OASE
2018-04-27 16:10:00

3 Hikmah Wahyu Terakhir Rasulullah

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Sahabat Saliha, wahyu yang terakhir diturunkan adalah surat Al Maidah ayat tiga. Ayat itu dibawa oleh Jibril kepada Rasulullah saat beliau melaksanakan ibadah haji atau yang lebih dikenal dengan istilah haji wada’. Haji wada’ berarti haji perpisahan, disebut begitu karena Rasulullah mengatakan dalam kutbahnya, entah beliau masih bisa berhaji lagi atau tidak tahun depan.

Para sahabat dan umat Islam yang turut serta berhaji pada saat itu, bergetar hatinya mendengar apa yang diucapkan Rasulullah. Tak sedikit pula dari mereka yang meneteskan airmata. Apakah ini pertanda bahwa junjungan semesta itu akan meninggalkan mereka semua?

Berikut adalah terjemah dari surat Al Maidah ayat tiga :

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sahabat Saliha, jika kita mau mentadaburi, di dalam wahyu terakhir ini ada beberapa point penting yang dapat kita ambil pelajarannya.

Hewan yang haram dimakan

Dalam ayat ini Allah menyebutkan klasifikasi dari makanan yang haram masuk ke dalam perut manusia. Beberapa di antaranya adalah bangkai, darah (karena kebiasaan orang Arab dulu yang suka memakan darah yang dididihkan), daging hewan yang disembelih tanpa menyebut asma Allah, hewan yang tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk dan diterkam binatang buas kecuali kita sempat menyembelihnya. Selain itu, sembelihan yang dipersembahkan untuk berhala sebagai sajen juga haram dimakan.

Larangan mengundi nasib

Sahabat Saliha, dalam ayat ini Allah juga menegaskan tentang haramnya mengundi nasib dengan anak panah. Ini adalah kebiasaan orang-orang Arab pada jaman dulu, yang disebut Allah sebagai salah satu kefasikan. Dalam era milenial ini, mungkin pengundian nasib yang serupa masih ada, hanya saja caranya berbeda. Sebut saja perjudian online yang semakin merajalela, atau permainan kartu untuk meramalkan nasib. Keduanya sama saja dengan mengundi nasib, menggantungkan nasib kepada selain Allah.

Penyempurnaan Islam

Dalam wahyu terakhir ini, Allah telah menyempurnakan Islam sebagai agama Ilahiah yang Dia ridai. Allah juga menyatakan bahwa kita semua tidak perlu takut terhadap apa pun selain kepada-Nya. Islam telah dikokohkan dengan kekuatan, hingga tidak ada yang bisa mengalahkannya termasuk orang-orang kafir sekalipun. Islamlah dien yang Dia ridai sampai akhir jaman nanti, yang akan membawa kita semua dalam kebaikan di dunia sampai akhirat.

Ampunan bagi yang terpaksa memakan makanan haram

Surat Al Maidah ayat tiga ini juga menjelaskan tentang pengampunan Allah bagi orang-orang yang terpaksa dan kelaparan lantas memakan apa yang diharamkan tadi. Perlu digarisbawahi, kelonggaran ini berlaku apabila kita terjepit dalam keadaan yang benar-benar darurat dan tidak ada pilihan lain, sehingga jika tidak memakan yang haram itu nyawa kita terancam. Keadaan sedemikian rupa menjadikan yang haram jadi halal, tentunya hanya untuk menyambung hidup saja dan bukan untuk diterus-teruskan.

Itu dia, Sahabat Saliha. Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari surat Al Maidah ayat tiga, wahyu terakhir yang disampaikan Jibril kepada Rasulullah. Tak berselang lama setelah itu, Rasulullah jatuh sakit dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya, yang juga menandakan akhir dari wahyu langit.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Ayu Fitri Septina, Batang, Jawa Tengah. Dari kecil suka membaca buku dan menulis diary, bermimpi kelak bisa menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Menjadi salah satu kontributor dari antologi Dear Mantan dan Selamat Tinggal Desember. Penulis membulatkan niat untuk menekuni dunia kepenulisan, meski latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan. Penulis bisa dihubungi melalui facebook Ayu Fitri Septina, email : septiwijay19@gmail.com, atau di blog pribadinya www.kisahdisuatusenja.blogspot.com.

BY TIM EDITOR
RECOMMENDED FOR YOU