OASE
2018-03-31 09:00:00

Zaid Bin Tsabit, Sang Pengumpul Ayat- Ayat Alquran

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Sahabat Saliha, seperti yang kita tahu, Alquran adalah kitab bagi kita umat muslim. Ia adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad, pegangan, pedoman, dan penuntun hidup kita di dunia hingga akhirat kelak. Di dalamnya berisi kabar gembira dan peringatan, kisah-kisah para nabi yang patut diteladani, sejarah umat lalim yang tidak boleh dicontoh, serta aturan-aturan dalam ibadah dan muamalah.

Seperti disebutkan dalam surat Al-Baqoroh, Alquran adalah kitab yang sama sekali tidak ada keraguan di dalamnya. Allah sendiri yang akan menjamin kemurnian Alquran dari zaman Rasul hingga akhir masa. Tidak ada satu pun manusia bahkan jin yang dapat merombak isi dari Alquran atau membuat ayat yang serupa dengannya. Karena Alquran adalah firman Allah, yang tidak akan sama dengan buatan makhlukNya.

Tapi, tahukah Sahabat Saliha, penampakan Alquran pada zaman Rasulullah tidaklah seperti Alquran yang kita miliki sekarang? 1400 tahun yang lalu, ayat-ayat Alquran masih berceceran. Tertulis di lembaran kulit-kulit binatang, tulang-tulang, pelepah kurma, bahkan dan di dada para sahabat yang menghafalnya. Rasulullah tidak memerintahkan Alquran dijadikan satu dalam bentuk kitab seperti yang kita temui sekarang ini.

Lalu, bagaimana sejarahnya Alquran bisa seperti sekarang?

Sahabat Saliha, setelah Rasulullah wafat, umat Islam dipimpin oleh sahabat terdekat beliau, Abu Bakar. Dalam masa ini, umat Islam mulai tercerai berai. Banyak di antara mereka yang murtad, melepaskan keislamannya. Nabi-nabi palsu bermunculan di mana-mana, dan berhasil merekrut ratusan pengikut. Mereka menyatukan kekuatan untuk menghancurkan kota Madinah dan merebut kekuasaannya dari tangan kaum muslim.

Alhasil, peperangan demi peperangan meletus untuk menumpas para nabi palsu itu. Satu dari sekian kisah yang paling melegenda adalah perang Yamamah, peperangan besar antara kaum muslim melawan Musailamah Al-Kazab dan pengikutnya.

Musailamah adalah seorang yang mengaku diutus sebagai nabi setelah Rasulullah. Ia mengaku mendapat wahyu dari Jibril. Dengan kepawaian dan keindahannya dalam berkata-kata, ia berhasil menghimpun banyak pengikut dan berniat merebut Madinah dari kepemimpinan khalifah Abu Bakar.

Perang Yamamah dipimpin oleh Khalid bin Walid, pemuda dan panglima perang yang tidak takut menghadapi kematian. Dengan jumlah pasukan muslim yang masih berbaiat setia dengan keislaman mereka, pertempuran itu terjadi dengan sengitnya, hingga nyaris saja umat Islam terkalahkan karena jumlah pasukan Musailamah yang begitu banyak.

Namun, Allah memang Maha Adil. Dengan segala kegigihan dan upaya kaum muslim yang berperang untuk menumpas musuh Allah, perang itu berhasil dimenangkan. Musailamah sang pendusta ditombak oleh seorang yang dulu juga menombak paman Rasulullah dalam perang Uhud, Wahsyi.

Penyesalan dan taubat Wahsyi atas tindakannya menombak Hamzah, merobek dadanya dan memberikan jantungnya kepada Hindun—istri Abu Sufyan—untuk dimakan mentah-mentah, benar-benar dia tunjukkan dalam perang Yamamah ini.

Usai perang Yamamah, Madinah berkabung dan juga bergembira. Berkabung karena banyak sekali pasukan muslim yang berguguran dalam perang itu sehingga banyak pula wanita yang menjanda dan anak- anak yang menjadi yatim. Bersuka cita karena akhirnya nabi palsu yang menyesatkan umat itu sudah berhasil disingkirkan.

Tak sedikit para penghafal Alquran yang gugur dalam perang tersebut, sehingga mendorong Umar bin Khatab untuk menghadap sang khalifah. Dia mengusulkan agar Alquran dikumpulkan karena takut akan semakin banyak qar’i yang gugur sehingga Alquran ikut menghilang bersama mereka. Awalnya, Khalifah Abu Bakar sangat terkejut mendengar usulan sahabatnya tersebut.

“Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah?” katanya.

Namun Umar menjawab dan meyakinkan beliau, “Demi Allah, ini baik.”

Maka, kemudian Khalifah memanggil seorang pemuda yang dirasa mampu mengemban tugas berat ini. Dialah Zaid bin Tsabit, sang penulis ayat-ayat yang dituturkan Rasulullah setelah menerima wahyu dari Jibril.

Dia adalah seorang pemuda yang cerdas dan penghafal Alquran. Demi mendengar tugas yang dibebankan padanya, dia menjawab sama persis dengan jawaban khalifah. Namun, khalifah meyakinkan Zaid bahwa hal ini adalah suatu kebaikan sehingga pemuda itu bersedia melaksanakan tugasnya. Dalam hati, Zaid sungguh lebih memilih untuk memindahkan gunung daripada mengemban tugas seberat ini. Mengumpulkan Alquran.

Zaid bin Tsabit langsung bergerak. Dikumpulkannya ayat-ayat yang pernah ditulis di lembaran kulit binatang, tulang-tulang, dan pelepah kurma. Didatanginya satu per satu para penghafal Alquran yang masih tersisa untuk menyetorkan hafalan mereka.

Tugas itu sungguh tidak mudah. Masing-masing ayat harus dikonfirmasi kebenarannya oleh minimal dua saksi yang benar-benar menghafal Alquran. Akhirnya, setelah semua ayat-ayat yang tercecer itu berhasil dikumpulkan, Zaid menuliskan ulang di lembaran kulit binatang. Dia ingat betul urutan surat dalam Alquran karena Rasulullah telah menuturkan dua kali tentang urutan surat itu sebelum wafatnya.

Alhasil, ayat-ayat Alquran telah usai ditulis dan dikumpulkan. Tidak ada lagi ayat-ayat yang berceceran. Hasil kerja keras Zaid tentu mengurangi banyak kecemasan khalifah terhadap gugurnya para tahfidz.

Meskipun pada saat itu, lembar-lembar kulit binatang yang berisi ayat-ayat tersebut hanya untuk dikumpulkan, sementara penyempurnaannya ada pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan. Beliaulah yang memberi perintah agar Alquran dimushafkan dalam bentuk  kitab seperti yang kita miliki sekarang.

Sepatutnya kita berterima kasih pada Zaid bin Tsabit. Walaupun Alquran sudah dijamin kemurniannya dan pasti akan sampai di masa kita, namun berkat ia Alquran terhimpun dengan rapi sehingga sampai di tangan kita sekarang dalam bentuk yang benar-benar mudah untuk dipelajari.

Nah, itu dia, Sahabat Saliha, kisah Zaid bin Tsabit, pemuda cerdas yang mengumpulkan ceceran ayat-ayat Alquran. Semoga kita dapat berjumpa dengannya kelak, dalam himpunan orang-orang yang dicintai Rasulullah. Aamiin.

Penulis bernama Ayu Fitri Septina, lahir 30 September 1993 di Batang, Jawa Tengah. Dari kecil suka membaca buku dan menulis diary, bermimpi kelak bisa menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Menjadi salah satu kontributor dari antologi Dear Mantan dan Selamat Tinggal Desember. Penulis membulatkan niat untuk menekuni dunia kepenulisan, meski latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan. Penulis bisa dihubungi melalui facebook Ayu Fitri Septina, email : septiwijay19@gmail.com, atau di blog pribadinya www.kisahdisuatusenja.blogspot.com.