OASE
2018-02-11 09:00:00

Menikah itu untuk Memupuk Senang, Bukan Menumpuk Hutang

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan besar-besaran? Jujur saja, jauh di dalam hati kita, pasti keinginan seperti itu pernah tumbuh. Namun, sebagian orang memilih mengubur keinginan tersebut dengan alasan mendasar: kondisi finansial tidak memungkinkan. Sayangnya, ada juga orang yang tetap memaksakan diri padahal sadar bahwa secara ekonomi ia lemah. Inilah yang akan memantik masalah besar selepas resepsi pernikahan berakhir.

Salah satu orang yang mengalaminya adalah Bude Sur. Panggil saja seperti itu. Saya bertetangga dengan Bu Sur sejak lama. Dia janda ditinggal mati suami. Sehari-hari ia bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) harian—datang pagi pulang sore. Sebagai ART, tugasnya mencuci, menyeterika, menyapu, ngepel, masak, dan ditambah memomong anak majikan berusia 3 tahun.

Dari segi usia, Bude Sur menang banyak dari saya. Sudah 63 tahun dia mengarungi hidup ini. Kulitnya sudah seperti kertas diremas. Tulang punggungnya melengkung. Barisan giginya mulai terlihat banyak spasi (baca:ompong). Cuma penglihatan dan pendengarannya saja yang masih lumayan bagus. Meski casing Bude Sur uzur, tapi kalau bekerja dia tak kalah dari yang muda.

Banyak orang yang menaruh iba pada Bude Sur. Sudah tua begitu dia masih banting tulang. Orang-orang seusianya rata-rata sudah tak memikirkan pekerjaan. Tinggal santai-santai menikmati hari tua.

Namun, nasib berkata beda. Tekanan hiduplah yang membuat Bu Sur tak bisa seperti mereka. Punya dua anak, tapi keduanya agak sulit diandalkan. Yang sulung malah baru dijebloskan ke penjara karena kasus pil setan. Coba-coba jadi pengedar karena tergiur melihat kawan-kawannya bisa hidup sejahtera dari hasil menjual narkoba. Apes, sepak terjangnya yang baru seumur jagung itu harus berakhir di bui gara-gara dijebak kibus (kaki busuk).

Nah, si bungsu mulanya bekerja sebagai penjaga toko baju. Namun karena tokonya bangkrut, dia pun dirumahkan. Jadilah Bude Sur yang total menjadi mesin keluarga. Mati mesin, matilah semua. Begitulah kira-kira.

Bude Sur yang sehari-hari terkenal ramah, pasca melangsungkan pernikahan si bungsu jadi mendadak acuh tak acuh dengan tetangga. Wajahnya sering terlihat muram. Majikannya juga bilang Bude Sur banyak melamun akhir-akhir ini. Banyak yang mengira rumah tangga anaknya yang baru hitungan minggu itu kurang harmonis. Jika benar, patutlah Bude Sur murung. Ibu mana yang tak sedih jika anak dan menantu yang belum lama jadi raja dan ratu sehari itu kini tak rukun?

Tapi oh, asumsi itu meleset jauh! Bukan itu masalahnya. Saya tahu jawabannya setelah pagi-pagi Bude Sur datang ke rumah: ingin pinjam uang alias ngutang. Tak tanggung-tanggung, yang dipinjam bukan seratus-dua ratus ribu, melainkan 10 juta. Saya mau kasih apa? Kalau saya punya pohon uang, saya suruh Bude Sur petik sendiri.

Bude Sur bercerita bahwa ia tengah dikejar-kejar utang pasca menyelenggarakan pesta resepsi untuk si bungsu. Masih lekat dalam ingatan saya, resepsi seminggu yang lalu itu memang termasuk sangat meriah untuk ukuran orang dengan ekonomi rendah seperti Bude Sur. Hiburan keyboard semalam suntuk, hidangan tak putus-putus dari pagi sampai malam, tendanya besar, pelaminannya indah. Tamu-tamunya banyak. Riasan pengantinnya pun bikin pangling. Jelas itu semua pasti tidak ditebus dengan biaya murah.

BACA JUGA:

Siap menikah muda? Karena berani saja tidak cukup 

Bahkan, terus terang saya tak menyangka Bude Sur punya uang sebanyak itu. Namun, saya tak mau berpikiran buruk. “Dapur” orang siapa yang tahu? Beragam kemungkin bisa saja terjadi. Entah Bu Sur memang punya simpanan lebih selama ini. Atau, banyak kerabat yang bersedia menjadi donatur. Boleh jadi juga pihak mempelai pria memodali Bu Sur lebih dari cukup.

Tapi ternyata asumsi-asumsi saya tak ada yang benar.  Fakta yang terjadi sungguh miris. Untuk bisa menyelenggarakan perhelatan semeriah itu, Bude Sur harus berutang sana-sini.

“Lho, Bude … kalau dananya tidak ada kenapa dipaksakan sih kemarin?” tanya saya dengan nada agak menghakimi.

“Yaa namanya demi anak.” Bude menunduk lesu. “Anak perempuan Bude cuma satu. Apa kata saudara dan tetangga kalau tidak dipestakan?”

“Aduuuh, ngapain mikirin kata saudara dan tetangga? Yang tahu kondisi ekonomi Bude ya Bude dan anak-anak. Bukan orang lain. Kalau sudah begini apa mereka mau peduli?”

Bude menghela napas. Wajahnya penuh penyesalan. “Boro-boro peduli. Setelah resepsi, hari itu juga semua pada kembali ke kampung.”

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar cerita pengakuan Bude. Bude masih terus melanjutkan cerita.

“Tadinya Bude pikir bisa melunasi utang-utang dari uang amplop. Eee … ternyata isinya jauh dari cukup,” sesal Bude lagi.

“Anak dan menantu Bude bagaimana reaksinya? Masa mereka membiarkan Bude mikir masalah ini sendirian. Kan resepsi itu untuk mereka,” usut saya.

“Hmm … belum apa-apa menantu Bude udah ngeluh duluan. Uang dia sendiri udah kandas untuk membeli perlengkapan kamar dan hantaran. Pusing, Bude. Tenda, pelaminan, tukang rias, tukang foto, daging sapi, ayam, semua belum ada yang lunas. Orang-orangnya udah pada datangin Bude setiap hari. Pada marah-marah dan minta cepat. Mau bayar pake apa?”

BACA JUGA:

S2 atau menikah? Baca 5 tips ini dulu sebelum memutuskan

Begitulah obrolan saya dengan Bude pagi itu. Kesimpulannya, Bude Sur terhimpit utang resepsi pernikahan atas nama gengsi dan sedang membutuhkan suntikan dana dalam jumlah besar.

Saya yakin, di luar sana banyak orang yang mengalami masalah serupa dengan Bude Sur. Menyelenggarakan resepsi besar-besaran demi sebuah harga diri. Takut jadi bahan gunjingan tetangga dan saudara. Atau, sekadar ikut-ikutan. Jadi terpaksalah “diada-adakan” meski dengan cara berutang dan berharap penuh dari uang amplop.

Padahal, urat nadi dari sebuah pernikahan terletak pada keikhlasan kedua belah pihak, ketersediaan wali, saksi, dan ijab qabul. Tak ada hal-hal lain di luar itu yang harus dipenuhi agar sebuah pernikahan menjadi sah, termasuk menyelenggarakan resepsi besar-besaran.

Kisah Bude Sur hendaknya dapat menjadi renungan bagi kita semua, terutama yang akan menikah. Apalah arti bersenang-senang sehari lalu menderita kemudian karena dikejar utang? Malam gelisah, siang ketakutan. Singkirkan gengsi jauh-jauh! Tak usah terlalu mempedulikan omongan orang lain soal kesanggupan kita mengadakan resepsi atau tidak.

Saat pesta berlangsung, kita bagai gula yang dikejar semut. Disanjung-sanjung di kursi pelaminan. Tapi begitu berakhir, kita bagai remah-remah yang tak terpedulikan lagi. Ketika mereka tahu kita dikejar utang, paling satu dua orang yang bersedia membantu. Selebihnya pura-pura tidak tahu atau sekadar menghadiahi kalimat simpati, “Sabar ya.”

Maka agar terbebas dari beban utang pasca pernikahan, pikirkanlah matang-matang sebelum menyelenggarakan resepsi. Antara orangtua, anak, dan kerabat-kerabat dekat hendaklah saling menasihati dan mengingatkan. Sebab, yang tahu betul isi “dapur” keluarga adalah orang-orang yang berada di dalamnya.

Buatlah perhitungan terperinci hingga pengeluaran-pengeluaran tak terduga. Jangan sekali-kali berani mengosongkan kas sampai kandas! Ingat, selepas resepsi kehidupan akan terus berjalan. Kebutuhan-kebutuhan tetap harus terpenuhi.

Cukuplah bertindak sesuai kemampuan. Toh, bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) justru dilarang dalam agama karena tidak mendatangkan kebaikan. Astaghfirullah.

 

Tulisan ini merupakan kontribusi dari Ade Wulan, Pekanbaru. Pelalap buku-buku Chicken Soup. Sangat mencintai kota kelahirannya, Pekanbaru, meski rawan berasap jika musim kemarau tiba. Silakan mampir di rumah maya Ade Wulan:  IG: @dhewoelan dan FB: https://www.facebook.com/ade.wulan.14

RECOMMENDED FOR YOU