TRAVEL
foto: shutterstock.com
2018-03-12 19:46:00

Baku, Kota Angin Azerbaijan Yang Kaya Akan Jejak Sejarah Islam

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Berkesempatan untuk berkunjung ke kota Baku, Azerbaijan menyisakan kenangan tersendiri bagi saya. Menjelang akhir Desember tahun lalu, saya diundang oleh pemerintah Azerbaijan dalam acara Solidaritas Muslim Dunia, yang membicarakan isu-isu terkini dunia Islam.

Meskipun judulnya Solidaritas Muslim, namun yang diundang dari berbagai macam agama, baik sebagai peserta maupun narasumber. Utusan Indonesia adalah satu-satunya yang berbicara di forum tersebut yang berjenis kelamin perempuan. Namanya juga pertemuan tokoh agama, sangat identik dengan laki-laki.

Penulis di acara Solidaritas Muslim Dunia, satu-satunya perempuan di forum tersebut

Bagi Indonesia,  negara yang berada di persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya dan berbatasan dengan Rusia, Georgia, Armenia dan Iran ini merupakan sesuatu banget. Syekh Maulana Malik Ibrahim (hidup pada abad ke 14) merupakan pembawa Islam pertama ke tanah nusantara. Beliau berasal dari Samarkand, Azerbaijan.  

Berada di kota Baku yang menjadi ibukota Azerbaijan sejak tahun 1991 merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Kata Baku sendiri mempunyai arti angin, karena kota Baku sangat berangin. Ketika saya berada di sana di akhir bulan Desember, cuaca lumayan dingin ditambah angin yang menerpa tanpa henti.

Old City, inti peradaban Baku

Di tengah kota Baku ada kawasan Old City, atau kota tua. Old City adalah inti dari peradaban di kota Baku. Di kota tua inilah berdiri kompleks istana Shirvanshah yang sangat indah bangunan-bangunan kuno yang sangat rapat, seperti labirin. Tembok pagar, dinding, pintu jendela sangat khas Eropa Asia, dan mampu menggambarkan masa-masa peradaban  yang pernah dilalui oleh kota ini.

Mengunjungi kawasan Old City

Benteng-benteng yang dahulu dipakai oleh para tentara kerajaan, sekarang dipakai sebagai restoran dengan masakan-masakan tradisional Azerbaijan yang sangat masuk di lidah saya.

Di antara bangunan-bangunan tua yang masuk dalam kawasan peninggalan sejarah dunia oleh UNESCO pada tahun 2000,  itu ada menara yang bernama Maiden tower. Menara setinggi 29,5  dan berdiameter 16,5 m ini kabarnya dibangun di abad ke 12 namun ada juga referensi yang mengatakan dibangun di abad ke 7.

Penulis berada di dalam Meidan Tower

Yang menarik, Menara tersebut dibangun dengan konstruksi kayu sebagai penyangga, sehingga menara itu dirancang untuk anti gempa. Keren, ya? Cerita di balik menara itu beragam; salah satu yang sangat melegenda adalah tentang kisah seorang gadis yang bunuh diri karena akan dinikahi oleh ayahnya sendiri yang seorang raja. Apapun ceritanya, Maiden Tower yang berada di old city ini adalah fakta sejarah yang  telah melintasi masa mulai masa Zoroastrianisme, Sasania, Arab, Persia, Shirvani, Ottoman, terakhir Uni Soviet.

Ilmuwan atau ulama?

Di kawasan istana yang dikelilingi oleh tembok yang memisahkan antara kompleks istana dan bukan istana itu ada makan Syeikh Yahya al Bakuni yang merupakan penasihat raja. Belum ada informasi yang jelas tentang beliau, namun di dekat makam beliau dikatakan beliau adalah ilmuwan, bukan ditulis sebagai ulama. Bisa jadi beliau adalah ilmuwan yang ulama yang menjadi penasihat raja. Istana Shirvanshah ini adalah pusat kerajaan Islam, terlihat dari bangunan masjid, makam dan ornamen yang ada di dalamnya.

Selain itu Negara Azerbaijan yang sebelumnya selama di bawah Uni Soviet tidak banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan, sekarang sedang banyak membangun masjid. Penduduk Azerbaijan sebagian besar muslim, meskipun ada juga penduduk yang beragama lain. Namun terlihat tidak ada masalah dengan perbedaan beragama.  Salah satu masjid yang sangat megah adalah masjid Aliyave yang di sekilingnya ditumbuhi pohon buah zaitun yang sangat hijau.

Kota Baku mempunyai catatan kejahatan yang sangat rendah sekali. Infrastruktur yang dibangun meminimalisir kejahatan dilakukan oleh warga. Begitu juga dengan aparat yang memantau keamanan dan melindungi  warga dikerahkan sangat besar.

Laut Kaspia, sisi lain kota Baku

Selain kota tua yang menjadi magnet paling utama, bagi saya, sisi lain dari kota Baku adalah pesisir laut Kaspia. Laut Kaspia bukanlah laut yang sebenarnya, dia adalah danau yang sangat besar. Danau tersebut berada pula di kawasan Iran, Rusia, Kazakhstan dan Turmenistan.

Selain peninggalan abad pertengahan, saya berkesempatan untuk mengunjungi Masjid Heydar Aliyev yang terbilang bangunan baru. Masjid megah itu berada di tengah kota Baku, dikelilingi oleh pohon zaitun yang rindang dan hijau.

Penulis di depan Masjid Heydar Aliyev 

Bagian lain yang harus dikunjungi adalah Heydar Aliyev Center. Bentuk bangunan ini sangat tidak biasa, terdapat lengkungan dan bergelombang. Menurut orang-orang di sana bangunan ini berbentuk tandatangan dari Heydar Aliyev pemimpin Azerbaijan pada masa Uni Soviet dan presiden pertama bagi Azerbaijan setelah merdeka. Nggak lazim kan, tapi keren habis.

Hari terakhir di kota Baku bertepatan dengan peringatan hari Ibu 22 Desember, saya merayakan dengan Duta besar RI untuk Azerbaijan, beserta staf dan beberapa warga Indonesia yang tinggal di kota Baku. Makan tumpeng nasi kuning menjadi jamuan istimewa setelah 5 hari menikmati makanan Eropa.

Tulisan ini merupakan karya Ibu Anggia Ermarini, Ketua Umum PP Fatayat NU

RECOMMENDED FOR YOU