OASE
2018-03-31 16:00:00

Yuk Kenali Godaan Setan dan Pahami Cara Menghadapinya

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Sahabat Saliha, pernahkah kita merasa ragu-ragu saat akan berbuat kebajikan? Misalnya saja, ketika hendak bersedekah, tiba-tiba di hati muncul rasa sayang terhadap apa yang ingin disedekahkan. Saat  salat, bukannya fokus hanya pada salat tersebut, kita justru sibuk mengingat-ingat hal yang terlupakan. Bahkan ketika melewati fase kehidupan yang sulit, kita was-was dan ragu akan pertolongan Allah, dan tergiur untuk mencari pertolongan lain kepada selain-Nya.

Pernahkah kita merasakannya? Jika pernah, itu tandanya setan tengah menggoda kita. Ya, Allah telah menegaskan bahwa setan adalah sebenar-benar musuh yang nyata bagi manusia. Meski wujudnya tak terlihat dengan mata telanjang, namun buhul-buhul dan godaannya begitu nyata. Kita mungkin bisa merasakannya hampir di setiap waktu. Tidak mengherankan, karena memang begitulah sumpah nenek moyang setan –Iblis- kepada Allah, seperti tercatat dalam firman-Nya berikut ini :

“Iblis menjawab, ‘karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereke bersyukur.” (QS. Al-A’raf 16 – 27)

Sahabat Saliha, begitulah sumpah iblis kepada Allah. Mereka akan selalu menggoda manusia dari depan, belakang, kiri, kanan, dalam keadaan tidur dan terjaga, saat kita lalai ataupun ingat, di setiap waktu, dalam keadaan apa pun. Iblis dan setan tidak akan pernah berhenti menggerogoti iman kita bahkan sampai maut telah ada di ujung kerongkongan.

Hal ini bermula ketika Allah menciptakan manusia pertama, Adam as. Seluruh makhluk yang lainnya di surga, diperintahkan-Nya untuk bersujud pada Adam. Semua makhluk pun bersujud, kecuali satu yaitu Iblis. Saat ditanya kenapa, Iblis menjawab dengan pongahnya bahwa dia merasa lebih mulia daripada Adam. Dirinya diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah.

Mendengar jawaban Iblis, Allah begitu murka. Diusirnya ia dari surga karena kesombongannya tersebut. Namun, sebelum ia keluar dari sana, ia meminta pada Allah supaya diberikan waktu sampai kiamat tiba untuk terus menggoda anak cucu Adam. Allah pun memberi tangguh kepadanya seperti yang ia minta. Sejak itu ia bersumpah akan menjerumuskan anak cucu Adam dengan cara apa pun agar mereka jauh dari Allah dan menjadi temannya di neraka kelak.

Sahabat Saliha, Iblis membuktikan sumpahnya. Ia menggoda Adam dan Hawa dari sisi mana pun, hingga keduanya termakan bujuk rayu si Iblis. Didekatilah oleh mereka sebuah pohon yang terlarang untuk didekati. Namun Iblis mengatakan bahwa alasan Allah melarang mereka mendekati pohon tersebut adalah agar keduanya tidak menjadi malaikat.

Begitu manis kata-kata Iblis, hingga Adam dan Hawa terbuai. Tak hanya mendekati, mereka bahkan memakan buah dari pohon itu. Tak dinyana, perbuatan keduanya membuat Allah murka dan menurunkan mereka dari surga ke dunia.

Iblis tertawa penuh kemenangan. Di bumi, ia dan pasukannya terus gencar menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam kubangan dosa. Sebutlah dosa pertama di muka bumi ini, yaitu kisah Qabil dan Habil. Mereka adalah putra Nabi Adam as.

Saat itu Allah memerintahkan Nabi Adam untuk menikahkan putra putrinya secara silang. Habil dengan saudara kembar Qabil, Iklima, dan Qabil dengan saudara kembar Habil, Layudza. Mendengar keputusan ayahnya, Qabil tidak terima karena Iklima lebih cantik daripada saudara kembar Habil  yang harus ia nikahi.

Akhirnya, Nabi Adam memerintahkan keduanya untuk mempersembahkan kurban mereka kepada Allah di atas puncak gunung. Kurban yang diterima akan disambar api, dan dialah yang berhak menikah dengan Iklima.

Singkat cerita, kurban milik Habillah yang diterima Allah, karena ia mengurbankan ternaknya yang terbaik, sementara Qabil sebaliknya. Melihat itu, Qabil masih saja tidak terima. Dan di sinilah Iblis dan pasukannya beraksi. Dibisikkannya di telinga Qabil agar ia membunuh saudaranya itu supaya bisa menikahi Iklima.

Dengan amarah yang masih membara di dadanya, ditambah bisikan setan yang terasa indah di telinganya, terjadilah kejadian itu. Pertumpahan darah pertama yang terjadi di muka bumi. Iblis dan pasukannya tertawa amat girang, senang bukan kepalang karena mereka telah mendapatkan teman di neraka.

Sahabat Saliha, begitulah cara iblis dan setan menggoda manusia. Setiap detik, di mana saja, bersama darah yang mengalir di urat nadi kita, ada mereka. Itulah sebabnya, mengapa Islam selalu menganjurkan kita untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan setan, di mana pun dan dalam kegiatan apa pun. Karena seperti yang kita ketahui, iblis dan setan tidak pernah bermain-main dengan sumpahnya. Lengah sedikit saja, kita akan kena.

Tidak ada seorang manusia pun yang dapat terlepas dari godaan setan, kecuali rahmat Allah melindunginya. Orang-orang yang semakin tinggi dan berkualitas kadar keimanannya, maka semakin gencar dan kawakan pula pasukan setan yang menggodanya.

Lalu, siapakah orang-orang yang dapat lepas dari godaan iblis dan setan ini? Allah berfirman dalam surat Shad ayat 82-85 :

“Iblis menjawab, ’demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.’ Allah berfirman : maka yang benar (adalah sumpah-Ku), dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenismu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semua.”

Sahabat Saliha, hanya merekalah yang mukhlis, yang tidak akan terjerat oleh godaan iblis dan setan. Itulah mengapa, ikhlas menjadi kedudukan tertinggi dari tingkatan seorang muslim. Karena dengan ikhlaslah kita dapat menjadi hamba-Nya yang terlepas dari godaan musuh-musuh yang nyata bagi kita. Lebih mengerikan lagi, Allah telah menyatakan bahwa ganjaran untuk iblis dan pengikutnya adalah neraka Jahannam. Naudzubillah.

Sahabat Shaliha, semoga kita semua termasuk ke dalam golongan para mukhlis yang senantiasa dilindungi-Nya dari godaan setan dan iblis yang terkutuk. Aamiin.

Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Ayu Fitri Septina, lahir 30 September 1993 di Batang, Jawa Tengah. Dari kecil suka membaca buku dan menulis diary, bermimpi kelak bisa menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Menjadi salah satu kontributor dari antologi Dear Mantan dan Selamat Tinggal Desember. Penulis membulatkan niat untuk menekuni dunia kepenulisan, meski latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan. Penulis bisa dihubungi melalui facebook Ayu Fitri Septina, email : septiwijay19@gmail.com, atau di blog pribadinya www.kisahdisuatusenja.blogspot.com.

RECOMMENDED FOR YOU