LOVE
2018-04-19 18:02:00

Yuk Jadi Pribadi Dewasa Sebelum Menikah

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Ada yang bilang, ‘Tua itu pasti, dewasa itu pilihan’. Benarkah begitu? 

Sebutlah keluarga Pak Roy (bukan nama sebenarnya). Saat menikah, Pak Roy dan Bu Roy sangat bahagia. Melewati masa bulan madu, dunia seakan milik berdua. Mereka pun mengarungi rumah tangga dengan gembira. Lalu, di bulan ketiga, Bu Roy hamil. Pak Roy senang sekali. Anak mereka pun lahir. Saat ini, masalah pun dimulai.

Ternyata, baik Pak Roy maupun Bu Roy rupanya tidak siap dengan kehadiran anak. Mereka mulai sering bertengkar. Pak Roy akhirnya memutuskan mempekerjakan asisten rumah tangga. Namun, rupanya … masalah mereka tidak selesai sampai di sana.
Anak mereka mulai bersekolah. Biaya hidup meningkat.

Pak Roy dan Bu Roy makin sering bertengkar. Pak Roy dan Bu Roy sama-sama tidak nyaman berada di rumah. Karena itu, pekerjaan menjadi pelarian yang pas. Ketika datang di sore maupun malam hari, baik Pak Roy maupun Bu Roy akan menyapa anak-anak ala kadarnya. 

“Sudah, ya. Sekarang kamu main dengan Si Mbok dulu. Jangan ganggu papa. Papa capek!” kata Pak Roy.

“Mbok, jaga anak-anak, ya! Jangan sampai mereka ganggu saya. Saya capek!” perintah Bu Roy.

Pak Roy pun segera mengurung diri di dalam kamar sambil bermain game di ponsel. Bu Roy sendiri menonton drama Korea untuk mencari hiburan. Keadaan ini berlangsung terus menerus, selama bertahun-tahun. 

Dan akhirnya, Pak Roy dan Bu Roy sepakat mengenai satu hal: mereka menyesali pernikahan mereka dan merasa keluarga mereka sangat mengecewakan.

Lo, aneh, kan. Bukankah dulu, Pak Roy dan Bu Roy menikah untuk membentuk keluarga? Lalu kenapa, masing-masing justru merasa kalau rumah tangga mereka mengecewakan? Mungkin baik Pak Roy maupun Bu Roy tidak siap menjadi dewasa. Karena itulah, Pak Roy maupun Bu Roy belum memahami tanggung jawab sebagai suami-istri maupun orang tua.

Tipe pasangan seperti Pak Roy dan Bu Roy ini ada cukup banyak di masyarakat, lo. Tidak dipungkiri, pasangan-pasangan ini berpotensi besar terjerumus dalam kasus perselingkuhan maupun perceraian. Sebab bagi mereka, ikatan pernikahan tak ubahnya surat perjanjian yang terlanjur ditandatangani. Mereka juga menganggap keberadaan pasangan dan anak hanya sekadar formalitas. 

Singkatnya, baik itu pernikahan dan keluarga dianggap sebagai permainan saja. Sama seperti komidi putar atau bianglala yang bisa dimainkan sesuka hati.

Hingga kini, belum ada pendidikan formal yang mengajarkan bagaimana tumbuh menjadi dewasa. Pun tidak semua orang tua mengindahkan pembentukan karakter anak-anak mereka. Padahal, kedewasaan mental sangat penting dalam berumah tangga. Baik itu kedewasaan laki-laki sebagai pemimpin keluarga, maupun perempuan dalam mengurus rumah tangga. Adanya hubungan saling melengkapi ini seharusnya menjadi dasar sebuah pernikahan dan keluarga baru. Namun, hal ini jarang diajarkan di dalam keluarga.

Karena itu, agak sulit untuk menuntut laki-laki dan perempuan langsung bisa dewasa setelah menikah. Apalagi, tidak banyak kelas-kelas pra nikah yang mempersiapkan pasangan untuk menghadapi permasalahan secara dewasa.

Pada dasarnya, menikah dan berkeluarga adalah cara pembentukan karakter untuk menjadi semakin dewasa. Bagaimana cara memahami pasangan, bagaimana mendidik dan mengasuh anak, bagaimana menghadapi permasalahan sebagai tim yang kompak. Semua itu hanya bisa dipelajari dalam keluarga.

Keluarga Pak Roy di atas adalah contoh di mana suami dan istri sama-sama tidak mau bertumbuh. Masing-masing masih mempertahankan sifat kanak-kanak yang berpusat pada diri sendiri. Karena itulah, mereka sama-sama membangun dunia mereka sendiri. Pak Roy dengan permainan gawainya, Bu Roy dengan drama Korea-nya. Mereka sama-sama menganggap, mereka sudah melakukan kewajiban dengan bekerja dan mencari uang. Padahal, kenyataannya kebutuhan keluarga tidaklah uang dan materi semata. Namun juga pada pemenuhan kebutuhan emosi.

Sedih, kan?

Selain berpotensi menimbulkan perpisahan untuk suami istri, sikap orang tua yang tidak dewasa juga bisa menimbulkan luka batin pada anak-anak mereka. Pengabaian dan penolakan dapat menjadi trauma bagi anak-anak. Sementara perilaku mereka akan ditiru dan diteruskan ke generasi-generasi selanjutnya.

Nah, kalau sahabat tidak mau keluarga sahabat menjadi salah satu ‘Keluarga Pak Roy’ lain, ada baiknya sahabat belajar menjadi dewasa. Kalau sahabat belum menikah, sahabat bisa mempersiapkan mental dengan mengikuti kelas-kelas parenting maupun pranikah. Sahabat juga bisa mencari informasi di buku-buku dan internet untuk dipelajari.

Kalau sahabat sudah menikah, maka sahabat perlu belajar manajemen waktu dengan baik. Meluangkan waktu berbicara dengan pasangan akan memperkuat komunikasi. Sedangkan bermain bersama anak-anak akan memenuhi kebutuhan anak akan kehadiran orang tua, tidak hanya secara fisik namun juga batin.

Keluarga yang harmonis juga bisa mendatangkan kebahagiaan, lo. Jadi, jangan ragu bertumbuh. Jangan lupa juga untuk terus berdoa meminta pertolongan dari-Nya. Dengan begitu, maka hidup kita akan lebih bahagia.

Tulisan merupakan kiriman dari kontributor Putu Felisia, Bali.

RECOMMENDED FOR YOU