WHAT'S ON
Pemakaman korban penyerangan masjid Al-Raqdah, Mesir. (foto: shutterstock)
2017-12-05 16:00:00

7 Pertanyaan (dan Jawaban) Tentang Penyerangan Masjid di Mesir

BY DEE

SALIHA.ID - Pada hari Jumat, 24 November 2017, terjadi penyerangan di masjid Al-Raqdah, kota Bir al-Abed, Mesir. Setidaknya, 305 kaum laki-laki dan anak-anak yang sedang menunaikan ibadah salat Jumat terbunuh terkena terjangan peluru panas. Inilah beberapa pertanyaan yang mungkin muncul di benak sahabat tentang serangan mengerikan ini.

Apa yang terjadi?

Pada tanggal 24 November, lebih dari dua lusin pria bersenjata dengan lima kendaraan menyerbu masjid pada saat salat Jumat. Mereka meledakkan bom dan menghujani jamaah dengan senjata api. Mereka juga bersiaga di luar masjid, sehingga siapa pun yang melarikan diri akan langsung diterjang dengan peluru panas. Mobil yang parkir juga dibakar sehingga tidak dapat digunakan untuk kabur.

Imam masjid yang menolak untuk berbicara tentang jihad dapat selamat dengan bersembunyi di bawah jenazah jamaah dan pura-pura mati. Setelah menembaki masjid, mereka menuju rumah-rumah yang ada di sekitar masjid dan membunuhi siapa pun yang mereka temui. Ambulan yang datang ke lokasi juga ditembaki.

Seburuk apa serangan ini?

Serangan ini merupakan yang terburuk dalam sejarah Mesir modern.  Tidak pernah sebelumnya terjadi, sebuah masjid diserang pada saat jamaah tengah beribadah. Penyerangan ini juga tidak umum karena serangan tersebut sengaja memastikan agar banyak jamaah yang terbunuh.

Benarkah yang diserang adalah Masjid Sufi?

Masjid al-Raqdah memang dianggap pusat penganut Sufi, tetapi banyak yang meninggal adalah umat Islam biasa, termasuk pekerja dari pabrik garam yang ada di dekat masjid.

Menurut Sahar Aziz dari Rutgers Law school, Sufi adalah minoritas di Mesir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang salat Jumat saat itu adalah umat Islam Mesir biasa, termasuk di dalamnya kaum Sunni dan Sufi.

Siapa yang melakukan pembantaian?

Belum ada klaim siapa yang bertanggung jawab atas serangan di masjid yang terletak di Semenanjung Sinai tersebut. Menurut Ahmed Ban, pakar Mesir di bidang kelompok ekstremis, pelakunya adalah dari faksi Hazimiyoun untuk menunjukkan bahwa mereka tidak ‘lemah’. Namun  sebenarnya sulit untuk memastikan siapa pihak yang bertanggung jawab.

Apakah alasan pembantaian?

Sebagian pakar menyebutkan bahwa serangan itu dilakukan karena kaum Sufi dianggap melakukan bid’ah. Menurut Sheikh Mohamed al-Jawish, kurang dari sebulan sebelum serangan, mereka telah mendapat peringatan untuk tidak melaksanakan Maulid Nabi. Selain itu, setahun yang lalu, seorang pemuka Sufi berusia 100 tahun dibunuh oleh kaum ekstremis.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan balasan karena kota tersebut selalu bekerja sama dengan pemerintah setempat dalam melawan kaum militan.

“Saya yakin ini tindakan balas dendam,” kata Gazy Saad, anggota parlemen dari Sinai Utara, setelah penyerangan. “Ini bukan sekadar sufisme. Mereka jelas-jelas mengirimkan pesan.”

Kota tersebut, Bir al-Abed, memang dikenal sebagai kota yang pro pemerintah. Beberapa kali penduduk setempat menangkap orang yang dianggap sebagai pendukung ISIS dan menyerahkannya ke militer setempat.

Beberapa pakar menyebutkan bahwa serangan ini dilakukan ISIS yang merasa perlu memamerkan taring mereka untuk menunjukkan keberadaan mereka bahkan setelah kehilangan daerah kekuasaan di Syria dan Iraq.

Adakah unsur politik dalam serangan ini?

Pakar berpendapat bahwa serangan sufi ini merupakan cara untuk memperlemah kekuasaan Abdel Fattah el-Sisi, presiden Mesir. Ia berjanji untuk melindungi kaum minoritas. Seperti di berbagai negara muslim lainnya, Sufi cenderung mendapat dukungan pemerintah karena mereka tidak menyulitkan. Pemuka Sufi juga umumnya mendukung pemerintah.

Apa dampak serangan ini?

Menurut Fawaz Gerges, dosen dan pengamat grup ektremis di London School of Economics, serangan ini akan meningkatkan tensi kekerasan di Mesir. Setelah serangan, Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi memerintahkan kekuatan militer untuk menghancurkan kaum militan dalam waktu tiga bulan.

Tindakan ini juga membuat marah suku Sawarkah, sebuah suku yang berpengaruh besar di Sinai. Banyak pemimpin suku yang meminta pemerintah untuk mempersenjatai mereka agar dapat membantu melawan ISIS, namun hal ini ditolak oleh pemerintah. 

Gerges yakin bahwa pada akhirnya pemerintah Mesir akan menang, namun berapa lama dan berapa harga yang harus dibayar oleh Mesir, ia tidak tahu.