OASE
2018-02-10 09:00:00

Galau? Yuk Back to Allah

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID -  Galau, ‘penyakit’ yang satu ini pasti pernah dialami oleh semua orang. Dari mulai galau milih kampus, milih jurusan, melamar kerja, sampai melamar calon mertua. Eh, melamar calon suami/istri maksudnya. Atau masih ada yang galau karena status jomblo? Ups.

Mengapa bisa muncul rasa galau? Galau alias keadaan pikiran yang kacau dan tidak karuan ini biasanya dipicu karena bingung apa yang harus dilakukan.

Namun, tahukah sobat Saliha, bahwa kita seharusnya merasa bersyukur jika mengalami galau. Lho, kok bersyukur? Ya, karena saat galau artinya kita memiliki beberapa pilihan. Kalau seseorang tidak punya pilihan, mengapa harus bingung? Galau milih jurusan, artinya ada beberapa jurusan yang bisa dipilih. Galau nentuin jodoh, berarti tidak hanya satu orang calon yang bisa kita pilih.

Apa yang sering sobat Saliha lakukan saat galau? Mengeluh, bikin status galau, atau dengerin lagu baper yang malah bikin sedih? Biasanya kalau sedang ditimpa musibah, menahan diri supaya tidak mengeluh itu rasanya memang susah.

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu…” (Al-Maarij: 19-24)

Dari ayat di atas bisa kita ketahui bahwa mengeluh memang sifat manusia. Manusia merasa bahwa permasalahannya paliiiing sulit. Merasa bahwa pertolongan tidak kunjung dihadirkan padanya. Merasa bahwa masalahnya di luar kemampuannya. Padahal, bukankah setiap dari kita hanya akan diuji sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing? 

Lalu, pertanyaan berikutnya adalah, ke mana keluhan itu harus dilampiaskan? Dinding facebook tentu bukan tempat yang tepat untuk melaporkan segala kegelisahan selama masih ada sajadah (tempat bersujud), kan?

“…Ingatlah, bahwa pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153)

‘Surat-surat cinta’ dari Allah sudah menyediakan jawabannya. Bukankah kita sepakat bahwa Quran adalah pemberi petunjuk dan obat –hudan lil muttaqin dan syifa’ lil mukminin? Mungkin kita galau karena kebanyakan mikir dan kekurangan zikir.

Aa Gym pernah memberikan tausyiah sebagai berikut. Kita itu kebanyakan mikir, kurang zikir. Makanya hidup ini terpelintir, mutir-mutir. Stres itu karena kebanyakan mikir. Galau, risau, resah, gelisah, itu pasti kebanyakan mikir dan kurang zikir.

Jadi gimana nih, apa kita tidak boleh mikir? Siapa yang melarang? Harus, mikir. Tapi, setiap mikir, jadi zikir. Itu rumusnya.

Mungkin karena saking banyaknya mikir, kita lupa untuk mengingat siapa yang menghendaki permasalahan itu datang. Lupa juga siapa yang seharusnya dijadikan tempat meminta pertolongan.

Alhasil, Allah menegur kita dengan memberikan kegelisahan. Bisa jadi itu adalah cara agar kita segera zikir (mengingat) pada-Nya.

“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)

Jadi saat galau menyapa, jangan koar-koar di medsos. Jadikan Allah sebagai satu- satunya tempat mengadu. Hasbunallah wanikmal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Cukup Allah sebagai penolong dan sebaik-baik pelindung.

Sebagai penutup, ada pesan dari Boona Muhammad yang bisa sobat Saliha renungkan baik-baik: The help of Allah is near, but how near are you to Allah?

 

Tulisan ini merupakan kontribusi dari Anis Ekowati, Surabaya. Anis adalah mahasiswi tingkat akhir yang menghabiskan waktu dengan menulis apa saja. 

RECOMMENDED FOR YOU