WHAT'S ON
2018-05-28 15:01:00

Langit Adalah Batasnya, dan Mereka Sukses Melampauinya

BY TIM LIPUTAN

SALIHA.IDSky is the limit – Langit adalah batasnya. Boleh jadi perumpamaan ini relevan diberikan kepada Ghofur. yang kehilangan kedua kaki karena kecelakaan kerja. Semangatnya terus membara. “Saya harus berusaha keras untuk menafkahi istri dan dua anak usia 5 tahun dan 8 bulan,” tegasnya. Dengan keterbatasannya tersebut justru dia terpacu untuk mengembangkan usaha batik yang dikelola bersama teman senasib. Bukan main, saat ini Difabel Blora Mustika (DBM) yang didirikannya sudah beranggotakan 786 orang difabel dan mampu memproduksi batik berskala menengah. Sungguh, Ghofur sukses menembus keterbatasannya !

“Awalnya sempat putus asa karena kehilangan pekerjaan,” ungkap Pria kelahiran Blora 33 tahun lalu ini mengenang. “Saya bingung mau kerja di mana, nggak ada yang mau menerima saya karena saya gak punya kaki,” tuturnya lagi. Semangatnya kembali muncul saat bertemu Kandar yang kedua tangannya juga diamputasi akibat kecelakaan kerja. Kandar yang kini berusia 58 tahun juga harus bekerja serabutan untuk biaya pengobatan diabetes sang istri serta biaya sekolah putrinya.

Akhirnya pada 2011, Ghofur dan Kandar berinisiatif mendirikan UKM Difabel Blora Mustika (DBM) bersama lima orang kerabat mereka yang memiliki kekurangan serupa. DBM menjadi wadah peningkatan kemandirian bagi difabel di Desa Plosorejo, Blora, Jawa Tengah.“Modal awal kami dari iuran anggota dan hanya cukup untuk membeli peralatan batik sederhana,” kata Ghofur.

Inisiatif keduanya semakin dipercaya banyak orang. Kini tercatat 786 orang difabel dalam tergabung dalam UKM DBM. Mereka terdiri dari difabel kusta, tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita, tuna daksa, tuna mental, psikotik, autis, polio, hidrosepolus, dan amputasi.

Selama ini, kegiatan DBM dilakukan di halaman rumah Kandar yang kondisinya jauh dari layak. Kondisi alat produksi yang sudah tidak memadai pun membuat proses produksi sedikit terhambat.DBM menjadi satu-satunya harapan bagi ratusan penderita disabilitas di Blora. Banyak di antara anggota DBM yang menjadi tulang punggung keluarga, namun tidak memiliki kesempatan bekerja karena kondisi mereka.“Kalau lingkungan tidak bisa memberikan kesempatan, kami sendiri yang harus membuat kesempatan itu,” tutur Ghofur.

Guna mendukung kemandirian DBM, NU Care-LAZISNU dan Kawan Baik berinisiatif melakukan penggalangan dana untuk membantu para difabel agar memiliki alat produksi yang lebih memadai. Nama programnya adalah "Waktu Indonesia Berbagi". Ini adalah program untuk mempermudah masyarakat berdonasi dan berbagi di bulan Ramadhan. Melalui program ini, masyarakat diajak untuk melakukan donasi secara mudah, unik, dan menarik dengan membeli batik karya para difabel di Blora melalui Aplikasi Koin NU atau bisa juga dengan transfer via rekening.

Dengan membeli batik difabel melalui Apps Koin NU berarti Anda telah membantu saudara difabel untuk memberdayakan teman difabel lainnya. Saat ini, komunitas difabel binaan NU Care-LAZISNU yang tergabung dalam Difabel Blora Mustika (DBM) beranggotakan sekitar 700an orang. Sahabat Saliha, mereka yang difabel saja mau berbagi dan memberdayakan sesama difabel, masa kita enggak? Ayo, download Apps Koin NU di Google Playstore Anda.

RECOMMENDED FOR YOU