OASE
2018-04-07 09:00:00

Hati-hati! Allah Mudah Membolak-Balikkan Hati Manusia

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Prasangka identik dengan pemikiran buruk terhadap sesuatu atau seseorang sebelum mengetahui kondisi yang sebenarnya. Dalam kehidupan sosial, sulit sekali bagi manusia terlepas dari prasangka-prasangka. Ini bukan hanya merugikan orang lain, tapi juga diri sendiri. Mendatangkan dosa dan merusak hati. 

Satu pengalaman akan saya bagikan untuk sahabat Saliha sebagai bahan renungan. Semoga bisa menjadi iktibar bagi kita yang sering memelihara prasangka. 

Peristiwa ini terjadi sekitar 2014 silam. Sudah cukup lama, tapi pengalaman ini terlalu berkesan untuk dilupakan. Salah seorang teman saya, katakanlah namanya Aida, memutuskan hijrah terutama dalam hal penampilan. Dia mengemas tubuhnya dengan pakaian syar’i dari ujung kepala sampai kaki. T-shirt pressed body dan celana jeans miliknya semua, telah disumbangkan untuk orang lain. Tak hanya itu, yang saya tahu dia mulai rajin menghadiri kajian-kajian agama di beberapa masjid. 

Masyaallah, betapa besar kekaguman saya melihat perubahannya itu. Jauh di dalam hati saya terselip rasa iri. Kapan ya saya bisa berhijrah total seperti dia? Saya memang sudah cukup lama berhijab. Tapi dari segi pakaian memang belum seperti dia. Kadang-kadang atasan dan celana panjang yang saya kenakan masih njeplak badan. Cara memakai jilbab pun masih sering dililit di leher. Padahal, saya tahu Islam menganjurkan wanita menurunkan jilbabnya sampai ke dada. 

Perubahan lain yang saya lihat dari Aida, dia tidak lagi memposting foto-foto ditinya di akun media sosial. Foto-foto yang terlanjur ada semua telah dihapus tak bersisa. Kini, yang terpasang di profil picture-nya hanya kartun perempuan berhijab atau barisan kata-kata mutiara. 

Tema tulisannya di media sosial yang dulu random, sekarang lebih sarat informasi-informasi bernafaskan Islam. Entah itu isi hadis, potongan ayat Alquran, dan ceramah-ceramah agama. Luar biasa. Dia bisa berubah seperti sekarang bagi saya adalah suatu prestasi. 

Suatu hari, kami terlibat dalam satu kegiatan yang sama. Ada orang-orang baru di antara kami. Model penampilannya ya beragam. Dari yang tidak berhijab hingga yang berpenampilan seperti Aida gabung di dalamnya. Saya melebur di antara mereka, tanpa membeda-bedakan. Tetapi, Aida justru sebaliknya. Dia hanya mau bergabung dengan orang-orang yang berpenampilan sama sepertinya. 

Saat tiba waktunya break, saya memperkenalkan Cynthia kepadanya. Cynthia adalah teman baru saya di kegiatan itu. Cynthia menyapa Aida dengan senyum hangat sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Pemandangan yang bersebarangan terpancar dari wajah Aida. Dia hanya menanggapi perkenalan itu dengan wajah dingin. Senyumnya irit sekali.

Dalam perjalanan pulang saya bertanya, “Da, aku lihat tadi kayaknya kamu kurang sreg sama Cynthia. Kenapa?” 

Dia membenarkan. “Penampilannya itu, lo. Cewek ‘nggak beres’ itu pasti.”

Saya kaget luar biasa mendengar ucapan Aida. Begitu mudah dia menyimpulkan sesuatu hanya dari kemasan luar. 

“Astagfirullah, Da. Jangan begitulah! Belum tentu prasangkamu itu benar. Kalau salah dosa, lo.” 

“Kamu kan lihat sendiri, gimana gayanya tadi. Kemeja ketat, celana ketat, rambut merah, make-up menor. Pecicilan pula. Seorang wanita mana boleh berpenampilan dan berkelakuan seperti itu. Kalau kita mendekati sesuatu yang buruk, maka kita akan menjadi buruk juga,” Aida berceramah panjang lebar.

Tahu Aida tidak menyukai Cynthia hanya karena penampilan dan cara Cynthia bersikap berbeda jauh darinya, saya tak mau memaksa. Biarlah Aida bertahan dengan pemikirannya. Sementara saya, memilih tetap melanjutkan pertemanan dengan Cynthia. Tiap saya bersama Cynthia, tak ada Aida di antara kami. Begitu pula sebaliknya. 

Saya akui, Cynthia kerap berpenampilan seksi dan mengundang perhatian. Orangnya easy going, tapi Aida mengartikannya pecicilan. One thing for sure, dia bukan perempuan “nggak bener” seperti yang dikatakan Aida menurut prasangkanya tempo hari. Cynthia punya pekerjaan tetap yang halal. Jam-jam salat, dia juga melaksanakan salat. Bulan ramadhan dia ikut berpuasa. Bahkan, dia yang paling cepat keluar uang kalau sudah urusan sedekah. Dia paling tidak bisa melihat orang lain susah dan tidak berdaya. 
Kekaguman saya terhadap Cynthia sama seperti kekaguman saya saat pertama kali mengetahui Aida hijrah, namun kali ini dalam versi yang berbeda. Persamaannya, mereka sama-sama melakukan kebaikan. 

Seiring berjalan waktu, keimanan Aida diuji dalam bentuk prahara rumah tangga. Suaminya berulah hingga membuat Aida tak sanggup lagi mempertahankan biduk rumah tangga. Pasca perceraian, Aida semakin terpuruk. Terlebih sang suami buang badan menafkahi buah hati mereka. Jadilah Aida yang menanggung semua kebutuhan keluarga, mulai dari biaya pangan, sekolah anak, listrik, hingga sewa rumah. 

Dia yang awalnya tidak bekerja, akhirnya memberanikan diri berdagang pakaian agar ada pemasukan. Sayangnya, keberuntungan kurang berpihak pada Aida. Dagangannya kurang laris sehingga perputaran modal lambat sekali. Sementara kebutuhan demi kebutuhan terus berdatangan dan harus segera dipenuhi. Aida mulai merasa berniaga bukan passion-nya. Bahaya jika terus berkutat di sini. 

Berbekal ijazah S1, Aida lalu mencoba melamar pekerjaan dari kantor ke kantor. Namun, keseringan dia terbentur masalah usia dan penampilan. Ya, pakaian syar’i-nya itu kerap dianggap tidak sesuai dengan standar perusahaan. Kaku dan kurang menarik. Kalaupun ada yang menerima, gajinya tidak ssebanding dengan tugas dan tanggung jawab yang dia emban. 

Kesulitan yang dihadapi Aida saat ini lambat laun menggoyah imannya. Karena merasa tak ada pilihan lain, Aida mencopot hijabnya dan segala atribut syar’i-nya hanya demi bisa mendapatkan pekerjaan. Berlinang air mata saya saat pertama kali melihat dia datang ke rumah tanpa mengenakan gamis dan bertelanjang kepala.

“Terpaksa, De. Anakku butuh makan dan sekolah. Uang kontrakan juga harus dibayar,” Aida beralasan. 

Saya yang merasa gagal membantu, hanya bisa mengalungkan pelukan ke tubuh Aida. Dalam hati saya bertanya-tanya, apakah ini cara Tuhan menegur Aida atas kesombongannya terhadap Cynthia? Wallahu a’alam. 

Setelah melamar ke sana ke mari, Aida akhirnya diterima sebagai sekretaris di sebuah perusahaan property. Gajinya lumayan untuk menopang hidup dengan satu orang anak. Tapi ya penampilan Aida tidak bisa sebagaimana dulu. Rok span selutut dipadu kemeja lengan pendek jadi seragam hari-harinya. Rambut dan batang kaki yang dulu dia sembunyikan di balik pakaian panjang, kini mudah sekali terlihat oleh mata telanjang.

Rambut Aida pun mulai berganti warna menjadi pirang. Mungkin supaya terlihat lebih menarik dan tidak kalah saing dari rekan-rekan seprofesinya di kantor. Sungguh, di mata saya sekarang dia tak jauh beda dari gaya Cynthia berpenampilan.

Apa yang dialami Aida menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, khususnya saya, agar tidak sesumbar dengan keimanan dan ketaatan yang kita miliki. Hijrahlah dengan rendah hati. Sebaik-baik iman dan ketakwaan seorang insan di dunia, tetap bukan dia yang berhak menakar derajat baik buruk manusia.

Sungguh amatlah mudah bagi Allah SWT membolak-balikkan hati manusia dan mengubah segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. 

Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Ade Wulan, Pekan Baru.

 

RECOMMENDED FOR YOU