TRAVEL
2018-04-16 14:56:00

Menjelajah Masa Lalu di Museum Bali

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke salah satu museum tertua di Bali. Museum Bali terletak di pusat kota Denpasar. Beralamat di Jalan Mayor Wisnu, Museum Bali buka mulai pukul 07.30-15.30 WITA. Kecuali Jumat, museum buka pukul 07.30-13.00 WITA. Sementara di hari libur resmi, museum tidak dibuka.

Museum ini diresmikan tanggal 8 Desember 1932. Pencetusnya adalah W.F.J. Kroon, seorang asisten residen Kawasan Bali Selatan. Usulan ini kemudian mendapat masukan dari Th. A. Resink, orang Eropa yang menetap di Bali, dan akhirnya didukung oleh seluruh raja Bali.

Demikianlah akhirnya, museum ini didirikan untuk menampung peninggalan-peninggalan berharga dari masa lalu. Semua peninggalan ini disimpan dalam gedung yang dibangun dengan arsitektur-arsitektur yang mewakili beberapa daerah di Bali.

Setelah menapak jalan berpaving yang menjadi kawasan parkir, saya disambut oleh gapura megah yang menjadi simbol dari museum ini. Sementara pintu masuk museum ada di sebelah timur gapura berpagar ini. Tempat pembelian tiket museum ada di bagian kanan. Di sana, ada petugas yang dengan senang hati akan menjelaskan tentang museum ini.

Untuk dapat memasuki museum, Sahabat Saliha harus membeli tiket dahulu. Tiket untuk orang dewasa berkebangsaan Indonesia seharga Rp.25.000,00 per orang. Untuk anak-anak, tiket seharga Rp.10.000,00. Namun, jika sahabat merupakan mahasiswa atau mengajak murid-murid sekolah, sahabat akan mendapat harga berbeda. Tiket untuk mahasiswa seharga Rp.5.000,00 per mahasiswa, dan Rp.2.000,00 per murid sekolah.

Museum ini juga memperbolehkan sahabat untuk mengadakan pemotretan foto pre wedding. Untuk berfoto di seluruh kawasan museum berarsitektur unik ini, sahabat cukup mengeluarkan Rp.500.000,00 saja.

Setelah membeli tiket, ada baiknya sahabat meminta brosur kepada petugas tiket. Brosur ini akan memudahkan sahabat untuk memahami bagian-bagian museum. Informasi umum mengenai sejarah dan bagian-bagian museum terdapat di dalam brosur. Namun, tidak ada peta dan penunjuk arah. Juga tidak terdapat informasi yang cukup lengkap mengenai sejarah maupun latar budaya benda-benda di dalam museum.

Saya sendiri kemarin ditemani seorang pemandu bernama Pak Nyoman. Untuk bantuan pemandu seperti ini, Pak Nyoman meminta tip seikhlasnya saja.

Informasi lebih lengkap mengenai upacara-upacara adat dan tarian-tarian dijelaskan lebih lanjut oleh Pak Nyoman. Pak Nyoman juga menjelaskan kalau dulu, museum ini hanya memiliki 3 gedung: Gedung Buleleng, Gedung Karang Asem, dan Gedung Tabanan. Bagian timur yang berlantai dua adalah bangunan yang lebih baru.

Di lantai 2 gedung timur, kita akan menemukan berbagai alat-alat yang digunakan pada masyarakat Bali kuno. Di sini juga terlihat beberapa senjata-senjata di zaman penjajahan, dan patung yang menggambarkan meneer Belanda.

Turun ke lantai 1, kita akan diajak menjelajah Bali di zaman prasejarah. Semua peralatan-peralatan dari zaman batu hingga zaman perunggu dapat dilihat di sini. Ada juga diorama yang menampilkan kehidupan manusia purba di Bali dulu.

Keluar dari gedung timur, sahabat akan diajak melewati satu gapura yang mengarah ke bangunan pertama. Gedung Buleleng memiliki arsitektur unik dengan atap bertingkat dua. Di sini, sahabat bisa menemukan sejarah perdagangan di Bali. Segala jenis alat tukar kuno, dari kerang hingga uang kepeng bisa disaksikan di sini. Sahabat juga dapat melihat kegunaan lain dari uang kepeng sebagai alat upacara maupun jadi produk kerajinan.

Gedung Buleleng

Gedung kedua, Gedung Karang Asem, merupakan gedung terbesar di antara gedung-gedung lain. Gedung Karang Asem juga memiliki bentuk berbeda dengan atap tidak bertingkat. Di gedung ini, semua yang dipamerkan terfokuskan pada ikon Cili. Cili sendiri adalah simbol wanita dengan muka runcing, kepala sedikit melebar dan kadang runcing, telinga memakai anting besar dan berpinggang ramping. Kaki Cili tidak pernah diperlihatkan dengan jelas.

Gedung Karang Asem

Selain mempelajari makna Cili sebagai simbol kesuburan dan penyembahan terhadap Dewi Sri, kita juga dapat melihat-lihat berbagai alat upacara yang digunakan dalam proses persembahyangan umat Hindu di Bali.

Gedung terakhir adalah Gedung Tabanan. Di aula depan, dipamerkan berbagai jenis tarian dan bentuk-bentuk barong.

Koleksi Barong

Di Gedung Tabanan, kita dapat melihat berbagai keris beserta warangka (sarung)-nya. Kita juga dapat mengetahui fungsi keris dalam kehidupan masyarakat Bali sebagai alat upacara.

Permandian raja yang kini menjadi kolam ikan adalah rute akhir dari kunjungan Saliha di Museum Bali. Perkembangan sejarah dari masa ke masa sungguh menyentuh hati. Demikian juga perjuangan para pejuang di masa lalu. Semuanya menorehkan catatan tersirat dalam jejak-jejak yang ditinggalkan.

Bekas pemandian yang menjadi kolam ikan

Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Putu Felisia, Bali. 

RECOMMENDED FOR YOU

SUBCRIBE TO THE NEWSLETTER

Segala bentuk informasi yang Anda dapatkan dalam website ini telah terverifikasi dengan baik, sehingga kebenaran nilai informasi yang terkandung di setiap berita dapat dipertanggungjawabkan oleh pihak PT Ikra Tama Mandala.