumi. Rupanya, Allah tidak menerima jawaban Musa. Diutusnya Jibril untuk menyampaikan bahwa di bumi ini ada seorang hamba yang lebih berilmu dari Musa. Hamba yang alim itu dapat ditemui di suatu tempat bernama Majma al-Bahrain.

Karena penasaran, Musa pun melakukan perjalanan bersama pembantunya, Yusya bin Nun untuk menemukan hamba alim tersebut. Allah memberikan petunjuk supaya Musa membawa ikan di dalam keranjang. Apabila ikan itu hidup dan melompat ke lautan, maka di situlah ia dapat bertemu dengan hamba yang alim itu.

Setelah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan, Musa memutuskan untuk istirahat dan mempersiapkan perbekalan mereka untuk dimakan. Namun, pembantunya mengatakan bahwa ikan yang ada di dalam keranjang telah melompat ke lautan. Mendengar perkataan pembantunya, Musa segera berbalik arah, kembali ke tempat ikan tersebut melompat

Sampailah ia di sana, dan bertemulah Musa dengan hamba alim yang dicarinya. Namanya Khadir. Musa pun menyampaikan bahwa dirinya ingin mengikuti Khadir dan memintanya mengajari apa-apa yang telah diajarkan Allah kepadanya. 

Mendengar penjelasan Musa, Khadir berkata bahwa Musa tidak akan mampu bersabar bersamanya. Namun, Musa terus mendesak untuk mengikuti Khadir. Akhirnya, Khadir memberikan syarat, seperti yang tercantum dalam firman Allah berikut ini :

"Jika engkau mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (QS al-Kahfi : 66-70)

Perahu yang dilubangi

Nabi Musa setuju akan syarat tersebut. Mereka pun memulai perjalanan. Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di tepi laut. Dilihat oleh mereka sebuah perahu yang tengah menepi dan hendak melanjutkan pelayaran lagi. Khadir berbincang dengan si pemilik perahu tersebut, dan mereka bersedia mengangkut Khadir dan Musa tanpa upah.

Namun, alangkah terkejutnya Musa tatkala perahu itu telah berlabuh dan ditinggalkan pemiliknya. Khadir serta merta melubangi perahu itu, mencabut papan-papannya dan melempar ke laut sehingga terbawa jauh oleh ombak.

Didorong rasa penasaran, Musa melupakan janjinya. Ia pun bertanya kepada Khadir kenapa dia melubangi perahu itu, padahal si pemilik perahu sudah berbaik hati memberikan tumpangan. Musa berkata bahwa perbuatan Khadir begitu tercela, karena itu dapat membuat perahu tenggelam dan membahayakan penumpangnya.

Khadir menoleh, mengatakan pada Musa bahwa usahanya untuk bersabar telah sia-sia. Ia sama sekali tidak bisa bersabar untuk tidak bertanya, sesuai kesepakatan mereka. Musa pun meminta maaf dan berharap Khadir tidak menghukumnya. Mereka melanjutkan perjalanan.

Membunuh anak kecil

Perjalanan membawa Musa dan Khadir di sebuah kebun yang ramai oleh anak-anak. Mereka tengah asik bermain. Di antara sekian banyak anak, ada seorang anak yang tengah tertidur di bawah pohon karena kelelahan. Tak dinyana, Khadir membunuh anak yang sedang tidur itu.

Jerih melihat peristiwa tersebut, tanpa basa-basi Musa bertanya kenapa gurunya, mengapa ia membunuh seorang anak kecil yang tidak berdosa. Tapi, lagi-lagi Khadir mengingatkan bahwa Musa tidak mampu bersabar terhadapnya. Musa kembali meminta maaf dan berjanji tidak akan bertanya lagi. Ini adalah kesempatannya mengikuti Khadir yang terakhir.

Membangun sebuah rumah

Perjalanan dilanjutkan, hingga sampailah mereka di sebuah desa yang teramat bakhil warganya. Tidak ada satu pun dari warga desa itu yang memberikan penginapan dan makanan kepada mereka.

Namun, lagi-lagi Musa dibuat heran dengan ulah gurunya. Pada malam harinya, Khadir membangun sebuah rumah di desa yang penuh dengan warga bakhil itu.

Musa kembali bertanya kenapa Khadir melakukan hal tersebut, padahal menurutnya warga di desa itu tidaklah patut dibantu. Musa juga berkata bahwa Khadir bisa meminta upah dari rumah yang telah dibangunnya.

Mendengar pertanyaan Musa, Khadir mengingatkan bahwa ini adalah akhir dari pertemuan mereka. Tiga kali bertanya sama dengan akhir dari perjalanan. Sebelum berpisah, Khadir menjelaskan maksud dibalik perbuatan yang ia lakukan sepanjang perjalanan yang membuat Musa bertanya-tanya.

Jawaban pertama

Khadir melubangi perahu yang memberikan tumpangan kepada mereka, karena perahu tersebut milik pelaut miskin sedangkan di depan sana telah menghadang seorang raja yang suka merampas tiap-tiap bahtera.

Jawaban kedua

Anak kecil yang dibunuh Khadir adalah seorang anak yang kelak ketika dewasa ia akan mendorong orangtuanya pada kesesatan dan kekafiran, sementara orangtuanya adalah seorang mukmin. Khadir berdoa kepada Allah agar anak itu diganti dengan seorang anak yang sholeh dan menyayangi orangtuanya.

Jawaban ketiga

Khadir membangun rumah di desa tersebut, karena rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim, yang di bawahnya terdapat harta benda peninggalan untuk keduanya. Bapak dari kedua anak tersebut adalah orang yang saleh, karena itu Allah menghendaki agar dua yatim tersebut menginjak dewasa dan mengeluarkan harta yang tersimpan di bawah rumah mereka sebagai rahmat dari Tuhannya.

Di akhir penjelasan, Khadir mengatakan :

"Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri (tapi atas perintah Allah). Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya." (QS al-Kahfi : 71-82).

Nah, itu dia, Sahabat Saliha, kisah Musa dan Khadir. Iktibar yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah, kita tidak boleh takabur terhadap apa yang kita miliki. Senantiasa tawadhu’, merendahkan hati di hadapan Allah dan sesama manusia, karena di atas langit masih ada langit.

Kita juga diajarkan agar senantiasa bersabar untuk jawaban atas peristiwa yang tengah kita alami. Mungkin saat ini kita sedang mengalami kesusahan yang sangat pahit, seolah tidak ada titik terang di sebaliknya. Di saat itulah kita harus bersabar, karena bisa saja jawaban Allah sangat luar biasa. Dialah yang Maha Mengetahui, sumber ilmu dari segala ilmu. Maka rendahkan hati kita dan bersabarlah.

Tulisan ini merupakan kiriman Ayu Fitri Septina, lahir 30 September 1993 di Batang, Jawa Tengah. Dari kecil suka membaca buku dan menulis diary, bermimpi kelak bisa menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Menjadi salah satu kontributor dari antologi Dear Mantan dan Selamat Tinggal Desember. Penulis membulatkan niat untuk menekuni dunia kepenulisan, meski latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan. Penulis bisa dihubungi melalui facebook Ayu Fitri Septina, email: septiwijay19@gmail.com, atau di blog pribadinya www.kisahdisuatusenja.blogspot.com.
RECOMMENDED FOR YOU