TRAVEL
Halaman Universitas Al Quaraouiyine. sumber: milosk50 / Shutterstock.com
2018-01-17 09:00:00

Tahukah Kamu Bahwa Pendiri Universitas Pertama di Dunia adalah Muslimah?

BY DEE

SALIHA.ID - Pernahkah sahabat bertanya-tanya siapa orang yang pertama kali mendirikan institusi universitas di dunia ini? Nah jika kita berpikir bahwa tradisi universitas dimulai dari Barat, maka sahabat salah besar. Ternyata, menurut UNESCO dan Guinness Book of Recods, universitas pertama di dunia adalah Universitas Al Quaraouiyine atau Al Karaouine yang ada di Maroko. Universitas ini didirikan oleh seorang muslimah bernama Fatima al-Fihri pada tahun 859. Wah, hebat bukan?

Fatima al-Fihri adalah putri dari pedagang dari Kairouan, Mohammed Al-Fihri. Mereka pindah dari Tunisia ke Fes, Maroko pada awal abad 9. Saat itu Fes adalah ibukota Dinasti Idrisid.  Fes merupakan kota metropolitan maju yang dinamis, dengan bangunan yang indah dan megah dan menjadi rumah bagi beragam pemeluk agama dengan latar belakang budaya yang berbeda. Tak heran kalau kota Fes mendapat julukan 'Mekah dari Barat' dan 'Athena dari Afrika'.

Meski awalnya menghadapi kesulitan ekonomi, keluarga Al-Fihri berhasil menjadi keluarga pedagang yang terpandang dan kaya raya. Fatima juga menemukan jodohnya di kota ini. Namun badai datang dan menerpa keluarga Al-Fihri. Fatima berurut-turut kehilangan suami, saudara laki-laki, dan kemudian, sang ayah.

Setelah meninggalnya sang ayah, Fatima dan adiknya, Mariam, mendapatkan warisan besar. Meski sedih kehilangan anggota keluarga, Fatima dan adiknya tidak berlarut-larut ke dalam kesedihan. Mereka juga tidak sekadar kembali berdagang. Mereka ingin mencapai lebih dari itu.

Dengan penuh tekad, Fatima memanfaatkan uang warisan tersebut untuk membangun masjid sekaligus pusat pendidikan. Bahkan, ia sendiri yang mengawasi pembangunannya setiap hari. Padahal ia bukan pakar di bidang konstruksi, lo.

Dibangun pada awal Ramadhan 245 H/859, universitas sekaligus masjid ini selesai dua tahun kemudian.  

 

Pintu Gerbang Universitas Al Quaraouiyine di Maroko

Setelah selesai, masjid ini didaulat sebagai masjid terbesar di Afrika Utara sekaligus pusat belajar lanjutan di Abad Pertengahan. 

Pada awalnya, pendidikan di Universitas Al Quaraouiyine berfokus pada agama Islam dan ilmu hukum. Namun kemudian keilmuan lain juga dipelajari seperti Bahasa Perancis, Bahasa Inggris, retorika, logika, ilmu kedokteran, matematika dan astronomi. 

Pelajaran dilakukan dengan cara tradisional, di mana murid-murid duduk setengah melingkar menghadap seorang sheikh. Murid berasal dari beragam sudut Moroko dan Barat Afrika, bahkan Asia Tengah, muslim dari Spanyol. Jangan bayangkan universitas ini khusus untuk laki-laki saja, ya. Banyak juga murid perempuan di sini.

Al Quaraouiyine terbukti melahirkan banyak pemikir terkemuka. Sebut saja pakar sejarah Ibnu Khaldun, pakar astronomi al-Birtuji (Alpetragius), penulis dan penjelajah terkenal Leo Africanus, dan lain-lain. Bahkan ada pula murid non Muslim seperti Gerber of Auvergne yang kemudian menjadi Paus Sylvester II dan filsuf dan dokter Yahudi, Maimonides.

Bangunan Universitas Al Quaraouiyine, pada awalnya merupakan bangunan yang sederhana. Namun sejak masjid ini rajin dikunjungi sultan untuk Salat Jumat, perawatannya diambil alih oleh negara pada tahun 918. Dari sinilah, masjid dan universtitas ini terus berkembang.

Selama berabad-abad, Universitas Al Quaraouiyine merupakan gerbang ilmu pengetahuan antara Afrika dengan Timur Tengah dan Eropa. Saat kaum muslim terusir dari Spanyol pada Abad ke-13, banyak dari mereka yang datang ke Fes dan belajar di Universitas Quaraouiyine. Mereka membawa serta ilmu dari Eropa dan seni dan ilmu pengetahuan Bangsa Moor.

Universitas ini juga membanggakan diri memiliki salah satu perpustakaan terbesar di dunia. Dibangun pada tahun 1349 oleh Sultan Abu Inan dan diselesaikan pada era Raja Mohammed V, perpustakaan Al Quaraouiyine merupakan salah satu perpustakaan tertua dan paling dihormati di dunia. 

Selama berabad-abad, sejarahwan dan pelajar dari penjuru dunia datang ke Fes untuk memperoleh informasi dari perpustakaan ini. Sayang kemudian perpustakaan ini tak terurus saat menurunnya masa emas Islam. Baru kemudian di zaman modern ini, pemerintah Maroko memperbaiki perpustakaan tersebut. 

Kisah Fatima menunjukkan bahwa Islam memberikan peluang besar bagi perempuan untuk maju dan berkembang. Fatima juga dapat menjadi contoh bagi generasi muda agar berani berjuang mewujudkan visi dan melakukan perubahan.

Yuk, sahabat mau mengikuti jejak Fatima di era modern ini?

RECOMMENDED FOR YOU

SUBCRIBE TO THE NEWSLETTER

Segala bentuk informasi yang Anda dapatkan dalam website ini telah terverifikasi dengan baik, sehingga kebenaran nilai informasi yang terkandung di setiap berita dapat dipertanggungjawabkan oleh pihak PT Ikra Tama Mandala.