WHAT'S ON
2017-12-03 10:00:00

Film Maker Muslim, Berdakwah Lewat Film Komunitas

BY TIM EDITOR

SALIHA.ID - Angga termasuk tipe yang sulit sekali bangun pagi. Bahkan hampir setiap hari dia melewatkan sholat subuhnya. Karena hal itulah, Angga diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya. Dia merasa amat kecewa. Tetapi, dari situ Angga mulai berjuang untuk melaksanakan solat subuh tepat waktu. Dia pun kerap meminta bantuan teman sekosnya untuk membangunkannya setiap adzan subuh. 

Kisah Angga tersebut merupakan sekilas cuplikan dalam film pendek berjudul ‘Cinta Subuh’. Film berdurasi selama 15 menit tersebut merupakan garapan Film Maker Muslim (FMM). Sebuah komunitas yang berfokus pada produksi film pendek serta video. Cinta Subuh adalah film pertama kali yang digarap oleh mereka. Kini, telah 1,5 jutaan kali orang yang menontonnya di media Youtube. 

Komunitas yang berpusat di kota Tangerang tersebut terbentuk sejak 2012. Pada saat itu namanya masih WANT Production. Lalu, 2014 mereka berhijrah menjadi nama Film Maker Muslim. Pergantian nama tersebut seiring dengan lahirnya film Cinta Subuh. 

Muhammad Amrul Umami yang berperan sebagai director di Film Maker Muslim, mengakui awalnya mereka belum tertarik untuk terjun dalam penggarapan film bergenre Islami. Namun, suatu kali mereka mengalami kejadian yang membuat mereka merasa ‘tertampar’. Lantas, pada saat itu, para kru merasa diingatkan oleh Allah ta’ala. “Akhirnya kami meyakini bahwa jalan ini dengan genre film Islami kami bisa memberikan inspirasi,” tutur Amrul melalui wawancara surat elektronik.

Komunitas FMM (Film Maker Muslim)

Film Cinta Subuh sendiri merupakan film yang pertama kali dibuat oleh komunitas FMM. Mereka mendapatkan inspirasi tersebut dari kehidupan sehari-hari. Menurut Amrul, masih banyak pemuda yang lalai melaksanakan solat subuh tepat waktu. Sebab, waktu subuh merupakan waktu solat yang paling berat, di saat semua orang masih berjibaku dengan selimut mereka. Mereka pun memutuskan untuk berdakwah lewat film. 

Sejak film Cinta Subuh pertama kali diluncurkan di Youtube, Amrul mengungkapkan penonton ternyata antusias.

“Waktu dilaunching kami tidak menyangka ternyata banyak yang merespon positif,” ujar Amrul.

Dalam film itu tim utamanya adalah Amrul Ummami sebagai sutradara, Ali Ghifar sebagai penulis, Andre Addin sebagai produser dan Ryan Kurniawan sebagai cinematographer. Sementara itu, pemerannya dimainkan oleh Andre Addin, Hidayatur Rahmi, Bismo Satrio, dan Yadi Guccy. 

Respon yang positif itu membangkitkan gairah komunitas FMM untuk terus menghasilkan karya film lain. Kini, sudah puluhan film pendek yang telah dibuat dan diluncurkan di Youtube seperti beberapa judul film pendek yang berjudul Istri Paruh Waktu, Shalawat Cinta, Valentine Sudah Basi, Web Series Ramadhan Cantik, Seperti Khadijah, Siksa Kubur, dan masih banyak yang lainnya. Mereka juga telah membuat film layar lebar berjudul Mengejar Halal yang telah dirilis pada April lalu. Dan yang baru-baru ini tayang film pendek series Cinta Fisabilillah. 

Film-film yang digarap FMM tidak melulu bertema cinta dan religi. Beberapa film mereka ada pula yang bertema universal, seperti bagaimana menghargai perbedaan dalam video singkat berjudul ‘Diversity’. Dalam video berdurasi tiga menit tersebut dikisahkan seorang ibu dari kalangan nonmuslim sedang berjalan-jalan di taman bersama anaknya.

Mereka berpapasan dengan seorang perempuan berhijab tapi sang ibu memalingkan wajah dan bersikap antipasti. Selang beberapa menit putri sang ibu menghilang. Namun akhirnya anaknya ditemukan oleh perempuan berhijab.

Di akhir cerita mereka saling tersenyum dan berpelukan. Pesan-pesan yang dibawa dalam film-film garapan FMM menyadarkan pentingnya menghargai perbedaan. Tidak penting lagi memandang latar belakang orang tersebut.

Berdakwah lewat film tentu bukan hal mudah. Amrul mengakui, membuat film bergenre religi merupakan tantangan tersendiri. “membuat film religi tidak melulu ada orang lagi mengajinya. Kita tetap menyampaikan nilai-nilai islami tetapi dengan cerita yang menghibur dan bisa diterima seluruh orang, baik islam maupun non islam,” katanya. Bahkan, beberapa pemain dalam film-film besutan FMM ada yang nonmuslim. 

Selain itu, mereka sempat mengalami kendala dalam memproduksi film pertama mereka. Yakni masalah dana. “Dulu awal-awal kami patungan dengan kru,” kenang Amrul. Kini, karena sudah banyak film yang diproduksi, komunitas FMM bekerja sama dengan beberapa pihak sponsorship dan mendapatkan bantuan dari beberapa donatur.  

Komunitas ini sekarang semakin berkembang. Tidak hanya berada di kota Tangerang tetapi sudah menyebar hingga Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Bandung, Semarang, Jogja, Malang, Bali, Palembang, Makassar, Medan, Surabaya dan Karawang. “Kami berharap komunitas ini lebih besar lagi dan bisa mengayomi banyak orang kreatif,” tutur Amrul.

Mereka kini telah memiliki subscriber di Youtube mencapai 174,968 orang. Jika di kotamu ingin membentuk komunitas pembuat film pendek islami seperti ini, maka informasi mereka bisa dilihat melalui Twitter dan Instagram mereka: @filmmakermuslim. 

Artikel dan foto dalam laman ini merupakan kontribusi dari Zahra Firdausiah, Malang. Zahra adalah lulusan Universitas Brawijaya dan menjadi kontributor di sejumlah media online. Kunjungi blognya: www.zahrafirda.com .

RECOMMENDED FOR YOU