OASE
2018-02-20 15:29:00

Kurelakan Suamiku Untuk Perempuan Itu

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Apa yang akan kau rasakan bila suamimu menikah lagi? Mungkin skenario buruk ini tak pernah ingin engkau bayangkan. Apalagi jika engkau merasa sudah mengorbankan segalanya demi dia. Kau rela berpindah agama, kau berjuang mati-matian mendampinginya saat di titik terendahnya. Dan kemudian, tanpa pernah kau duga, ia membawa perempuan lain ke dalam hidupmu.

Apa yang akan engkau lakukan? Meninggalkannya?

Rasanya, itu yang akan dilakukan kebanyakan perempuan. Tetapi, sahabat saya, Sharen melakukan hal yang berbeda. Dan ia punya alasan yang kuat untuk itu. 

Sama seperti saya, dia seorang mualaf. Sama seperti saya, dia juga seorang pramugari. Kami bertemu di sebuah Lembaga pelatihan pramugari di Jogja. Bedanya? Dia bukan saja lebih cantik, tetapi juga memiliki kelebihan. Tak heran Sharen terlebih dahulu diterima menjadi pramugari regular Garuda Indonesia sementara saya cukup berpuas diri menjadi pramugari penerbangan swasta.

Setelah satu tahun terbang, Sharen memutuskan untuk mengundurkan diri. Sebuah pinangan cinta dari seorang pengusaha muslim membuatnya rela untuk menghentikan karirnya sekaligus memantapkan diri untuk menjadi mualaf. Dunia terasa sangat indah bagi Sharen saat itu. Terlebih setelah satu tahun menikah, Sharen dikaruniai momongan.

Namun keindahan hidup mereka tak berlangsung lama. Sebagaimana hidup, tak selamanya keberuntungan menyertai kehidupan niaga suaminya. Usahanya bangkrut dan terlilit hutang ratusan juta. Suaminya stress menghadapi kenyataan hidup dan nyaris gila. Ia tak lagi mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai suami. 

Sharen tentu saja tak bisa tinggal diam menghadapi situasi. Ia mengalih alih tanggung jawab suaminya.  Ia memutuskan untuk kembali bekerja sebagai pramugari dengan melamar ke sebuah penerbangan asing di Arab Saudi. Dengan berat hati, ia menitipkan anaknya yang usianya belum genap 1 tahun kepada ibu mertuanya. Bukan hanya itu, karena tugasnya ini, Sharen harus menetap di Arab Saudi dan hanya bisa mengunjungi keluarganya setahun sekali. Meski tak mudah, Sharen menjalani ini semua. Tekadnya hanya satu, keluarganya harus tetap jalan, hutang suami terlunaskan dan biaya pengobatannya terpenuhi. 

10 tahun kemudian, kerja keras dan perjuangan Sharen menampakkan hasil. Suaminya mulai pulih dan dapat kembali membangun usaha. Merasa tugasnya telah selesai, Sharen akhirnya mengundurkan diri sebagai pramugari. 

Hubunganku dan Sharen sendiri tidak dapat dikatakan sangat erat. Mungkin karena itu, aku terkejut ketika mendapati email dari Sharen:

Dear Irene,

Assalamualaikum wr wb...

Semoga Irene sekeluarga selalu dalam keberkahan Allah SWT.

Aku tidak tahu tiba-tiba teringat denganmu. Dulu kita sering berkirim kabar melalui Yahoo Messenger. Tapi tiba-tiba terputus karena kesibukan kita masing-masing. Untunglah aku masih menyimpan emailmu ini. Semoga email ini terbaca olehmu.

Irene aku butuh teman. Aku tidak tahu harus bicara pada siapa dan aku juga tidak tahu harus bagaimana. Mungkin karena kita sama sama-sama mualaf, maka entah mengapa tiba-tiba aku mencari emailmu.

3 tahun terakhir ini adalah masa-masa bahagiaku. Aku sudah punya baby lagi berusia 1 tahun, alhamdulillah. Dia perempuan. Lengkap sudah aku memiliki 1 Arjuna dan 1 Srikandi. Kembali berkumpul bersama anak-anakku, suamiku, keluargaku.

Alhamdulillah 10 tahun perjuanganku di Saudi tidak sia-sia. Suamiku sudah kembali pulih, bahkan usahanya kini semakin pesat. Suamiku juga aktif mengikuti kegiatan pengajian.

Irene, 1 minggu yang lalu suamiku bicara padaku, dia akan berpoligami dengan seorang hafidzah bernama Azizah, gadis berusia 25 tahun.

Irene, kumohon jangan hakimi aku dulu dengan setiap dalil syari'at Allah. Aku berharap sebagai sesama wanita kau bisa memahami yang aku rasa. Bila ia menginginkan istri seorang hafidzah, mengapa dia dulu menikahiku yang seorang Katolik ?

Irene, mohon doakan aku agar aku tetap istiqomah dalam keyakinanku. Dan mohon doakan aku, agar aku tidak pernah merasa menyesal telah mengenal agama ini.

Mohon balas emailku bila tulisan ini sudah terbaca olehmu.

Wassalamualaikum wr wb

- Theresia Sharen Magdalena -

Ada gemuruh di dalam dada usai membaca email Sharen. Aku tercenung cukup lama, tidak berani langsung membalas emailnya. Aku hanya khawatir bila langsung kubalas, maka yang tertulis hanyalah rasa seorang Irene yang justru ditakutkan akan menjadi pemberontakan pada syari'at Allah.

Tiga hari kemudian, aku baru berani membalas email dari Sharen. 

Dear Sharen,

Semoga saat kau baca email ini, kau masih berkumpul bersama keluargamu dalam 1 akidah suci Islam.

Sharen, aku rindu berjumpa denganmu. Rindu melihat mata sipitmu yang terpejam saat kau tertawa. Kuharap mata itu kini makin bercahaya dalam sinar terang bacaan ayat-ayat Al-Quran.

Sharen, Allah juga sedang rindu padamu. Allah ingin melihat kau tengadahkan berlama lama tanganmu yang halus putih bersih itu.

Bila kau bisa mengingatku, sudahkah kau tumpahkan semua yang kau rasa pada Allah. Allah tidak akan menghakimimu dengan dalil-dalil Allah akan menyentuh tanganmu yang menengadah padaNya. Tanyakan padaNya apa yang Dia inginkan darimu? Mintalah petunjuk padaNya. Bila poligami ini baik bagimu dan keluargamu maka Dia akan mampu membuatmu ikhlas menerimanya. Namun bila poligami ini kelak tidak mendatangkan kebaikan bagimu dan bagi keluargamu, mintalah agar prahara itu segera menjauh darimu.

Sharen, kita sudah berjalan dari gelap menuju terang. Janganlah lagi menoleh ke belakang dan berhasrat kembali pada kegelapan, hanya karena di dalam terang kita melihat ada jalan berlubang. Ingatlah selalu syari'at Allah tidak pernah salah.

Do'aku selalu untukmu

Wassalamualaikum wr wb.


Lebih dari dua bulan aku menunggu balasan email dari Sharen.  Entah mengapa ada rasa gelisah yang memenuhi ruang hatiku. Aku tak bisa berhenti memikirkan Sharen. Bagaimana kabarnya sekarang? Sudahkah ia menemukan jawaban yang ia cari?

Aku berusaha mencari informasi tentangnya. Tetapi aku tidak dapat menemukan akun sosial medianya. Aku juga tidak menemukan no telepon di emailnya. Akhirnya, satu-satunya hal yang dapat kulakukan adalah menunggu dan berdoa untuknya.

Tak lama kemudian, di ujung kegelisahanku, terdengar bunyi notifikasi tanda masuknya sebuah emailnya. Subhanallah, Sharen! 

Dear Irene

Assalamualaikum wr wb...

Irene, terima kasih atas balasan emailmu. Apa kabarmu hari ini ? Kamu pasti sedang memikirkan aku, kan?

Berkat do'amu kini aku lebih bahagia. Alhamdulillah.

Ketahuilah Irene, saat aku menulis email padamu, aku sudah mengajukan gugatan cerai untuk suamiku. 3 hari kemudian kubaca emailmu. Isi emailmu hampir sama dengan tanggapan seorang ustadzah yang juga mualaf.

Saat itu, sejujurnya aku masih dalam kondisi marah pada Allah. Aku merasa Allah banyak meminta dari hidupku. Aku mulai berhitung setiap sedekah, amal ibadah yang telah kulakukan untuk keluargaku khususnya suamiku.

Ibu mertuaku yang sangat menyayangiku itu setiap malam menangis membujukku untuk mencabut gugatan ceraiku.

Aku gamang, aku bingung. Hingga akhirnya di sepertiga malam di mana seharusnya manusia bermunajat kepada Rabb-Nya, namun aku justru menumpahkan kekesalanku pada Tuhanku.

"Apalagi yang kau inginkan dariku, ya Allah! Mengapa bencana ini Kau hadirkan untukku ? Bila Kau adalah zat yang maha penyayang, seharusnya Kau adalah zat yang maha perasa. Tidakkah Kau bisa merasakan apa yang kurasakan? Hingga Kau turunkan syari'at poligami untuk menghukumku?"

Naudzubillah.... doakan aku, Allah mengampuni dosaku di malam itu 

Aku tertidur. Sedikit lega rasa hatiku. Esok malamnya kuulangi lagi tengadahkan tanganku di sepertiga malam memohon ampunan karena entah mengapa tiba2 datang rasa bersalah. Kemudian aku mencoba saranmu. 1 minggu aku terlibat diskusi dengan Allah.

Hingga suatu hari dengan lantangnya ibu mertuaku mengatakan 1 hal pada suamiku,"Pras, bila kamu tetap ingin menikahi gadis itu, pergi kamu dari rumah ini! Biarkan mama bersama Sharen dan anak-anakmu di rumah ini! Mama malu memiliki anak yang tidak tahu diri seperti kamu!"

Aku keluar dari kamarku. Ibu mertuaku langsung memelukku. 

"Kamu jangan pergi Sharen, biarkan Pras yang pergi. Dia tidak pantas menjadi suamimu. Maafkan mama yang telah gagal mendidik Pras menjadi laki-laki yang tahu diri."

Aku hanya menangis dalam diam. Suamiku pun hanya menunduk diam.

Malam itu kami bertiga berdiskusi.

"Baiklah ma, aku tidak akan menikahi Azizah, bila itu hanya akan membuat mama dan Sharen tersakiti. Aku sangat menyayangi kalian. Maafkan aku...." Suamiku memeluk kami berdua.

Aku lega, kupikir inilah jawaban dari Allah atas diskusi panjang di atas sajadahku di tiap sepertiga malam.

Namun ternyata aku salah.

Esok malamnya ba'da isya, Azizah datang kerumahku bersama kedua orang tuanya.

Pada malam itu aku tahu, ternyata bukan suamiku yang ingin menikahi Azizah, tetapi ayah Azizah yang merupakan teman pengajian suamiku yang meminta suamiku untuk meminang anaknya. Malam itu jelas kutatap wajah Azizah. Azizah, semula kupikir dia adalah gadis belia yang cantik dg segala pesona yang menggairahkan mata lelaki termasuk suamiku, ternyata sangat jauh dari itu. Dia gadis lugu yang selalu menundukkan kepala. Ada keteduhan di wajahnya.

Di malam itu aku tahu, Azizah memiliki miom yang akan segera dioperasi dan dokter mengatakan ada 90% kemungkinan Azizah tidak akan mampu memberikan keturunan bagi suaminya. Sudah 3 orang pemuda lajang membatalkan khitbahnya setelah mengetahui kondisi Azizah. Entah mengapa ayah Azizah memiliki  trust pada suamiku.

Kudekati suamiku dan kutanya, "Kenapa Mas nggak pernah cerita ini sebelumnya padaku?"

Suamiku menjawab, "Karena aku tidak mau kamu menganggapnya sebagai modus."

Kudekati ibu mertuaku, "Mama, kumohon terimalah Azizah menjadi bagian dari keluarga kita. Aku ikhlas menerimanya sebagai adik maduku."

Azizah dan ibunya nyaris tersungkur di kakiku, namun aku cegah. Kupeluk Azizah dan kukatakan, "Kau akan menjadi saudaraku."

Suamiku terperangah menyaksikan semua itu. "Kamu yakin telah ikhlas dengan keputusanmu sayang ?"

"Iya mas. Nikahi dia. Dia akan menjadi bagian dari keluarga kita," jawabku mantap.

Suamiku terlihat masih ragu. Aku tersenyum, "Aku akan mencabut gugatan ceraiku besok."

Alhamdulillah, seisi rumah mengucapkan hamdalah.

Dan sudah 1 bulan ini suamiku menikah dengan Azizah. Kami tinggal satu rumah. Kurasa tak masalah, rumah kami sangat besar.

Tahukah kamu Irene, bisnis suamiku makin pesat. Kini suamiku lebih sering melibatkan aku dalam bisnisnya. Aku yang tadinya hanya di rumah mengurus rumah, kini lebih sering bersama suami untuk menangani bisnis. Anak-anakku di rumah bersama ummi Azizah (begitulah mereka memanggilnya).

Di saat tetangga kami harus membayar 5 - 6 juta untuk seorang baby sitter, anak-anakku justru dibimbing oleh seorang hafidzah.

Tahukah Irene, anakku yang pertama sudah hafal 1 juz dalam 1 bulan selama ada Azizah. Setiap malam mereka mengaji dibimbing oleh umminya. Bayangkan bila suatu saat Arjunaku menjadi tahfidz melalui pendidikan dari dalam rumah kami sendiri.

"Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan."

Irene, terima kasih telah menjadi sahabatku di dunia dan di akhirat. Andai saat itu kuturuti amarahku meneruskan gugatan cerai pada suamiku, aku pasti tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini.

Ini pelajaran poligami yang langsung Allah ajarkan padaku. Selama ini aku berpikir poligami adalah syari'at yang tidak paham pada perasaan wanita. Karena aku tidak pernah bisa menerima saat istri sedang sakit suami justru berpoligami, seakan nafsu lelaki lebih pantas untuk dilindungi. Namun ternyata kini Allah justru memilihku menjadi orang yang menjalankan poligami sebagai solusi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib gadis seperti Azizah bila tidak ada syari'at poligami. Haruskah menjalani kesendirian dalam hidupnya hanya karena vonis dokter tidak mampu memberikan keturunan?

Semula kupikir ini hukuman Allah bagiku. Namun ternyata Allah sedang menyanjungku.

Irene, sudah dulu ya suatu saat kau harus mengenal Azizahku.

Aku tersenyum membaca balasan dari Sharen. Sharen, kau bukan hanya rupawan, namun ternyata hatimu juga rupawan. Semoga kebahagiaan selalu bersamamu dan Azizah, saudari barumu, diberikan kesembuhan.

Oh, ya. Kelak aku mengetahui bahwa sebenarnya suami Sharen sudah menolak permintaan ayah Azizah dan menceritakan perjuangan sepuluh tahun Sharen. Malam itu saat keluarga Azizah berkunjung ke rumah mereka, Pras mengatakan, bahwa ia tidak pernah berniat poligami. Sharen sudah lebih dari cukup bagi hidupnya. Dia mohon maaf bila nanti dia dirasakan tidak adil di luar kesanggupannya, karena bukan maksud Pras untuk menzalimi Azizah.

Bahkan setelah menikah, Pras tidak mau menyentuh Azizah selama seminggu pertama. Ia merasa tidak tega pada Sharen. Justru Sharen yang memberi pengertian pada suaminya untuk berbuat baik kepada Azizah, “Janganlah kita berbuat zalim pada Azizah. Tidak ada wanita yang ingin tertolak seperti Azizah. Siapalah kita sehingga merasa pantas berbuat demikian pada Azizah hanya karena ia dinyatakan akan mandul oleh penyakitnya."

Wahai suami. Kalian memang memiliki hak untuk berpoligami. Namun hak ini tidak lantas digunakan sesuka hati dan hawa nafsu kalian. Berdiskusilah pada Allah, apa maksud Allah mempertemukanmu dengan wanita lain. Bukan langsung lantang menggunakan dalil, "Ini syari'at yang dihalalkan Allah dan kau istri harus menerimanya. Bila tidak bersedia menerima artinya kalian telah mengingkari salah satu syari'at Allah!"

Wahai istri, wanita dengan segala rasa, janganlah cepat meradang saat mendengar kata poligami. Jangan berdebat sesuai nafsumu. Cintailah Allah lebih dari kau mencintai suamimu. Ingatlah syari'at Allah tidak pernah salah. Poligami bukanlah kenikmatan tambahan bagi laki-laki, namun tambahan tanggung jawab.

Wahai para suami dan para istri, libatkan selalu Allah dalam setiap galaumu. Sehingga kita terhindar dari sikap gagal paham yang sok tahu.

 

Ditulis ulang dari pengalaman Irene Radjiman melalui Facebook dengan penyuntingan.

RECOMMENDED FOR YOU