WHAT'S ON
Relaksasi Beragama dalam pameran Bukan Perawan Maria
2017-07-28 16:35:00

Relaksasi Beragama: Bersikap Santai dalam Keberagamaan

BY DINA LATHIFA

"Apakah benar ada ketegangan beragama? Apa yang dimaksud dengan ketegangan?" Pertanyaan kurator Hikmat Darmawan menjadi gong yang membuka workshop Relaksasi Beragama, sebuah pelatihan yang termasuk dalam acara peluncuran buku Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani oleh Pabrikultur, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tanggal 25 Juli 2017. 

Fenomena ketegangan masyarakat terhadap perbedaan, terutama isu SARA, menjadi sebab terlahirnya pelatihan ini. Dibawakan oleh Ferlita Sari, psikolog dan seorang People Development Expert, ia mengajak peserta dan pengunjung pameran yang memiliki latar belakang berbeda untuk bersikap santai dalam berbincang hal yang sensitif.

"Dalam pelatihan ini, kita tidak berbicara agama, tapi bagaimana menyikapi keberagamaan. Ada beberapa skill yang berhasil kami identifikasi sehingga jika dikuasai, dapat menjadi lebih rileks dalam membicang, menyikapi, dan menafsirkan agama," tutur psikolog yang akrab disapa Ferli saat memulai pelatihan yang didukung oleh Yayasan Indonesia Lebih Baik (YILB).

Sebelum mengenali skill yang dibutuhkan, kakak dari Feby Indirani ini mengajak peserta untuk merelaksasi tubuh dan pikiran dengan mendengarkan lantunan musik yang lembut. "Mengapa relaksasi itu penting? Karena pada saat itu, otak mampu berpikir dengan jernih sehingga mampu menunda respon pada suatu hal, termasuk mengenai agama. Dengan begitu, topik berbincang agama bukan jadi hal yang menakutkan," jelasnya.

Ferli kemudian memperkenalkan tiga prinsip dasar yang harus dipahami agar dapat menguasai kemampuan rileks menyikapi keberagaman dalam keberagamaan, yaitu mengingat bahwa agama bukanlah tujuan melainkan alat, mencari persamaan di antara sesama manusia, dan mengutamakan bersikap welas asih daripada ego pribadi.

"Dari tiga prinsip ini, kemudian diturunkan menjadi lima keterampilan utama, yaitu mencari persamaan, menunda respon, menggunakan humor, berargumen dengan welas asih, dan mengganti topik percakapan yang toxic dengan hal baru yang lebih konstruktif," jelas ibu dari tiga anak ini.

Mengusung pelatihan yang aktif, Ferli mengajak peserta untuk berlatih keterampilan mencari persamaan. Ia lantas meminta peserta untuk memilih pasangan diskusi dan membicarakan berbagai topik, seperti keluarga dan mimpi. Sampai akhirnya, psikolog lulusan UI ini meminta peserta untuk bercakap soal yang sensitif, yaitu LGBT.

"Saya merasa rileks saat mengobrol dan mencari persamaan tentang keluarga atau mimpi bersama orang baru. Namun saat berbicara soal isu yang lebih berat seperti LGBT, ada sedikit rasa was-was untuk mendiskusikannya dengan orang yang tidak akrab dengan saya," ungkap Lucya, salah satu peserta pelatihan.

Terbatasnya waktu yang tersedia menjadikan pelatihan pada siang itu hanya bisa menunjukkan salah satu keterampilan, mencari suatu persamaan dalam perbedaan untuk membawa ke situasi yang lebih baik. Tapi, workshop singkat dan peluncuran buku Bukan Perawan Maria menjadi langkah awal Ferli, Feby, dan teman-teman untuk memperkenalkan kampanye mereka, yaitu Relaksasi Beragama.

"Dari relaksasi beragama ini, kami memiliki impian untuk membentuk sebuah movement. Mungkin tidak bisa dinikmati sekarang, tapi anak dan cucu generasi mendatang akan merasakan hasil dari pergerakan ini," ujar Ferli menutup pelatihan ini.

Dulu kita pernah sangat rileks beragama, namun sekarang banyak orang kehilangan perasaan itu.

RECOMMENDED FOR YOU