TRAVEL
Situasi kota San Cristobal, Chiapas, Meksiko. Foto: Aleksandar Todorovic / Shutterstock.com
2017-11-01 13:00:00

Menemukan Cahaya Islam di Suku Maya Meksiko

BY DEE

SALIHA.ID - Islam merupakan hal langka di Meksiko. Dengan 83% penduduk Meksiko beragama Kristen Katolik, muslim hanyalah 1% dari 120 juta populasi atau sedikitnya 3,762 orang. Uniknya, Islam banyak dipeluk oleh suku asli bangsa Meksiko, yaitu bangsa Maya.  Mereka umumnya tinggal di kota San Cristobal de las Casas, sebuah kota di Chiapas yang memadukan identitas Maya dan Spanyol.

Di sana, penduduk muslim mudah dikenali dari pakaiannya. Laki-laki mengenakan kupluk haji berwarna putih, sementara perempuannya mengenakan kerudung yang dimodifikasi dari selendang suku Maya.

Anak-anak muslim dari suku Maya belajar mengaji. Foto: Pinterest

Pada umumnya orang menganggap Islam datang ke Meksiko sejak akhir tahun 1980, umumnya dibawa oleh muslim dari Afrika atau Timur Tengah. Namun ada dugaan bahwa Islam sudah ada sejak zaman kolonial.

Zidane Zeraoui, professor Hubungan Internasional Technological University of Monterrey, meyakini bahwa, “Orang-orang Marano, datang ke Amerika Latin sebagai orang Kristen. Tetapi diam-diam, di rumah mereka, mereka masih menjalankan ibadah mereka.”

Buktinya ada pada bangunan di Meksiko yang bergaya “Mudéjar,” kata yang digunakan bagi kaum muslim yang berada di bawah penguasa Kristem di Spanyol. Orang-orang kota Monterray juga lebih menyukai daging kambing daripada babi, bukti dari pengaruh makanan halal.

Islam mulai menemukan perkembangan yang berarti ketika pada tahun 1995, perantau muslim dari Spanyol yang dipimpin oleh  Aureliano Pérez, datang.

Mereka bermukim di kota San Cristobal. Selain berdakwah, para perantau muslim ini juga memberikan bantuan dan lapangan pekerjaan. Terdapat banyak diskusi mengenai keagamaan dan makna kehidupan sembari minum kopi. Pada 2015 banyak anggota suku asli Maya, termasuk suku Tzotzil, beralih memeluk Islam.

Lelaki suku Maya salat berjamaah. Foto: Tumblr Ihavefaith

Masuknya Islam juga bersamaan dengan bangkitnya gerakan Zapatista yang mendapat dukungan di Chiapas pada tahun 1994. Zapatista merupakan gerakan akar rumput yang menuntut perbaikan nasib bagi suku asli Meksiko yang tersingkirkan secara sosial dan ekonomi. Banyak pendukung Zapatista merupakan orang Tzotzil.

Di Meksiko, suku asli dianggap sebagai warga negara kelas dua. Bukan hanya sangat miskin, mereka mengalami diskriminasi. Warga asli yang berjalan di trotoar terbiasa menyingkir untuk memberikan jalan pada warga kulit putih. Pasar terbesar di kota San Cristobal juga dikuasai oleh suku asli beragama Katolik. Alkohol juga merajalela di kalangan penduduk asli.

Bagi orang Tzotzil, Islam menawarkan banyak hal: mulai dari kebersihan, anti minuman keras, kesetaraan yang tidak mengenal kasta, dan juga jalan selain kapitalisme.

“Dulu saya suka mabuk-mabukan. Tetapi sekarang, saya bekerja dan menjaga keluarga saya, tidak ada yang lain,” kata Salvator Lopez yang memiliki nama Islam Muhammad Amin, menceritakan pengaruh Islam bagi dirinya. Lopez mengakui telah berganti agama dua kali sebelum menemukan kedamaian dalam Islam.

Islam juga memiliki kesamaan dengan suku Maya.

"Orang Islam makan bersama-sama. Mereka memakai piring besar di tengah-tengah dan semua orang makan dengan tangan. Kakek saya dulu juga begitu,” tambahnya.

Keberadaan Islam bukanlah tanpa tantangan. Dari pemerintah, awalnya terdapat kecurigaan dan kekhawatiran pengaruh ideologi radikal dan terorisme. Bahkan ada mata-mata yang memantau komunitas muslim di San Cristobal. Namun, kecurigaan tersebut berakhir setelah diketahui tidak ada agenda politik dari komunitas muslim.

BACA JUGA:

Menapaki jejak Islam di Tiongkok lewat masjid Niujie

Karena Islam masih merupakan agama baru di Meksiko, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh mualaf. Andrés Ferrer yang memiliki nama Islam Muyahid menghadapi tantangan dari keluarganya sendiri. 

“Banyak orang bereaksi negatif karena tidak mengenal Islam. Terkadang mereka menyebut kami teroris. Keluarga saya bahkan menganggap saya gila.”

Meski kecil dan berkembang, komunitas muslim di Chiapas telah membuka madrasah untuk membantu mualaf semakin mengenal Alquran. Mereka juga membantu umat Islam yang ingin naik haji.

Saat ini sudah terdapat beberapa orang Maya yang menjalani ibadah haji. Terdapat juga bisnis yang dimiliki umat Islam seperti restoran Pizza.

Umat muslim di Meksiko umunya tinggal di empat kota: Tequesquitengo, Torreón, San Cristobal de las Casas, dan Mexico City. Separuh penduduk muslim di Meksiko adalah mualaf. 

RECOMMENDED FOR YOU