WHAT'S ON
Rusidah, fotografer difable (foto : saliha/Hari Firmanto)
2018-09-20 15:35:00

Rusidah, Fotografer Penerobos Batas

BY MEDIA SARI

SALIHA.ID - Pernikahan merupakan peristiwa bersejarah yang tak mungkin diulang. Nah, bagaimana jika momen tersebut diabadikan oleh seorang fotografer difable? Ragu? Cemas jika hasilnya nanti tidak memuaskan? Boleh jadi kecemasan itu wajar adanya. Tapi kalau difoto oleh fotografer profesional seperti Rusidah, maka dengan cepat keraguan itu akan sirna.

Lihatlah bagaimana Rusidah terampil memainkan kamera, meski hanya dengan separuh lengan. Perempuan kelahiran 3 Agustus 1968 itu membuktikan bahwa kegigihan dan kerja keras dapat menerobos keterbatasannya sebagai seorang difable. Kiprahnya sebagai fotografer telah dimuat di berbagai media massa baik nasional maupun internasional.

foto : saliha/Hari Firmanto

"Walaupun punya kekurangan saya ingin menunjukkan bahwa saya itu mampu. Saya tidak mau kalah dengan orang-orang yang sempurna. Jadi saya tidak diremehkan," sahut perempuan yang lahir tanpa jari tangan tersebut, saat dikunjungi Saliha di kediamannya pada 11 Juli 2018.

Karirnya sebagai fotografer diawali dengan menjadi fotografer keliling. "Saya keliling desa membawa album berisi sampel foto saya yang bagus-bagus. Lalu saya menawarkan ke ibu-ibu sembari membawa seragam anak tentara dan polisi biar mereka tertarik," papar perempuan yang belajar fotografi di Rehabilitasi Centrum (RC) Prof. Soeharso Surakarta pada tahun 1992 tersebut.

foto : saliha/Hari Firmanto

Seiring berjalannya waktu, Rusidah mulai sering diminta memotret mulai dari acara pernikahan, pemerintah kabupaten, dharma wanita, pkk dan sekolah. Perempuan berusia 50 tahun ini juga membuka studio foto mini di rumahnya yang terletak di desa Bayan, Purworejo, Jawa Tengah.

Sebagai fotografer perempuan berkebutuhan khusus, tentunya Rusidah juga pernah mengalami diskriminasi. Bahkan diskriminasi ini terkadang membuatnya gagal mendapatkan orderan. Namun ia tak pernah bersedih karena baginya Allah lah yang mengatur rezeki. 

foto : saliha/Hari Firmanto

"Kalau ada orang yang mau memakai jasa saya terus nggak jadi. Ya sudah saya nggak sedih. Karena saya berprinsip bahwa rezeki itu Allah yang bagi. Mungkin nggak dengan jalan ini, tapi dengan jalan lain," ujar Rusidah yang pernah menghadiri pembukaan pameran fotografi tunggal Ani Yudhoyono pada 2011 silam.

Lebih lanjut ia menceritakan bahwa keberhasilannya dalam meniti karir sebagai fotografer tidak lepas dari dukungan suami dan anaknya. "Dukungan keluarga ya sangat luar biasa. Misalnya saat ada panggilan foto mereka membantu saya untuk membawakan alat-alat. Bahkan saya belajar menggunakan kamera digital dari Nugraha, anak saya," ungkap Rusidah seraya membersihkan kamera.

Rusidah bersama suaminya Suradi (foto : saliha/Hari Firmanto)

Tak hanya memotret, Rusidah juga cekatan mengerjakan pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci piring, menjahit dan membersihkan rumah. Bahkan setiap sore ia membuka warung angkringan di depan rumah bersama sang suami. "Tugas saya berbelanja ke pasar dan memasak, sedangkan suami yang berjualan,"

Terakhir Rusidah berpesan agar para penyandang difable jangan mudah putus asa dan tetap semangat berjuang untuk diri sendiri dan orang lain. "Jika hidup dijalani dengan penuh syukur maka Allah akan menambahkan nikmat yang kita rasakan" ucap Rusidah menutup pembicaraan. 

Terbukti kan sahabat Saliha, bahwa kekurangan tidak membatasi diri kita untuk berkarya dan mandiri. Setuju?!

RECOMMENDED FOR YOU