WHAT'S ON
Marak Kasus Kekerasan Perempuan, Cermin Rendahnya Kesetaraan Gender di Indonesia
2018-02-23 19:19:00

Marak Kasus Kekerasan Perempuan, Cermin Rendahnya Kesetaraan Gender

BY DINA LATHIFA

SALIHA.ID - "Gender bukan tentang perempuan dan laki-laki. Gender adalah relasi untuk berbagi peran dan tanggung jawab antara keduanya," ujar Ratna Susianawati, Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Hidup, Kementerian PP dan PA.

Permasalahan gender masih kental dirasakan di Indonesia. Hal itu ditandai dengan banyaknya kasus kekerasan dan kematian dengan korbannya adalah perempuan. Mulai dari kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), angka kematian ibu dan anak, bahkan kesenjangan dalam dunia kerja maupun lingkungan sosial lainnya. Kasus-kasus yang terus dikabarkan media setiap harinya itu menjadi penanda jika kesadaran masyarakat akan kesetaraan gender masih lemah.

"Karena itu, pemerintah mengeluarkan pengarusutamaan gender (PUG) sebagai sebuah strategi untuk meminimalisir kasus-kasus itu yang mencerminkan kesenjangan gender. Tidak hanya untuk perempuan, kok. Jika memang kasus ini terjadi pada laki-laki, juga akan menjadi perhatian kami. Namun saat ini karena perempuan adalah kalangan yang tertinggal, maka pemerintah sedang berpusat pada mereka," tuturnya saat ditemui di Media Center Kementerian PP dan PA, 23 Februari.

Melalui strategi itu, pihak pemerintah akan menilik dari segi, akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat. Beliau mencontohkan jika menimbang dari akses, apa perempuan di desa memiliki akses mudah ke tempat kerja maupun ke layanan kesehatan?

"Misalnya ia pulang malam, dengan kondisi penerangan yang sedikit, maka meningkatkan risiko terjadinya kasus pemerkosaan. Tandanya, peristiwa ini membutuhkan dukungan dari kementerian perhubungan dan pekerjaan umum. Bukan hanya menjadi urusan satu pihak saja," jelasnya.

Sinergi berbagai pihak, juga keluarga dan masyarakat, dapat membantu mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesetaraan gender, yang kemudian berdampak baik untuk pembangunan negeri.

“Sebanyak 49,9% masyarakat Indonesia adalah perempuan. Jika semuanya mendapatkan kehidupan yang layak dan turut memainkan peran dalam berbagai aspek, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negeri hebat.”

“Namun saya perlu menekankan kalau kesetaraan gender di Indonesia tidak seperti di luar negeri. Melainkan mengikuti kodrat dan norma yang diyakini di Indonesia. Pemerintah hanya ingin memastikan kalau perempuan dapat turut serta membangun negeri,” ujar beliau mengakhiri wawancara.

 

RECOMMENDED FOR YOU