WHAT'S ON
Penangguhan oleh IDI, Dokter Terawan Masih Berpraktik Sebagai Dokter
2018-04-09 19:15:00

Penangguhan oleh IDI, Dokter Terawan Masih Berpraktik Sebagai Dokter

BY DINA LATHIFA

SALIHA.ID - "Melalui jumpa pers pada hari Senin, 9 April 2018 ini, Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia menyatakan menunda pelaksanaan putusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) karena keadaan tertentu. Karena itu, dokter berinisial TAP masih berstatus anggota IDI," ujar Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, Sp. OG, saat ditemui di kantor PB IDI, Jakarta, (9/4).

Pernyataan ini dikeluarkan oleh pihak IDI terkait pemberitaan yang beredar di masyarakat Indonesia kalau dokter yang menjabat sebagai kepala RSPAD Gatot Soebroto telah diberhentikan dari profesinya. Kabar pemberhentian itu karena penemuan dokter Terawan berupa terapi cuci otak untuk mengobati pasien stroke iskemik.

"Keputusan MKEK soal pemecatan dokter TAP yang bocor ke masyarakat ini menimbulkan keresahan dan berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan dokter. Kami sangat menyayangkan kejadian ini," lanjutnya.

Seperti yang sahabat Saliha diketahui, praktik cuci otak dokter Terawan adalah sebuah metode penyembuhan penyakit stroke iskemik dengan menyemprotkan heparin ke pembuluh nadi pada otak menggunakan Digital Subtraction Angiography (DSA). Pada bidang neurologi, DSA sebenarnya digunakan untuk membantu diagnosis penyakit, bukan sebagai alat penyembuhan. Karena itu, para ahli menganggap bahwa tindakan yang dilakukan oleh dokter Terawan sejak tahun 2004 ini sudah menyalahi prinsip ilmiah dan dapat membahayakan pasien.

Melansir dari berbagai sumber, dokter Terawan telah melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia, yaitu pasal 4 yang berbunyi, "Dilarang memuji diri sendiri" dan pasal 6 yang berbunyi "Wajib berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan penemuan teknik/pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya".

“Ada proses yang perlu kami lalui untuk mengusut kejadian ini (praktik cuci otak). Kami tidak bisa sembarangan menimbang. Juga, perlu diingat bahwa IDI hanya mengurus pada ranah etika. Di luar dari itu, kami tidak memiliki wewenang,” tegas Ketua Umum PB IDI.

Pada tanggal 6 April 2018 lalu, PB IDI pun telah melaksanakan forum pembelaan pada pria bernama lengkap Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad. Ini dilakukan berdasarkan ART IDI pasal 8 terkait hak pembelaan anggota.

Tidak hanya itu, Majelis Pimpinan Pusat (MPP) merekomendasikan penilaian terhadap tindakan terapi cuci otak dokter Terawan ini dilakukan oleh tim Health Technology Assesement (HTA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

RECOMMENDED FOR YOU