OASE
2018-02-28 17:50:00

Bacalah, Perintah Allah yang Pertama

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - “Iqro’ ya, Muhammad!” Suara itu bergaung di dalam Gua Hira’. “Maa ana bi qori’ ...,” gema suara lain yang lebih terdengar seperti rintih ketakutan, merambat ke seluruh penjuru gua.

“Iqro’!” Bacalah! Kali ini suara itu lebih lantang sehingga sanggup merontokkan tulang belulang. “Maa ana bi qori’...,” Aku tidak bisa membaca. Jawaban yang masih tetap sama.

“Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq!” 

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Sosok malaikat penyampai wahyu itu memeluk erat insan pilihan yang gemetaran di hadapannya. Dialah Muhammad, junjungan alam semesta, penghulu seluruh umat. Tulang-tulangnya serasa lepas dari persendian tatkala Jibril menyampaikan wahyu pertama yang ia terima. Bacalah, ya Muhammad! 

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq : 1-5)

Membaca adalah perintah yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah. Padahal seperti kita ketahui, beliau adalah seorang yang ummi, tidak bisa baca tulis. Akan tetapi Jibril menuntunnya untuk tetap membaca, dengan menyebut nama Allah terlebih dahulu.

Sahabat Saliha, bukankah cukup jelas makna tersirat dari perintah membaca ini? Artinya, manusia dituntut untuk selalu belajar. Membaca apa saja, belajar dari mana saja. Tak hanya di bangku pendidikan, kita juga harus bisa belajar dari kehidupan. Belajar dari sikap dan tabiat orang lain, pun belajar dari setiap peristiwa hidup yang kita lalui.

Kegiatan membaca juga tidak sekedar mengeja aksara. Mendalami Alquran, mempelajari hadis, dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta juga tercakup di dalamnya. Dengan itu manusia akan berpikir, mengetahui, hingga akhirnya mampu menundukkan hati di hadapan Sang Pencipta. 

Manusia yang menggunakan inderanya untuk membaca dan berpikir tentu akan mengagungkanNya tanpa ada rasa arogan sedikit pun, karena mengerti bahwa memang Dialah yang Maha Agung di balik seluruh penciptaan. Sadar bahwa dirinya hanya bagian kecil dari maha karyaNya yang luar biasa besar, hingga tidak terbetik hasrat di hati untuk menyombongkan diri.

Belajar adalah proses sepanjang hidup. Karena itu, tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Segala hal yang ada dalam kehidupan selalu menyodorkan pelajarannya untuk kita pahami. Tinggal bagaimana kitanya, apakah mau menjadi golongan dari orang-orang yang berpikir atau tidak.

Rasulullah adalah contoh sempurna dalam hal ini. Mungkin beliau memang tidak belajar dari bangku pendidikan formal, namun beliau mempelajari apa yang ada di sekitarnya. Beliau mengetahui  bahwa kebiasaan kaum Quraisy yang suka mabuk-mabukkan, berjudi, dan menyembah berhala itu adalah hal yang buruk. 

Lantas beliau memilih untuk menghindar agar tidak ikut terseret pada kebiasaan buruk itu. Gua Hira’ adalah tempatnya berkhalwat, merenung, dan mencari kebenaran bahwa ada Tuhan yang lebih berhak disembah daripada berhala-berhala tersebut. Hal itu adalah contoh bagaimana beliau belajar dari kehidupan, yang menjadikannya manusia cerdas sehingga tidak ikut hanyut dalam tabiat mungkar.

Dalam takdir yang dituliskan pada kita pun, pasti terdapat pembelajaran. Misalnya saja, usaha yang kita jalankan mengalami kebangkrutan. Bagi orang yang mau belajar, tentu itu menjadi  suatu pelajaran yang sangat berarti. Dia akan berpikir bagaimana caranya bersabar, bangkit, dan berusaha merintis usahanya kembali. 

Orang yang memahami bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya adalah sarana pembelajaran dari Allah, tentu tidak akan putus asa. Dia sepenuhnya mengerti bahwa kesulitan adalah cara Allah membentuknya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. 

BACA JUGA:

Membaca Alquran raksasa di dunia di Sumatera Selatan 

Pun dalam segala ketercukupan, di dalamnya terkandung begitu banyak pelajaran. Kita harus belajar mensyukuri nikmat, membelanjakannya di jalan yang Allah ridhoi, dan membantu sesama yang kekurangan. Orang yang berpikir akan mengerti bahwa segala yang dimilikinya adalah milik Allah, sehingga dia ringan tangan membantu sesama dan tidak akan pamer. Karena dia sadar, semua itu bukan miliknya.

Perilaku dan sikap orang lain juga adalah pembelajaran bagi kita. Saat melihat orang yang baik, rendah hati, dermawan, maka orang yang berpikir akan belajar agar dia bisa mencontoh perilaku orang tersebut. 

Sebaliknya, jika kita pernah dihujat orang lain, dicaci olehnya sehingga hati kita sakit tak terkira, kitapun harus belajar supaya perangai kita tidak sama seperti dia. Tidak menyakiti orang lain karena pernah merasakan rasanya disakiti. 

Di era milenial ini, sarana untuk belajar sangat mudah sekali didapat. Selain dari pendidikan formal, lewat internet kita bisa mencari informasi apa saja yang ingin kita ketahui. Dengan tekhnologi pula, kita bisa dengan mudah dan cepat menyebarkan ilmu yang kita punya. Maka dari itu kita harus menggunakan kesempatan ini untuk terus membaca, belajar, dan menyampaikan hal-hal yang baik. 

BACA JUGA:

Ini dia langkah mudah dalam menghafal Alquran bagi pemula

Sahabat Saliha, hidup ini adalah pembelajaran. Maka tak jarang kita jumpai ada orang yang begitu arif dan bijaksana meski tidak pernah menyentuh bangku sekolah. Karakter itu terbentuk karena dia mampu belajar dari kehidupan. Membaca alam, merenungi kebesaran Allah, kemudian mengerti bagaimana cara menjadi insan yang diinginkanNya dalam menjalani hidup.

Dan tak sedikit pula kita dapati mereka yang gelarnya begitu panjang di belakang nama, namun perangainya tidak mencerminkan itu semua. Mungkin saja mereka hanya belajar, tapi tidak mampu membaca kebesaranNya, sehingga merasa dirinyalah yang paling besar. Sungguh sangat disayangkan, bukan? 

Karena itu selain mengumpulkan gelar, kita juga harus mampu mempelajari apa-apa yang ada dalam hidup ini. Tujuannya, agar semakin berisi kita, maka hati juga semakin merunduk. Merendahkan diri di hadapanNya, merendahkan hati di hadapan sesama.

Membaca, memahami, dan mengamalkan segala hal yang baik semoga menjadikan kita insan-insan yang mampu mengemban amanah-Nya, menjadi khalifah di muka bumi ini. Maka bacalah, seperti perintahNya. Bacalah, meski keadaan tengah sempit menghimpit. Bacalah, dalam lapang dan ketercukupan. Bacalah, tak peduli kita sedang berduka atau bahagia. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
 
Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Ayu Fitri Septina, Batang, Jawa Tengah. Dari kecil suka membaca buku dan menulis diary, bermimpi kelak bisa menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Menjadi salah satu kontributor dari antologi Dear Mantan dan Selamat Tinggal Desember. Penulis membulatkan niat untuk menekuni dunia kepenulisan, meski latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan. Penulis bisa dihubungi melalui facebook Ayu Fitri Septina, email : septiwijay19@gmail.com, atau di blog pribadinya www.kisahdisuatusenja.blogspot.com.
RECOMMENDED FOR YOU