TRAVEL
Padang savana di Pulau RInca
2017-08-29 19:00:00

Kisah Bayi Komodo : Pelajaran Hidup dari Pulau Rinca

BY INDAH WIDIASTUTI

SALIHA.ID - “Lego…Lego…Lego”, teriak nahkoda kapal. Ini pertanda, kami telah tiba di dermaga Loh Buaya, Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur. Sejurus kemudian satu ABK sigap melempar jangkar.

Perpaduan warna coklat, hijau, kuning dan birunya langit berpadu harmonis sejauh mata memandang. Lekukan padang savana membentang luas di pulau ini. Kontur alam inilah yang membedakan Pulau Rinca dengan Pulau Komodo yang didominasi oleh susunan pohon yang lebih rapat.

Melihat keindahan alam, saat itu juga, semua rasa stres dan masalah yang mendera langsung lenyap. Sejenak melangkah keluar dari rutinitas, dapat membuat sudut pandang kita menjadi lebih luas.

Sebelum memulai trekking, petugas memberikan beberapa peringatan selama berada di Pulau Rinca. Satu yang paling terngiang, pantangan menggantungkan kaki selayaknya kita duduk di bangku tinggi saat berada di rumah panggung. Karena terkadang ada komodo yang berada di bawah sana, tanpa disadari. Sepertinya kami akan selalu mengingat pesan itu.

“Kalau kita beruntung, kita bisa lihat bayi komodo di pohon”, jelas salah satu jagawana saat kami memulai trekking menuju sarang komodo. Ya, bayi komodo akan langsung memanjat pohon setelah ia menetas. Dari kecil komodo harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya alam Pulau Rinca dan  menghindari kanibalisme dari komodo dewasa, bahkan dari induknya sendiri.

Sekitar tiga sampai empat tahun mereka akan menyendiri dan menghabiskan waktunya di pohon. Memakan serangga, telur burung dan hewan kecil lainya untuk bertahan hidup. Setelah memiliki panjang 1,2 meter dan mampu bertahan, mereka akan turun dan bersaing dengan komodo yang lebih senior.

Kami tiba di area sarang komodo, terlihat beberapa gundukan di sana-sini. Apakah semua gundukan berisi telur? Sayangnya tidak, biasanya induk komodo hanya meletakkan telur dalam satu liang, lainnya hanya sebagai pengecoh bagi para predator telur seperti komodo dan biawak.

Namun setelah sepuluh menit mengamati pohon di sekitar sarang, kami tidak melihat bayi komodo seekor pun. Ingin rasanya menunggu lebih lama untuk melihat bayi komodo. Tapi kami tidak bisa melakukan hal itu. Karena bukan hanya kami yang tertarik mencari bayi komodo, namun reptil raksasa lainnya pun sering berada di area ini, untuk memburu mereka. Duh.

“Lihat ke atas boleh, tapi jangan lupa lihat ke bawah. Nanti kesandung komodo”, canda Pak Ju, salah satu jagawana, menyadarkan kami. Sebuah joke yang sangat horor saat berada di habitat asli komodo.

Kami pun memutuskan kembali ke pos awal, menyudahi pilihan rute trekking pendek kali ini. Memang, tidak semua yang kita inginkan akan langsung dikabulkan-Nya. Bersabar saja, begitu nasihat para orang tua. Di perjalanan balik, kami cukup terhibur melihat beberapa Burung Gosong sibuk mencari makanan di tanah. Mereka tampak acuh dengan kehadiran kami.

Saat mendekati pos awal, nampak empat orang turis asing serius melihat ke atas. Kami pun mendekat. Ternyata ada seekor bayi komodo. Tak terbayang rasa senangnya. Kami berusaha mengabadikan momen ini. Closing trip yang menyenangkan, pikir kami. Namun, suasana berubah tegang dalam sekejap. Kami segera mundur menjauh dari pohon.

Bayi komodo yang baru lahir memiliki ukuran sekitar 30 cm

Komodo berukuran sekitar 1,5 meter gesit memanjat dan hap! Kami semua tertegun melihat momen langka yang dulu hanya pernah dilihat di tayangan National Geographic atau BBC. Perlahan, hanya bagian ekor dari bayi komodo yang masih dapat kami lihat.

Seketika itu rasanya masalah yang mendera tampak mengecil, tak berarti.

RECOMMENDED FOR YOU