OASE
2017-10-18 09:00:00

Aku Hidup Bahagia Sebagai ODHA

BY SYARIFAH AULIA

SALIHA.ID - Sama seperti perempuan lainnya, Aku menginginkan kehidupan yang bahagia. Tumbuh dan besar di keluarga begitu hangat serta berlimpah kasih sayang. Mama dan Keempat kakak selalu memberikan dukungan yang tak pernah henti, seakan menjadi sumber kekuatan untuk terus berusaha menciptakan kehidupan yang sempurna ‘katanya’. 

Namaku Putri Cherry, Aku perempuan biasa yang memiliki semangat luar biasa. Bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan otomotif, satu tekad kuat untuk membanggakan mama dan keluarga dengan jerih payahku sendiri. Menginjak usia dewasa, tentu aku menginginkan sebuah tapak baru kehidupan, yakni membangun sebuah keluarga.

Allah swt menjawab doaku dengan sangat cepat.  Perjumpaanku dengan laki-laki baik hati membuat keyakinan besar dalam hati akan masa depan yang pasti. Juli tahun 2006 lalu, lelaki pilihan hati yang Allah kehendaki, akhirnya mempersuntingku. Sama dengan pasangan baru lainnya. Pernikahan kami terasa begitu manis. Begitu banyak mimpi dan harapan yang kami gantungkan.

Hingga pada saatnya, suamiku sering jatuh sakit, seperti diare, muntah-muntah dan gangguan pencernaan lainnya. Di bulan kedua pernikahan kami, suamiku semakin menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Selama 5 bulan, ia terbaring lemah tak berdaya. Ditambah, pernyataan dokter yang begitu memilukan hati. Suamiku dinyatakan positif HIV.

Selang seminggu setelah mengetahui hal itu. Aku dilarikan ke rumah sakit untuk operasi amandel.  Belakangan ini memang aku sering mengeluhkan sakit tenggorokkan, batuk, dan flu.

Dokter menanyakan riwayat kesehatanku. Aku pun membuka status suami yang positif terkena HIV. Agar penanganan operasi dilakukan dengan benar, aku diminta untuk cek VCT (Voluntary Counceling and Testing) dan tes ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) untuk melihat apakah virus itu reaktif. Ternyata, hasilnya reaktif.

Aku merasa sangat hancur, dengan apa yang terjadi pada kami. Aku tertular virus yang tengah menggerogoti tubuh suamiku.  Hidup terus berjalan, sekeluarnya dari rumah sakit, dia akhirnya dirawat di rumah selama 4 bulan. 

Sambutan keluarga tak begitu baik ketika semuanya kembali ke rumah. Ruang gerakku semakin dibatasi, mulai dari pintu kamar yang harus terus terbuka sampai obat-obatan suami yang tak boleh kusentuh. Orangtua suami terus menunjukkan sikap tidak peduli padaku. 

Suamiku akhirnya mengizinkan aku untuk pulang ke rumah orangtuaku. Mama, tentu saja sedih, saat mendengar apa yang menimpa kami. Tapi aku bersyukur mama terus memberikan dukungan yang luar biasa. Aku mulai kembali bekerja, namun sayang di hari pertama bekerja, aku mendapati kabar kalau suamiku telah meninggal dunia. 

Sepeninggal almarhum suamiku. Aku berusaha kembali pada rutinitas, bekerja dan bekerja, meski penolakan terus datang tanpa henti. Aku dijauhi, dipecat, dan tak ada satu pekerjaan yang mau menerima ODHA sebagai karyawan. Aku sempat marah pada Tuhan. Kenapa hal ini bisa terjadi. Berkat mama dan ketiga kakakku, aku bisa terus menapaki hidup hingga hari ini. 

Tidak pernah terlintas untuk kembali bahagia dengan sosok yang baru. Kembali meraih kehidupan dengan laki-laki yang memiliki cinta setulus hati. Namun, semua itu sirna saat lelaki baik hati membukakan hatinya untukku.  Dia adalah Rully, seorang mantan pemakai shabu yang kini mengubah hidupnya sebagai aktivis HIV/AIDS.

Akhirnya jodoh kembali menyapaku. Kami menikah dengan statusku sebagai ODHA. Aku bersyukur dia menerimaku, kami menikah. Tentunya setelah melewati rangkaian tes kesehatan untuk memastikan kondisinya aman. 

Pertama aku dianugerahi anak laki-laki yang berkebutuhan khusus negatif virus HIV. Dilanjutkan anak kedua dan ketiga yang juga negatif HIV. Aku merasa bahagia karena keluarga ku tidak tertular virus ini. Aku masih rutin mengkonsumsi obat ARV, disiplin menjalani pola hidup sehat yang jauh dari stres, mengonsumsi buah dan sayur higienis, tidak makan makanan mentah, dan berpikiran positif.

Setelah berusaha keras hidup sebagai ODHA, aku yakin suatu hari nanti Allah akan mendengar doaku untuk bisa sehat selalu menemani anak-anak sampai usia dewasa kelak. Kevin (7), si sulung selalu menjadi alarm bagiku.  Dialah yang mengingatkanku minum vitamin.  Entah di usia berapa akan kuceritakan padanya tentang apa yang terjadi padaku. 

Semua peraturan terkait pemeriksaan, minum obat secara teratur akhirnya membuahkan hasil. Ketika aku mencoba memeriksakan kondisi kesehatan rutin,  ternyata CD4 (SIDIFOR)-ku kembali normal, VL (Viral Load)-ku pun hasilnya nol, artinya tidak ditemukan lagi virus di tubuhku.

Alhamdulilah, aku bisa bebas dari virus ini.  Meski sudah dinyatakan negatif hukan berarti aku sudah sembuh sepenuhnya.  Aku masih terus menjalani rangkaian pengobatan untuk memastikan HIV tak datang lagi.