OASE
2018-02-16 09:00:00

6 Hal yang Patut Disyukuri Dalam Hidup

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Ada kalanya kita tidak merasa bahagia. Kita merasa kekurangan. Entah merasa kurang kasih sayang, kurang cantik, tidak mendapatkan apa yang diinginkan, dan lain-lain.  Kita merasa hidup harus sempurna terlebih dahulu, baru kita merasa bahagia.

Padahal, seharusnya kita bersyukur dahulu baru kita merasa bahagia. Allah telah memberikan begitu banyak hal kepada kita yang patut kita syukuri. 

Kali ini, yuk kita tengok kembali apa yang kita miliki dan harusnya kita syukuri.

Mensyukuri kesehatan badan

Pasti Sahabat Saliha setuju bahwa kesehatan adalah nikmat yang besar. Sehat itu murah, yang mahal itu kalau sakit. Jadi bersyukurlah jika sekarang kamu memiliki mata yang normal, di saat yang lain memiliki gangguan mata minus, plus, atau silinder. Pun yang memiliki 'cacat' mata dan masih bisa melihat, bersyukurlah. Bisa jadi ada saudara kita yang sedari lahir tidak memiliki indera penglihatan.

Itu masih dari mata, belum ke organ tubuh lainnya yang lebih besar. Bayangkan tentang orang yang menghadapi penyakit semisal jantung, paru-paru, liver, ginjal, dan lainnya, di mana mereka begitu mengharapkan anggota badannya bisa normal seperti kamu. Iya, kamu.

Mensyukuri keberadaan orang tua

Meskipun mereka pernah tidak memenuhi permintaanmu, membuat sedih dan sakit hati, tetaplah bersyukur. Syukurilah jika orang tuamu masih lengkap, di tempat lain ada yang hanya merasakan kasih sayang dari salah satu orang tua entah hanya dari ayah atau ibunya. Pun, mungkin ada yang tidak pernah sama sekali merasakan sentuhan kasih sayang orang tuanya selepas ia dilahirkan. 

Jika kamu yang saat ini masih memiliki orang tua, dan sedang kecewa dengan mereka, coba bayangkan jika mereka tidak bersamamu sekarang. Bayangkan jika pada saat dirimu kecewa adalah hari terakhir mereka hidup, hari terakhir yang harusnya kamu bisa berbuat baik untuk terakhir kalinya pada mereka.

Atau bayangkan tentang kebaikan-kebaikan yang telah mereka berikan selama ini. Apakah hidupmu akan sebaik sekarang jika dulu mereka membiarkanmu tanpa memenuhi segala kebutuhanmu? Bisa saja mereka tidak mau membiayai sekolahmu, membiarkanmu kelaparan tanpa menyediakan makanan, atau menelantarkanmu saat badanmu panas dingin.

Mensyukuri barang-barang yang sudah dimiliki

Bersyukurlah jika kamu masih punya baju yang layak untuk dipakai, meskipun tidak sebagus jika kamu membandingkannya dengan milik temanmu. Mungkin kamu bisa membayangkan orang yang hanya memiliki satu baju bagus untuk dipakai di hari raya atau hari spesial tertentu.

Punya rumah? Mungkin rumahmu tidak sebagus jika kamu bandingkan dengan rumah temanmu. Di tempat lain ada yang hanya berlindung dari panas dan hujan di gubuk reot, rumah kardus, atau yang setiap hari berpindah-pindah mencari tempat berteduh, akibat hidup menggelandang. 

Punya sepatu, tas, hape, laptop? Mungkin itu semua memang tidak sebagus jika kamu bandingkan dengan kepunyaan temanmu. Mungkin kamu masih ingat begitu besarnya keinginanmu sebelum memiliki barang-barang tersebut. Tapi mengapa setelah memiliki semuanya itu rasanya tidak menggebu-gebu sebelum memilikinya? Timbul perasaan untuk memiliki yang lebih, lebih, dan lebih bagus lagi.

Itu tidak salah, namun pastikan seberapa besar usaha yang kamu lakukan untuk mencapai keinginanmu itu. Jangan hanya mengeluh pada orang tua semisal mereka tidak membelikanmu model hape terbaru hanya karena kamu tidak mau dibilang ketinggalan zaman.

Bahkan jika kamu hanya memiliki hal yang terlihat sederhana, seperti binatang peliharaan, itu adalah sesuatu yang patut kamu syukuri. Salah satu hal yang bisa membuat kita bahagia adalah dengan tidak membandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain, untuk masalah harta.  

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Mensyukuri diri sendiri

Pernah nggak kamu mensyukuri karena kamu adalah kamu? Dengan campuran bakat yang kamu miliki, lingkungan yang ada di sekitarmu, pendidikan yang kamu terima, kamu menjadi dirimu yang ada saat ini. Kepribadianmu berbeda dengan orang lain dan itu menjadikan diri kamu unik. Mungkin kamu memiliki kekurangan, namun kamu juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. 

Mensyukuri waktu 

Pernahkah kamu berpikir, bagaimana kalau kamu lahir di zaman nenek moyang kita yang hidup di gua? Setiap saat berjuang mencari makanan dengan berburu sementara menghindari terkaman harimau purba? Atau bagaimana kalau kamu hidup di era penjajahan sehingga tidak bisa sekolah? Atau kelaparan di masa perang? 

Di dalam rentang waktu dunia yang panjang ini, Allah bisa menentukanmu lahir di era perang, tetapi Allah menentukanmu untuk lahir di zaman sekarang yang relatif lebih aman, bebas perang dan kelaparan.

Atau pernahkah kamu bangun tidur dan bersyukur bahwa kamu masih diberi waktu? Padahal pada saat yang sama, bisa jadi ada orang-orang yang tidak bisa bangun dari tidur lagi. 

Bukankah waktu menjadi hal yang patut disyukuri?

Mensyukuri peran masing-masing

Sebuah keluarga yang setiap anggotanya memiliki rasa syukur karena menjadi bagian keluarga itu, betapa bahagianya keluarga itu. Ayah yang bersyukur memiliki istri dan anak-anaknya. Ibu yang bersyukur menjadi istri dan pengasuh bagi anak-anaknya. Anak yang bersyukur memiliki orang tua seperti ayah dan ibunya. Setiap anggota keluarga yang dengan senang hati menjalankan perannya masing-masing. Ayah mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Ibu mendidik anak-anaknya. Dan anak berprestasi untuk memberi kebanggaan pada orang tuanya.

Pun dalam jangkauan yang lebih luas, seorang pemimpin yang bersyukur dan bangga memiliki rakyat di negerinya. Rakyat yang bersyukur dan bangga dipimpin oleh pemimpin tersebut. Pemimpin dan rakyat yang bangga hidup di negeri itu, mensyukuri keberadaan dirinya di negeri yang akan mereka makmurkan bersama itu.

Anda setiap orang bisa bersyukur dengan apa yang dimiliknya, mensyukuri keberadaannya, mensyukuri perannya, betapa indahnya kehidupan ini. Tidak ada yang mengeluh. Jika aada yang perlu diperbaiki, ada kesalahan, ketidakberesan, perselisihan, harus dengan cara-cara yang baik dan sabar, bukan dengan saling menyalahkan, atau bahkan perang.

 

Artikel ini merupakan kiriman kontributor Anis Ekowati,  Surabaya. Anis adalah mahasiswi tingkat akhir yang kadang mengisi waktu luang dengan menulis coretan apa saja.

RECOMMENDED FOR YOU